Merayakan Kelulusan Tanpa Bising: Tradisi Jalan Kaki dan Berbagi ala SMA Kolese De Britto Yogyakarta
Muhammad Fatoni May 10, 2026 09:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perayaan kelulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) kerap kali diwarnai dengan aksi konvoi sepeda motor yang memekakkan telinga hingga aksi corat-coret seragam sekolah.

Namun, pemandangan berbeda justru tersaji di jantung Kota Yogyakarta pada Sabtu (9/5/2026).

Sebanyak 288 siswa lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta merayakan momen purnawiyata mereka dengan berjalan kaki sejauh 3,7 kilometer menuju Tugu Jogja.

Bukan sekadar euforia tanpa makna, langkah kaki ratusan siswa dari Jalan Laksda Adisutjipto 161 menuju ikon DIY tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur sekaligus kritik terhadap budaya kelulusan yang meresahkan masyarakat.

Sebelum turun ke jalan, para siswa ini terlebih dahulu mengikuti prosesi pengukuhan dan pelepasan resmi di sekolah yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.30 WIB.

Setelah pihak sekolah secara resmi menyerahkan kembali para siswa kepada orangtua masing-masing, barulah tradisi kebanggaan ini dimulai.

Sejarah dan Nilai Filosofis

Wakil Kepala Urusan Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memiliki sejarah dan nilai filosofis yang mengakar sejak puluhan tahun silam.

"Sebetulnya itu bukan tradisi. Artinya, itu kan kalau tidak salah mulai tahun 90-an akhir atau masuk 2000 awal. Awal mulanya karena waktu itu banyak sekolah-sekolah yang ketika kelulusan, mereka corat-coret, terus konvoi, dan sebagainya. Hal itu kan mengganggu masyarakat umum dan tidak baik. Maka untuk meredam situasi itu, De Britto mencoba cara lain," ujar Danang kepada Tribun Jogja.

Lebih lanjut, Danang menjelaskan bahwa perjalanan menuju Tugu juga merupakan bentuk manifestasi dari keberagaman siswa De Britto yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.

"De Britto itu Indonesia mini. Artinya, latar belakang siswanya dari berbagai penjuru Indonesia, beragam. Maka ketika mereka berada di Jogja, ketika mereka lulus, Jalan ke Tugu itu sebagai ungkapan syukur bahwa, 'Aku sudah berada di Jogja, aku diterima di Jogja, aku berkembang di Jogja.' Ungkapan syukur ketika lulus De Britto ini bisa dibilang nazar, ya. Nazar untuk menyampaikan ungkapan syukurnya dengan jalan ke Tugu. Dan di Tugu cuma menyanyikan mars saja. Setelah itu terus bubar kembali ke sekolah," tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, pihak sekolah tidak ingin kegiatan ini berhenti pada sekadar rutinitas fisik.

Kepamongan dan kesiswaan De Britto selalu menantang para siswa untuk menemukan makna di balik langkah mereka.

Tahun ini, pembuktian makna tersebut diwujudkan dengan aksi sosial.

Sembari menempuh perjalanan, ratusan siswa tersebut membagikan sekitar 200 paket sembako yang berisi beras, telur, minyak goreng, dan mi instan.

Bantuan ini disalurkan langsung kepada masyarakat prasejahtera yang mereka temui di sepanjang jalan, seperti tukang becak dan juru parkir.

Ketertiban juga menjadi prioritas utama. Pihak sekolah dan siswa telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk melakukan pengawalan.

Rombongan dijaga ketat oleh pihak kepolisian mulai dari sekolah hingga ke Tugu, dibantu oleh petugas dari Polrestabes dan Dinas Perhubungan untuk mengatur arus lalu lintas.

Baca juga: Jogja Takbir Festival 2026 Bakal Digelar di Malioboro, Hasto Wardoyo: Jadi Daya Tarik Wisata

Menanggapi fenomena tawuran antarpelajar yang sempat terjadi di area Mandala Krida pascakelulusan baru-baru ini, pihak sekolah justru menjadikan hal tersebut sebagai bahan refleksi.

De Britto mendidik siswanya untuk tidak mudah terprovokasi.

"Makanya kalau kita berbicara masalah tawuran kemarin, nah itu justru jadi bahan refleksi dan tantangan dari sekolah untuk anak-anak. Ketika anak-anak menemui Romo Pamong atau Wakasek Kesiswaan, kami tantang, 'Apakah nanti ketika kamu jalan ke Tugu itu tidak akan menimbulkan keributan? Apakah saat ada orang yang tidak senang atau provokator, kamu akan terpancing?' Mereka mengatakan tidak. Artinya, jalan ke Tugu ini bagian dari tradisi yang sudah kakak-kakak kelas laksanakan, dan mereka mencoba mengikuti," jelas Danang.

Sikap elegan para siswa ini bahkan teruji langsung di lapangan ketika menghadapi dinamika jalan raya.

"Tadi sempat ada insiden kecil di perempatan karena lampu sudah hijau dan pengendara tidak sabar tertahan sambil klakson-klakson. Tapi anak-anak bilang, 'Mohon maaf Bapak/Ibu semua, kami minta jalan dulu.' Itu bagian dari kearifan lokal untuk menyampaikan bahwa kami sadar kami membuat macet, tapi berilah kesempatan kami untuk menunjukkan euforia kelulusan dengan cara yang elegan," kata Danang.

Bebas yang Bertanggung Jawab

Kemandirian dan kedewasaan siswa SMA Kolese De Britto tidak lepas dari sistem pendidikan unik yang diterapkan oleh sekolah yang berdiri sejak masa kemerdekaan, tepatnya pada 1948 ini. Salah satu ciri khas yang paling dikenal masyarakat adalah kebebasan bagi siswa untuk berambut gondrong dan berpakaian bebas.

Aturan yang tidak lazim ditemukan di sekolah lain ini ternyata lahir dari rahim perlawanan terhadap pengekangan kreativitas.

"Masuk ke masa Orde Baru, dengan pemerintahan yang otoriter dan saklek. Maka waktu itu dari pihak sekolah memberikan kebebasan, artinya agar anak-anak itu bisa berpikir kritis dan mengeluarkan kreativitas. Karena ketika pendidikan itu hanya sekadar menaati aturan belaka—berseragam dan rambut cepak—itu kan justru menunjukkan cengkeraman pemerintahan Orde Baru yang otoriter. Dengan konteks seperti itu, De Britto mencoba memberikan pendidikan 'Bebas yang Bertanggung Jawab', itu slogan kita," urai Danang.

Menurutnya, kebebasan berekspresi seperti rambut gondrong dan pakaian bebas sejatinya hanyalah sarana edukasi.

Tujuan utamanya adalah mendobrak belenggu otoriter sehingga siswa memiliki ruang imajinasi untuk tumbuh menjadi pribadi yang autentik dan berani menyampaikan gagasan di masyarakat.

Meski demikian, seiring perkembangan zaman, penyesuaian tetap dilakukan. Nilai-nilai nasionalisme dan kepatuhan pada negara tetap ditanamkan.

Kini, setiap hari Senin para siswa diwajibkan mengenakan seragam putih abu-abu. 

Aturan berpakaian bebas pun diperketat; siswa diwajibkan mengenakan pakaian berkerah dan dilarang menggunakan sandal jepit di lingkungan sekolah, sebagai bentuk keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap norma yang berlaku.

( tribunjogja.com )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.