Laporan wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Situs Adan-Adan di Dusun Genuk, Desa Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri Jawa Timur kembali menjadi perhatian publik.
Temuan berbagai struktur dan artefak purbakala di kawasan tersebut memunculkan dugaan bahwa situs itu merupakan kompleks percandian kuno dengan ukuran sangat luas.
Perbincangan mengenai Situs Adan-Adan ramai di media sosial setelah muncul video yang menyebut kawasan tersebut sebagai kompleks percandian terbesar yang diduga melebihi Borobudur.
Video itu memperlihatkan proses ekskavasi hingga pengangkatan ornamen makara berukuran besar dari dalam tanah.
Makara sendiri merupakan ornamen khas candi yang biasanya ditempatkan di bagian tangga atau pintu bangunan sebagai simbol penolak bala.
Baca juga: Mengungkap Candi Pamotan, Situs Bersejarah Peninggalan Majapahit di Sidoarjo yang Nyaris Terlupakan
Temuan makara berukuran besar itulah yang kemudian memicu spekulasi mengenai besarnya kompleks percandian di kawasan tersebut.
Juru Pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan menjelaskan, situs tersebut pertama kali ditemukan pada 2016 dan sejak itu terus dilakukan penelitian maupun ekskavasi oleh tim arkeologi nasional hampir setiap tahun.
Menurutnya, temuan kepala arca Buddha saat penggalian tahun 2020 semakin menguatkan dugaan bahwa Situs Adan-Adan merupakan kompleks candi Buddha kuno.
"Dari hasil karbon dating, diperkirakan situs ini berasal dari abad ke-9 sampai ke-11. Kemudian ditemukan juga beberapa arca yang belum selesai dikerjakan lalu ditinggalkan. Jadi disinyalir dulu pembangunannya belum selesai," jelasnya, Sabtu (9/5/2026).
Ikhwan menyebut hingga kini kawasan situs belum seluruhnya terbuka. Dari total puluhan titik ekskavasi yang dilakukan, baru sebagian kecil struktur bangunan yang berhasil dimunculkan ke permukaan.
Dia menjelaskan, bangunan inti diperkirakan memiliki ukuran sekitar 21 meter dengan pola mandala, yakni terdapat bangunan utama di tengah yang dikelilingi beberapa teras hingga bagian terluar kompleks.
"Bangunannya bersifat mandala. Ada bangunan inti di tengah, lalu teras luar sampai bagian terluar. Jadi kemungkinan kompleksnya memang besar," katanya.
Di area situs juga ditemukan berbagai artefak lain seperti fragmen stupa, kepala kala, arca Buddha, hingga Dwarapala. Salah satu Dwarapala pasangan dari situs tersebut kini tersimpan di Museum Airlangga Kota Kediri.
Temuan paling menonjol yakni dua makara berukuran besar yang berada di kawasan situs. Ukuran ornamen itu disebut menjadi salah satu petunjuk besarnya bangunan candi yang pernah berdiri di lokasi tersebut.
"Kalau disebut lebih besar dari Borobudur, mungkin karena rasio makara ini. Biasanya ukuran makara menentukan besarnya candi. Bahkan ada yang menyebut makara di sini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara," jelas Ikhwan.
Selain struktur bangunan, tim peneliti juga menemukan bagian puncak stupa yang terkubur di bawah tanah. Kondisi itu mengindikasikan bangunan candi diduga pernah roboh akibat faktor tertentu pada masa lampau.
Dugaan sementara, kerusakan bangunan berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Kelud atau bencana lain yang menyebabkan kawasan percandian terkubur material tanah selama ratusan tahun.
Sementara itu, penjaga area situs, Pak Din mengatakan dalam sepekan terakhir kunjungan masyarakat ke Situs Adan-Adan meningkat. Sebagian besar pengunjung datang dari kalangan pelajar untuk kegiatan edukasi sejarah dan budaya.
Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti terkait video viral yang beredar di media sosial. Namun, menurutnya proses ekskavasi di lokasi tersebut memang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
"Setiap hari dibuka sampai sore," ucap pria yang rumahhnya tepat di sisi sebalah arsa situs.
Saat ini kawasan situs telah dipasangi pagar pengaman dan kawat pembatas untuk menjaga area ekskavasi serta melindungi benda-benda purbakala yang ditemukan. Pemerintah daerah bersama masyarakat sekitar juga terus melakukan pengawasan agar situs bersejarah tersebut tetap terjaga.
Keberadaan Situs Adan-Adan sendiri dinilai menjadi salah satu temuan arkeologi penting di Jawa Timur. Selain menyimpan nilai sejarah, kawasan tersebut juga berpotensi menjadi destinasi edukasi dan wisata budaya di Kabupaten Kediri.