Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto
POS-KUPANG.COM, MAUMERE- Situasi di Adonara kembali memanas dimana terjadi konflik susulan antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak dan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu tanggal 9 Mei 2026 sekitar pukul 16.30 Wita.
Informasi yang dihimpun media ini dari sumber terpercaya, sebelum terjadinya konflik antar kampung, pada pukul 12.10 Wita, di Pos Lewonara tepatnya di bagian belakang pos tempat anggota melaksanakan pengamanan, terjadi ledakan bom rakitan sebanyak 3 (tiga) kali.
Pasca kejadian tersebut, sejumlah masyarakat dari Lewonara melakukan provokasi dengan menuduh anggota yang bertugas membiarkan warga dari Dusun Bele menyembunyikan bom rakitan di belakang pos pengamanan.
Massa dari Lewonara juga sempat melontarkan kata-kata bernada emosi serta memarahi anggota yang bertugas di pos dengan menyampaikan agar anggota tidak lagi melaksanakan penjagaan di lokasi tersebut dan mempertanyakan tugas anggota di lapangan.
Baca juga: Pemerintah Flores Timur Lakukan Mediasi Terpisah Pasca Bentrok Warga di Adonara Timur
Namun demikian, personel yang bertugas tidak terpancing provokasi dan tetap melaksanakan patroli serta penjagaan sesuai SOP pengamanan.
Sekitar pukul 16.15 Wita, aparat keamanan memperoleh informasi adanya konsentrasi massa dari Desa Narasaosina yang mulai berkumpul di sekitar Gapura Desa Narasaosina dengan jumlah sekitar kurang lebih 100 orang.
Massa tersebut kemudian bergerak menuju Jalan Trans Adonara sambil membawa berbagai alat berupa senjata rakitan, senjata tajam, anak panah serta beberapa bom rakitan.
Setibanya di lokasi perbatasan, kelompok massa dari Desa Narasaosina melakukan penyerangan ke arah warga Dusun Bele, Desa Waiburak, yang kemudian dibalas oleh warga setempat sehingga terjadi aksi saling serang antar kedua kelompok warga.
Baca juga: Brimob Kawal Pelajar Ke Sekolah Pasca Bentrok Perebutan Tanah di Pulau Adonara
Situasi konflik semakin meluas di sepanjang Jalan Trans Adonara dan menyebabkan masyarakat sekitar panik serta meninggalkan lokasi untuk menyelamatkan diri.
Personel gabungan dari BKO Polres Flores Timur, Polsek Adonara Timur, personel Brimob dan TNI yang sedang melaksanakan pengamanan di wilayah konflik segera bergerak melakukan tindakan pengendalian massa dan upaya pemisahan terhadap kedua kelompok warga yang bertikai.
Dalam insiden tersebut, massa dari Desa Narasaosina diduga melakukan pembakaran terhadap 9 (sembilan) unit rumah milik warga Dusun Bele, Desa Waiburak, yang mengakibatkan kerugian material cukup besar.
Aparat gabungan kemudian melakukan penyekatan dan penghalauan terhadap kedua kelompok massa hingga situasi secara perlahan dapat dikendalikan dan berangsur kondusif.
Baca juga: Polisi Amankan Anak Panah, Sejam dan Alat Rakitan Pasca Bentrok Antar Warga di Adonara
Pada saat terjadinya aksi saling serang antar kedua kelompok warga, personel gabungan yang melaksanakan pengamanan di lapangan menemukan 1 (satu) buah bom rakitan di sekitar lokasi konflik yang kemudian langsung diamankan guna mencegah terjadinya ledakan maupun jatuhnya korban jiwa.
Sampai dengan saat ini situasi sudah mulai kondusif, kedua kelompok warga berhasil dihalau dan dipukul mundur oleh personel gabungan yang bertugas di lapangan.
Situasi kampung dan jalan dalam kondisi gelap karena tidak terdapat penerangan listrik yang memadai sehingga menyulitkan proses pemantauan dan pengamanan oleh aparat di lapangan.
Dari pihak Kepolisian tidak terdapat korban jiwa, sedangkan untuk korban jiwa dari kedua kelompok warga hingga saat ini masih belum dapat diidentifikasi secara pasti.
Pada pukul 19.00 Wita, bertempat di halaman Biara DST, telah dilaksanakan apel konsolidasi yang dipimpin oleh Kabag Ops Polres Flores Timur AKP Eduardus Nuru, S.H., didampingi para PJU Polres Flores Timur serta Wadanki 1 Yon B Pelopor Maumere, guna melakukan pengecekan personel dan evaluasi situasi kamtibmas pasca konflik.
Hingga kini, Personel gabungan Polres Flores Timur, Brimob dan TNI masih disiagakan di wilayah perbatasan (Biara Susteran DST Santa Theresia Sahabat Anak-anak Yesus) guna mengantisipasi terjadinya konflik lanjutan maupun aksi balasan dari kedua kelompok warga. (awk)