BANJARMASINPOST.CO.ID - Viral di media sosial video memperlihatkan fenomena perairan Sungai Barito yang terbelah dari atas Jembatan Berangas, Handil Bakti, Barito Kuala.
Tampak permukaan air yang terbagi menjadi dua yakni keruh dan jernih.
Dilansir melalui unggahan akun Instagram @info_banjarmasin, fenomena tersebut terjadi pada Sabtu (9/5/2026).
Dalam unggahan video yang dibagikan warga terlihat permukaan air di perairan Sungai Barito yang terbagi menjadi dua sisi.
Baca juga: Pejabat hingga Kepala Desa di Tapin Ikut Retreat di Jatinangor, Foto Bareng Berseragam Loreng
Baca juga: Terungkap Mengapa Perusahaan Ramai-ramai Pecat Gen Z, Profesor Singgung Karakter yang Sulit Diterima
Pada permukaan air yang mengarah ke laut tampak keruh dan berwarna coklat pekat bercampur lumpur.
Sementara permukaan air yang mengarah ke pesisir cenderung jernih kehijauan.
Fenomena permukaan air yang terbelah menjadi dua ini pun sontak menarik perhatian warga.
“Fenomena air sungai terbelah antara keruh dan jernih di perairan sungai barito
Lokasi Jembatan berangas,” terang unggahan tersebut.
Meski terbelah menjadi dua sisi, permukaan air di Sungai Barito tampak tenang dan masih dilalui beragam kendaraan air seperti kelotok maupun kapal tongkang.
Sementara fenomena air sungai yang tampak terbelah menjadi dua ini diperkirakan merupakan fenomena haloklin.
Fenomena alam ini biasa terjadi saat pertemuan dua massa air dengan tingkat salinitas (kandungan garam) yang berbeda, sehingga air tidak langsung bercampur.
Secara visual, haloklin dapat terlihat seperti garis batas yang jelas atau dinding tipis, bahkan menyerupai lapisan kaca atau distorsi yang berkilauan di bawah air.
Air dengan salinitas lebih tinggi memiliki massa jenis (densitas) lebih besar, sehingga sering berada di bawah air dengan salinitas lebih rendah.
Secara Umum fenomena haloklin ditemukan di muara sungai, gua tepi laut (seperti cenote di Meksiko), fjord, dan pertemuan dua laut atau samudra yang berbeda karakteristiknya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Syamsudin Noor menjelaskan terkait fenomena awan berwarna pelangi yang sempat terlihat di langit kawasan Banjarmasin belum lama tadi.
Kepala Stamet Syamsudin Noor, Ota Welly Jenny Thalo, fenomena yang terjadi itu disebut cloud iridescence atau yang dikenal sebagai awan iridescent atau awan berwarna pelangi.
Kepala Stamet Syamsudin Noor juga memastikan bahwa fenomena ini tidak berbahaya dan murni merupakan proses optik alami di atmosfer.
Lanjut Ota, fenomena ini terjadi ketika sinar matahari mengenai awan yang terdiri dari tetesan air atau kristal es berukuran sangat kecil dan relatif seragam.
Baca juga: Murid SD Meninggal Dunia Usai Makan Mie Instan Pedas dan Minum Soda di Sekolah, Polres Ungkap Fakta
Proses ini menyebabkan panjang gelombang cahaya terpisah dan menghasilkan spektrum warna seperti pelangi yang tampak pada bagian tepi awan.
“Fenomena ini umumnya muncul pada jenis awan tipis seperti altocumulus atau cirrocumulus, terutama ketika posisi matahari berada di belakang atau sedikit tertutup oleh awan tersebut. Oleh karena itu, cloud iridescence sering terlihat pada waktu pagi atau sore hari, ketika sudut datang cahaya matahari lebih rendah dan kondisi atmosfer memungkinkan terjadinya difraksi secara optimal,” jelasnya.
Sebelumnya, viral di media sosial kemunculan fenomena awan pelangi atau iridesensi awan di langit Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kemunculan fenomena iridesensi awan ini pun menimbulkan kekaguman lantaran kecantikan warnanya yang menyerupai pelangi.l pada Senin (4/5/2026) pada waktu sore hari.
Dalam unggahan video terlihat kemunculan awan yang berwarna warni diantaranya merah muda, hijau, kuning, hingga ungu yang saling bercampur bak pelangi. (Banjarmasinpost.co.id/Danti Ayu)