Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Memasuki hari pembukaan Kejuaraan Sepak Bola Liga Kampung Soekarno Cup III 2026 Provinsi Bali, panitia penyelenggara memberikan atensi khusus pada aspek kedisiplinan pemain di lapangan.
Belajar dari insiden kericuhan yang sempat mewarnai partai final Liga Kampung tingkat nasional di Bali beberapa waktu lalu, sportivitas kini diposisikan sebagai variabel utama penilaian mentalitas juara.
Ketua Panitia Liga Kampung Soekarno Cup III Bali, I Wayan Adi Arnawa, menegaskan bahwa esensi dari turnamen ini bukan sekadar berebut piala, melainkan membangun budaya saling menghargai antarsesama atlet muda Bali.
Ia meminta para pemain untuk tidak terpancing emosi yang dapat merugikan citra olahraga daerah, berkaca pada dinamika kompetisi sebelumnya yang sempat memanas.
Baca juga: Tantang Pemain Main "Patah-Patah", Komarudin Watubun Targetkan Bali Rebut Piala Soekarno Cup
"Sebenarnya apa yang saya sampaikan di akhir laporan saya selaku Ketua Panitia kan sudah jelas. Saya menyampaikan bahwa agar tim nantinya tetap menjunjung tinggi sportivitas dan tunjukkan mental juara," tegas Adi Arnawa saat memberikan keterangan pers di Stadion Ngurah Rai, pada Sabtu 9 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa kedewasaan dalam menerima hasil pertandingan adalah ciri atlet yang berkualitas.
"Artinya bahwa dalam hal ini siapapun yang menang kita harus hormati," tuturnya.
"Dan saya kira kalau memang tahun ini belum mendapat kesempatan, mudah-mudahan di tahun berikutnya dengan meningkatkan pembinaan latihan akan bisa punya peluang untuk menjadi juara," imbuhnya.
Penekanan terhadap sportivitas ini juga sejalan dengan arahan Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun. Dalam pembukaan tersebut, Komarudin mengingatkan para pemain agar tidak ada lagi perkelahian antarsaudara di tengah lapangan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga: Liga Kampung Soekarno Cup III Resmi Bergulir, Wadah Talenta Non-Profesional Bali
Meskipun ia menantang para pemain untuk tampil habis-habisan atau "patah-patah", hal itu harus tetap dalam koridor aturan main yang bermartabat.
Baginya, turnamen ini adalah momentum untuk melahirkan "Soekarno-Soekarno Muda" yang tangguh namun tetap menjunjung tinggi persaudaraan.
Kejuaraan yang diikuti oleh perwakilan sembilan kabupaten/kota se-Bali ini akan berlangsung maraton hingga 23 Mei 2026.
Sembilan tim dari Denpasar, Badung, Gianyar, Klungkung, Bangli, Buleleng, Karangasem, Tabanan, dan Jembrana akan memperebutkan total beasiswa pembinaan sebesar Rp 117.500.000.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kedisiplinan, panitia juga menyediakan kategori khusus tim fair play dengan ganjaran beasiswa senilai Rp 5 juta.
Dengan pengawasan dari wasit berlisensi provinsi dan semangat gotong royong, panitia berharap Liga Kampung tahun ini menjadi standar baru kompetisi yang bersih dan inspiratif. (*)