REAKSI Keras Rhoma Irama ketika HRS Tuding Presiden Prabowo Fasis dan Rasis
AbdiTumanggor May 09, 2026 11:27 PM

Jagat Maya Diguncang Polemik: Polemik Rhoma Irama vs Habib Rizieq Shihab

TRIBUN-MEDAN.COM - Suasana jagat maya mendadak gempar ketika Rhoma Irama, Sang Raja Dangdut, melontarkan kritik pedas terhadap Habib Rizieq Shihab.

Polemik ini bermula dari pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pengkritiknya bisa “kabur ke Yaman”.

Ucapan tersebut memantik reaksi keras dari HRS, yang menuding Prabowo bersikap fasis dan rasis.

Namun, Rhoma Irama justru balik menyerang. 

Dalam unggahan video di Youtube dan Instagram, ia menilai tudingan HRS tidak berdasar dan malah mempertanyakan praktik rasisme yang disebut-sebut ada di kalangan Ba’alawi.

Dengan nada tinggi, Rhoma menyebut: “Perempuan-perempuan Ba’alawi haram dinikahi oleh pribumi. Ini rasis pakai banget!”

Kritik Tajam Rhoma

Rhoma menilai logika HRS yang menyebut bangsa Indonesia harus berterima kasih kepada Ba’alawi sebagai bentuk arogansi.

Baginya, justru kaum Ba’alawi yang seharusnya bersyukur bisa hidup di Indonesia yang makmur.

Ia bahkan menyindir HRS sebagai “aktor antagonis” yang berbahaya bagi bangsa dan agama.

Sindiran ini menegaskan posisi Rhoma sebagai figur publik yang berani menantang narasi tokoh agama, sekaligus memperlihatkan bagaimana isu identitas bisa dengan cepat berubah menjadi polemik nasional.

Reaksi Publik di Media Sosial

Kolom komentar unggahan Rhoma dipenuhi beragam pendapat.

Ada yang mendukung penuh sikapnya, menyebutnya sebagai suara kebenaran, namun ada pula yang menilai serangan antar-ulama memalukan.

Sebagian warganet bahkan mengingatkan agar isu nasab tidak dijadikan bahan adu domba.

Dudung Abdurachman dan Julukan “Jenderal Baliho”

Isu ini semakin melebar ketika HRS menuding pernyataan Prabowo soal “kabur ke Yaman” berasal dari bisikan Dudung Abdurachman, yang dijuluki “Jenderal Baliho” sejak penertiban baliho ormas oleh TNI AD.

Dudung membantah keras tudingan itu, menegaskan tidak ada persoalan pribadi dengan HRS, dan mengajak semua pihak menjaga keteduhan komunikasi.

“Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan… bukan merendahkan orang lain,” ujar Dudung.

Pernyataan Prabowo

Awal mula pidato Presiden Prabowo di Cilacap (29/4/2026) yang menyebut “kabur ke Yaman” menjadi sorotan publik. 

Sebagian menilai ucapannya sebagai sindiran spontan, namun ada pula yang menganggapnya berbahaya secara diplomatik.

Politisi PDIP Guntur Romli mengingatkan bahwa Yaman adalah negara sahabat dan ucapan tersebut bisa menimbulkan masalah etika.

Video Rhoma Selengkapnya:

(*/Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.