TRIBUNNEWS.COM - Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan disiapkan pemerintah sebagai hub strategis penerbangan internasional di kawasan Indonesia Timur.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas udara nasional.
Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Presiden Prabowo Subianto menyatakan penguatan konektivitas dan keselamatan transportasi nasional menjadi salah satu fokus dalam pengembangan infrastruktur transportasi.
Upaya tersebut mencakup sektor darat, laut, udara, hingga perkeretaapian.
Pada sektor penerbangan, pemerintah menjalankan program penerbangan perintis untuk menjangkau wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.
Kementerian Perhubungan mencatat terdapat 266 rute perintis penumpang, 46 rute perintis kargo, serta satu rute subsidi udara kargo yang masih beroperasi.
Pemerintah juga melakukan penataan status bandara internasional melalui Keputusan Menteri Nomor 31 Tahun 2024 tentang Penetapan Bandar Udara Internasional yang ditetapkan pada 2 April 2024.
Melalui aturan tersebut, jumlah bandara berstatus internasional dikurangi dari 34 menjadi 17 bandara.
Kebijakan tersebut dilakukan karena sejumlah bandara dinilai belum melayani penerbangan internasional secara optimal dan sebagian besar hanya melayani rute terbatas ke negara tertentu.
Di tengah upaya pemerintah mengevaluasi konektivitas udara dan optimalisasi bandara internasional, Smartrie Group melalui PT Surya Semesta Aviasi (SSA) menyatakan terlibat dalam pengembangan penerbangan internasional di Indonesia.
Founder Smartrie Group, Fiane Janne Sanger, mengatakan pihaknya mendukung pengembangan akses penerbangan internasional dan konektivitas udara nasional.
“Kami mendukung visi pemerintah dalam meningkatkan akses penerbangan internasional, pertumbuhan ekonomi daerah, pariwisata religi, dan konektivitas global Indonesia,” ujar Fiane Janne Sanger, Sabtu (9/5/2026).
SSA diketahui telah melakukan penerbangan uji coba dan operasional awal maskapai Flyadeal melalui Kota Makassar pada November tahun lalu.
Pengembangan tersebut berkaitan dengan penguatan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai salah satu pusat penerbangan internasional di kawasan Indonesia Timur.
Pada 7 Mei 2026, SSA juga melakukan pertemuan dengan Direktorat Transportasi guna melaporkan perkembangan pengembangan operasional Flyadeal di Indonesia.
Dalam pertemuan itu, perusahaan menyampaikan perkembangan proyek, koordinasi operasional, serta sejumlah kendala yang dihadapi selama proses pengembangan.
“Kami mendukung konektivitas penerbangan internasional Indonesia secara sehat, profesional, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” lanjut Fiane.
SSA menyebut koordinasi operasional dilakukan dengan mengikuti ketentuan regulator dan regulasi penerbangan yang berlaku di Indonesia.
Baca juga: Bandara Sultan Hasanuddin Resmi Jadi Bandara Pertama yang Melayani Maskapai Flyadeal di Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin akan membawa perubahan besar terhadap kapasitas dan pelayanan bandara yang selama ini menjadi salah satu pintu utama transportasi udara di Indonesia Timur.
“Ini akan bertransformasi menjadi bandara yang semakin modern, semakin besar. Kapasitasnya dari 7 juta, sekitar 7 juta, menjadi 15 jutaan. Ini adalah peningkatan yang signifikan — passengers per tahun ya, sekitar 15 jutaan,” ungkapnya.
AHY menilai Makassar selama ini telah berperan sebagai kota penghubung untuk wilayah Sulawesi dan kawasan Indonesia Timur.
Karena itu, pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin dinilai penting untuk memperkuat konektivitas penerbangan regional.
“Sehingga Bandar Udara Hasanuddin ini bisa semakin baik untuk menjadi hub untuk penerbangan Indonesia Timur. Kita tahu selama ini Makassar memang telah menjadi kota penghubung, bukan hanya untuk wilayah Sulawesi, tapi juga kawasan Indonesia Timur,” kata AHY.
AHY menegaskan pembangunan infrastruktur dan penguatan konektivitas menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pada akhirnya, konektivitas yang terus diperkuat akan membuat Indonesia bisa bertransformasi secara ekonomi dan pada akhirnya untuk kesejahteraan masyarakat kita. Sukses semuanya,” pungkas AHY.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pengembangan konektivitas transportasi dinilai memiliki dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan wilayah.
"Konektivitas dan keselamatan pada sektor transportasi memiliki efek ganda yang besar bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, terbukanya peluang usaha, serta berkurangnya kesenjangan antarwilayah,” ujar Dudy.
Menurut Kementerian Perhubungan, pemerintah juga menjalankan subsidi angkutan darat, layanan penyeberangan, dan modernisasi transportasi perkotaan.
Program layanan perintis disebut telah menjangkau sekitar 75 daerah terpencil dan wilayah perbatasan.
Hasil survei triwulan kedua per Juni 2025 menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan transportasi darat mencapai 96,01 persen.
Selain itu, pemerintah tengah mengevaluasi sejumlah bandara yang dinilai belum beroperasi optimal.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan evaluasi dilakukan untuk mendorong pemanfaatan infrastruktur transportasi secara lebih maksimal.
Beberapa bandara yang masuk dalam evaluasi antara lain Bandara Kertajati, Bandara Ngloram, Bandara Jenderal Soedirman, dan Bandara Dhoho.
“Bandara yang belum beroperasi optimal diminta segera dimanfaatkan agar mampu mendorong produktivitas daerah,” ujar AHY.
Menurut AHY, pengembangan bandara perlu diintegrasikan dengan aktivitas ekonomi, logistik, industri, dan pariwisata di daerah sekitar.
Salah satu rencana yang disiapkan ialah pengembangan Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati sebagai pusat industri dirgantara melalui kerja sama dengan Garuda Maintenance Facility.
Optimalisasi bandara tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi daerah, sektor pariwisata, serta industri penerbangan nasional.