TRIBUNGAYO.COM - Sering sekali cuaca panas terik di siang hari namun mendadak berubah hujan di sore hari.
Meski secara kalender Indonesia seharusnya mulai memasuki masa transisi menuju musim kemarau.
Tetapi kondisi di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks dan kontras.
Berdasarkan data cuaca satelit, BMKG mencatat adanya penguatan Monsun Australia massa udara kering dan dingin yang biasanya menandakan dimulainya musim kemarau di sebagian besar wilayah selatan khatulistiwa.
Namun, alih-alih cuaca cerah yang stabil, masyarakat di beberapa daerah justru diguyur hujan dengan intensitas kategori lebat hingga ekstrem.
Dilansir dari Kompas TV, Sabtu (9/5/2026) pada periode 4 hingga 6 Mei 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0°C hingga 37,1°C tercatat di beberapa daerah.
Seperti Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Sumatera Utara.
Tingginya suhu udara tersebut memicu pola konvektivitas atmosfer yang cukup signifikan.
Akibatnya, pertumbuhan awan hujan meningkat pada sore hingga malam hari meskipun sejumlah wilayah mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.
BMKG juga mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem masih terjadi pada periode yang sama.
Curah hujan tertinggi tercatat di Jawa Barat mencapai 159 mm per hari.
Selain itu, hujan ekstrem juga terjadi di Kalimantan Barat sebesar 131,8 mm per hari, Banten sebesar 129,0 mm per hari.
Kemudian Sulawesi Tenggara sebesar 129,8 mm per hari, serta Jawa Tengah sebesar 120,0 mm per hari.
Wilayah lain yang turut mengalami hujan lebat meliputi DKI Jakarta, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.
Menurut BMKG, kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah fenomena atmosfer global dan regional.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) terpantau aktif secara bersamaan.
Selain itu, keberadaan Siklon Tropis Hagupit di utara Papua turut memperkuat potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam sepekan ke depan, Monsun Australia diprakirakan semakin menguat.
Dominasi angin timuran diprediksi membawa massa udara dengan kandungan uap air lebih rendah dari Australia menuju Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa beberapa wilayah mulai memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Meski demikian, BMKG menilai potensi hujan masih tetap tinggi di sejumlah daerah akibat fenomena atmosfer tropis yang masih aktif.
MJO diperkirakan berada pada fase 2 dan bergerak menuju fase 3 di wilayah Samudra Hindia.
Aktivitasnya diprediksi memengaruhi sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di pesisir timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.
Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di sebagian wilayah NTT, Sulawesi bagian selatan, Maluku, dan pesisir barat Papua.
Selain faktor global tersebut, aktivitas Siklon Tropis Hagupit diprediksi masih memengaruhi cuaca Indonesia dalam 48 jam ke depan.
Siklon ini diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot dan tekanan udara minimum 1000 hPa, serta bergerak ke arah barat di sekitar Samudra Pasifik utara Papua Nugini.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Terutama hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada sore hingga malam hari, meskipun cuaca panas masih dominan terjadi pada siang hari. (*)
Baca juga: Prakiraan Cuaca Aceh Tenggara Besok 10 Mei 2026: Hujan Ringan di Semua Kecamatan
Baca juga: Prakiraan Cuaca Aceh Tengah Besok 10 Mei 2026: Hujan Ringan Merata