TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Warga menyebut kecelakaan beruntun di Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang yang terjadi Minggu (10/5/2026), terparah dalam beberapa tahun belakang.
Diketahuinya, kecelakaan yang melibatkan lima kendaraan tersebut terjadi pada Minggu (10/5/2026) sekira pukul 07.30 WIB.
Akibat kecelakaan tersebut, empat orang meninggal dunia dan empat orang lainnya luka-luka.
Padang Besi adalah nama kelurahan di Kecamatan Lubuk Kilangan yang berada sekitar 7,2 km dari pusat Kota Padang.
Baca juga: Posisi Korban Terjepit di Belakang Sopir, Fadri Dapati 2 Orang Sudah Tak Bernyawa
Daerah ini selalu dilewati berbagai kendaraan karena menjadi penghubung menuju Kabupaten Solok.
Jalan nasional ini menurun sejak dari jalur ekstrem Sitinjau Lauik.
Hingga memasuki by pass, jalan dari arah Sitinjau Lauik menuju pusat kota Padang menurun termasuk di Padang Besi yang menjadi lokasi tabrakan maut.
Edi (62) warga, mengatakan lokasi terjadinya kecelakaan beruntun memang terkenal rawan.
Beberapa tahun terakhir sering terjadi kecelakaan di kawasan ini.
"Sering terjadi kecelakaan di sini," kata dia saat memberikan keterangan di lokasi.
Akan tetapi, lanjut Edi, kecelakaan beruntun Minggu (10/05/2026) pagi ia sebut terparah.
Sebab, melibatkan banyak kendaraan dan mengakibatkan banyak korban jiwa.
Baca juga: Pakar Transportasi UBH: Tragedi Padang Besi Akibat Kondisi Geometrik Jalan Berbahaya
Tahun 2023 silam ada truk rem blong juga.
Dua orang tewas akibat kecelakaan itu.
"Sebelumnya tahun 2023 ada dua orang meninggal di dekat sini, truk juga, rem blong dan menabrak rumah," jelasnya.
Selanjutnya kecelakaan juga terjadi di lokasi tersebut pada tahun 2025 lalu.
Kecelakaan itu melibatkan truk tangki sawit.
"Pada umumnya banyak yang terjadi akibat rem blong, tahun lalu juga dua orang meninggal," ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi jalan juga menjadi pemicu kecelakaan.
Jalan tersebut berbelok, selalu terjadi truk rem blong dari Indarung.
"Tapi yang terparah yang sebentar ini, melibatkan banyak kendaraan dan korban meninggal maupun luka-luka," tambahnya.
Hal serupa juga disampaikan Rita Bahar (70), warga kawasan Jembatan Padang Besi, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat.
Minggu (10/5/2026) pagi, perempuan lanjut usia itu kembali dikejutkan dengan kecelakaan beruntun yang melibatkan lima kendaraan di depan kawasan tempat tinggalnya.
Kecelakaan tersebut melibatkan dua unit truk dan tiga mobil pribadi yang seluruhnya melaju dari arah Solok menuju Kota Padang.
Baca juga: Update Korban Tewas Tabrakan Beruntun di Padang Besi, 1 Sempat Dibawa ke RS Unand, 3 di SPH
Akibat musibah itu, empat orang dilaporkan meninggal dunia, sementara empat korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Namun di tengah kepanikan dan proses evakuasi korban, ada ketakutan lain yang terus menghantui warga sekitar, terutama Rita.
Rumah yang ia tinggali berada tepat setelah turunan tajam di kawasan tersebut.
Menurut Rita, setiap kendaraan yang mengalami rem blong dari arah Solok berpotensi menghantam rumah-rumah warga di sekitar lokasi.
Trauma itu bukan tanpa alasan.
Beberapa tahun lalu, rumah Rita pernah dihantam sebuah mobil minibus yang mengalami rem blong.
Peristiwa itu merenggut nyawa cucunya yang saat itu sedang tertidur di kamar.
Baca juga: Suara Klakson Panjang Terdengar Sebelum Tabrakan Beruntun di Padang Besi
“Saya sangat takut. Bahkan saya setiap hari tidak berani tidur di dalam kamar. Karena cucu saya yang seharusnya sekarang sudah kelas 6 SD meninggal dunia ditabrak mobil rem blong saat sedang tidur di kamarnya,” kata Rita Bahar kepada TribunPadang.com dengan suara bergetar.
Sejak kejadian itu, Rita mengaku memilih tidur di ruang tamu dibandingkan di kamar rumahnya.
“Saya tidak pernah lagi tidur di kamar. Siang malam saya tidur di ruang tamu karena takut ada mobil rem blong menghantam rumah,” ujarnya.
Menurut Rita, kawasan Jembatan Padang Besi sudah lama dikenal rawan kecelakaan, khususnya kendaraan truk yang mengalami rem blong saat melintasi turunan.
Ia bahkan menyebut pada tahun 2025 lalu, tetangganya juga kehilangan dua cucu akibat kecelakaan truk pengangkut CPO yang diduga mengalami rem blong.
“Di sini sudah sangat sering kecelakaan. Sebelah rumah saya juga kehilangan dua orang cucunya akibat kecelakaan. Rata-rata karena rem blong,” kenangnya.
Karena itu, setiap kali terdengar suara rem atau klakson panjang dari arah jalan raya, rasa takut kembali muncul di benak warga.
Rita meyakini, apabila truk Hino yang terlibat kecelakaan pagi tadi tidak menghantam pohon dan kendaraan lain, maka rumah warga bisa menjadi sasaran berikutnya.
“Kalau tadi truk itu tidak menabrak mobil dan pohon, mungkin rumah saya atau rumah sebelah yang dihantam,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah segera membangun pembatas jalan berbahan beton di sepanjang kawasan rawan tersebut untuk meminimalisir dampak kecelakaan.
“Kami berharap ada pembatas jalan beton. Jadi kalau ada mobil rem blong, tidak langsung menghantam rumah warga,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Adrian, seorang pedagang di sekitar lokasi kejadian.
Menurutnya, kondisi jalan menurun membuat kawasan tersebut sangat rawan kecelakaan, terutama kendaraan berat.
“Karena ini kawasan penurunan, sangat rawan kendaraan mengalami rem blong. Kami yang berdagang di sini juga takut,” jelas Adrian.
Ia berharap ada solusi konkret dari pemerintah untuk mengurangi risiko kecelakaan di kawasan tersebut.
“Mungkin pemerintah tahu solusi yang tepat supaya tidak terus memakan korban jiwa,” katanya.
Sementara itu, kecelakaan beruntun yang terjadi sekitar pukul 08.00 WIB tersebut masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.
Satu di antara sopir truk yang selamat, Jasman (50), mengaku sempat mendengar suara klakson panjang sebelum tabrakan terjadi.
Saat itu, truk pengangkut semen yang dikendarainya turut dihantam dari arah belakang oleh truk Hino yang diduga menjadi penyebab kecelakaan.
“Saat mendengar klakson itu, saya dengar dentuman keras. Saya langsung ambil arah ke kiri jalan, tapi mobil saya tetap dihantam bagian kiri,” ujarnya.
Menurut Jasman, truk Hino tersebut baru berhenti setelah menghantam sebuah minibus pengangkut beras.
“Berhenti truk itu setelah menghantam mobil beras,” katanya.
Kasat Lantas Polresta Padang, AKP Riwal Maulidinata mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kecelakaan tersebut.
“Untuk penyebab kecelakaan sementara masih kita dalami. Nanti akan kita pastikan kembali setelah proses penyelidikan selesai,” ujarnya saat diwawancarai TribunPadang.com di lokasi kejadian.
Ia menyebutkan, dari hasil pendataan sementara terdapat lima kendaraan yang terlibat kecelakaan.
“Sementara dari hasil TKP kita ada lima kendaraan yang terlibat kecelakaan. Apabila ada penambahan jumlah kendaraan yang terlibat akan kami informasikan kembali,” katanya.
AKP Riwal juga mengungkapkan, berdasarkan data sementara terdapat tujuh korban akibat kejadian tersebut.
“Untuk korban, tadi anggota kita sudah ke Semen Padang Hospital dan RS Unand. Terdata ada tujuh korban. Dua orang meninggal dunia dan lima orang lainnya mengalami luka-luka,” jelasnya.
Selain itu, sopir truk yang terlibat kecelakaan juga telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Sopir sendiri sudah diamankan. Saat ini kita amankan di Polsek Lubuk Kilangan,” pungkasnya.