Qatar dan Negara-negara Teluk Mulai Khawatir dengan Amarah Iran, Pertanyakan Kerja Sama dengan AS
Christoper Desmawangga May 10, 2026 09:11 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Negara-negara kawasan Teluk mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap sikap Amerika Serikat (AS) yang dinilai semakin lunak terhadap Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Kekhawatiran itu muncul setelah pemerintah AS berupaya mengecilkan insiden saling serang dengan Iran di Selat Hormuz beberapa hari terakhir.

Sebelumnya, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz hanya sebagai “serangan gangguan yang tidak berarti”.

Baca juga: Iran Ungkap Luka Mojtaba Khamenei usai Serangan AS-Israel, Istri Disebut Tewas

Langkah AS meremehkan serangan tersebut dinilai dilakukan demi menjaga gencatan senjata dan memastikan proses negosiasi perdamaian dengan Iran tetap berjalan.

Namun, bagi negara-negara Teluk yang selama ini menjadi lokasi pangkalan militer utama AS di Timur Tengah, serangan Iran dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan kawasan.

Menurut laporan The Wall Street Journal, sejumlah pejabat senior Teluk kini khawatir kesepakatan damai yang sedang dibahas hanya akan berfokus pada program nuklir Iran, tanpa menyentuh ancaman utama lain seperti rudal konvensional dan jaringan milisi sekutu Teheran.

“Adanya Iran yang marah, terluka, dan terpojok merupakan hal yang buruk bagi negara-negara Teluk, karena Iran tidak lagi dapat dikendalikan seperti sebelum perang,” kata Dania Thafer, dilansir dari Kompas.com.

Baca juga: Rencana Khusus Iran untuk Selat Hormuz, Kapal yang Melintas Wajib Bayar dan Serahkan Dokumen

Negara-negara Teluk selama bertahun-tahun menjadi tuan rumah pangkalan militer AS demi memperkuat perlindungan keamanan terhadap ancaman Iran.

Namun kini, keberadaan pangkalan tersebut justru memunculkan dilema baru karena menjadi target potensial serangan balasan Iran.

Qatar disebut mulai mempertanyakan efektivitas kerja sama pertahanan dengan Washington.

Meski demikian, negara-negara Teluk juga dinilai sulit melepaskan hubungan militer dengan AS karena sistem pertahanan mereka masih sangat bergantung pada peralatan, pelatihan, dan dukungan teknis dari Washington.

Baca juga: Intelijen AS: Mojtaba Khamenei Terlibat Strategi Perang Iran meski Tak Muncul di Publik

Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Publik Dubai, Mohammed Baharoon, menilai negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam keputusan militer AS.

“Ketika AS melancarkan serangan, mereka tidak mempertimbangkan kekhawatiran keamanan negara-negara GCC,” ujar Baharoon.

“Kami tidak dilibatkan dalam penilaian tersebut,” sambungnya.

Untuk meredakan kekhawatiran sekutu-sekutunya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pekan ini menyetujui penjualan senjata senilai 25,8 miliar dollar AS kepada mitra-mitra di Timur Tengah.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz

Nilai tersebut disebut tiga kali lebih besar dibandingkan pengumuman bantuan militer sebelumnya.

Di sisi lain, negara-negara GCC kini mulai mempertimbangkan pembentukan aliansi pertahanan internal yang lebih kuat untuk mengurangi ketergantungan terhadap AS.

Meski begitu, sejumlah pejabat Teluk meragukan mereka mampu membangun kekuatan militer mandiri yang benar-benar efektif untuk menahan ancaman Iran.

Analis Timur Tengah, Dina Esfandiary, menilai satu-satunya cara meredam ancaman Iran adalah melalui kombinasi strategi penahanan dan diplomasi.

Baca juga: 2,5 Jam Presiden Iran Bertemu Mojtaba Khamenei, Apa Isi Pembicaraannya?

“Satu-satunya cara untuk membangun kembali daya pencegahan adalah melalui kombinasi penahanan dan keterlibatan,” ujar Esfandiary.

“Dan membangun hubungan dengan Iran agar mereka tidak melakukan serangan udara terhadap wilayah Anda. Tetapi saya rasa negara-negara Teluk Arab tidak semuanya melihatnya seperti itu,” katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.