Renungan Malam 1 Yohanes 4: 7-21, Menghadirkan Terang di Lorong Senat
Alpen Martinus May 10, 2026 11:39 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID- Setiap ada saja hal baru yang didapat dari membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

Sebab selalu baru petunjuk kehidupan Tuhan dalam kehidupan kita.

Renungan harian Kristen berjudul menghadirkan terang di lorong senat.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Hakim-hakim 15, Kuat Tetapi Lemah

Ditulis Herwidya estherline dalam moment of inspiration.

Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4: 7-21.

Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4: 20)

Saat berkuliah seorang teman saya Rudi (nama samaran), mendapati sahabatnya melakukan penggunaan kwitansi yang tidak sesuai.

Dalam kapasitasnya sebagai mahasiswa senat, khususnya dalam bidang pengawasan keuangan kampus dan sebagai mahasiswa Kristen, Rudi harus bersikap tegas dan menjaga integritas dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Karena tersinggung, sahabatnya mulai menjaga jarak dengan Rudi.

Di sisi lain, Rudi juga mengalami relasi yang tidak mudah dengan sahabatnya, yang juga seorang Kristen.

Dalam interaksi sehari-hari, sahabatnya sering menunjukkan sikap yang terasa meremehkan melalui raut kesal, nada menyindir, bahkan suara yang meninggi, khususnya dalam relasi langsung.

Hal ini menimbulkan pergumulan batin, terlebih ketika lingkungan sekitar tidak melihat dinamika relasi yang dirasakan Rudi secara langsung.

Dalam pengalamannya Rudi berbagi, bahwa Firman Tuhan menegurnya melalui 1

Yohanes 4:20: “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta.”

Ayat itu menghantam hatinya.

Dalam kebingungan, ia berdoa, “Tuhan, aku ingin mengasihi-Mu, tetapi aku tidak mampu mengasihi dia yang menyakitiku.

Aku membutuhkan kasih-Mu. 

Tolong bukakan mataku untuk melihat dia seperti Engkau melihatnya.”

Dalam tangisannya, ia mengatakan bahwa ia menyadari kesombongan dan kebutuhannya akan anugerah Allah.

Akhirnya Rudi datang kepada sahabatnya, ia memeluk sahabatnya dan berkata, “Aku mengampunimu.”

Di momen itu, ia merasakan kelegaan dan kebebasan yang tidak bisa ia jelaskan kepada saya.

Hal ini mengingatkan saya pada Yusuf, yang dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri.

Namun pada akhirnya ia menangis, memeluk saudara-saudaranya dan mengampuni mereka (Kej 45:1-8).

Ia mampu melakukannya karena, Yusuf mengerti bahwa Allah yang berdaulat dalam hidupnya.

Pasca-perselisihan tersebut, iman dan integritas Rudi menjadi inspirasi bagi banyak pejabat organisasi lainnya.

Mereka kemudian bergerak bersama melakukan aksi sweeping besar-besaran terhadap praktik kwitansi palsu yang selama ini dianggap lumrah.

Aksi kolektif ini pun menjadi kesaksian iman yang nyata, sekaligus memicu perubahan dalam sistem keuangan kampus mereka.

Inspirasi: Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, melainkan membebaskan diri kita dari penjara kebencian, agar kasih Allah dapat bekerja sepenuhnya di dalam kita dan memakai kita untuk tujuan-Nya yang lebih besar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.