Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi peningkatan “perang informasi” melalui media sosial dan internet. Jepang kini disebut menjadi salah satu target utama operasi pengaruh dan penyebaran informasi palsu yang diduga berasal dari China.
Laporan media Jepang menyebut pemerintahan Sanae Takaichi sedang mencari langkah penanggulangan melalui pembentukan regulasi baru.
Namun para ahli memperingatkan bahwa teknik operasi informasi China semakin canggih dan sulit dideteksi.
Menurut profesor ilmu politik internasional Universitas Hitotsubashi, Maiko Ichihara, China sudah menjalankan operasi pengaruh melalui internet setidaknya sejak 2010-an.
"Hal itu dilakukan terutama saat Jepang membuang air olahan dari PLTN Fukushima beberapa tahun lalu, media sosial dipenuhi narasi bernada provokatif seperti “air limbah nuklir tercemar”. Strategi ini disebut sebagai “menekan tombol panas”, yakni memanfaatkan isu sensitif untuk memecah opini publik," papar Ichihara.
Isu-isu seperti kaisar perempuan, penggunaan nama keluarga terpisah bagi pasangan suami-istri, hak perempuan, hingga persoalan keluarga kekaisaran Jepang, dinilai dimanfaatkan untuk menciptakan perpecahan sosial di Jepang.
Peneliti senior Canon Institute for Global Studies, Kenji Minemura mengatakan bahwa tujuan utama operasi informasi China bukan semata menyebarkan propaganda pro-China, melainkan memperbesar konflik opini di dalam masyarakat Jepang.
Menurutnya, selama pemilu parlemen Jepang, media sosial dipenuhi postingan mengenai isu nama keluarga suami-istri. Namun setelah pemilu selesai, topik tersebut mendadak menghilang.
“Sebagian besar akun yang kami pantau diduga berasal dari China,” ujar Minemura lagi.
Mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional Jepang dan peneliti senior Sasakawa Peace Foundation, Jun Osawa mengungkap keberadaan akun Facebook bernama “Pesona Jepang” yang berulang kali memuji Putri Aiko namun menyerang keluarga Pangeran Akishino.
Setelah dianalisis, sumber akun tersebut diduga berasal dari Hong Kong dan beberapa kali mengganti nama akun secara tidak wajar.
Menurut Osawa, isu suksesi kekaisaran sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan stabilitas sistem kekaisaran Jepang.
Para ahli juga menyoroti meningkatnya postingan berbahasa Jepang yang mendorong “kemerdekaan Okinawa” serta narasi bahwa Okinawa “dirampas kedaulatannya”.
Narasi tersebut kemudian dihubungkan dengan sentimen anti-pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa dan diarahkan untuk melemahkan dukungan terhadap aliansi keamanan Jepang-AS.
Baca juga: Mahasiswa Indonesia di Jepang Galang Beasiswa Lewat Penanaman Jagung Bersama Petani
"Dasarnya adalah agar masyarakat Jepang pecah belah dengan munculnya informasi palsu tersebut. Tapi masyarakat Jepang kini semakin pintar mengetahui hal tersebut dibuat oleh tim dari China unruk mengacaukan dalam negeri Jepang," tambahnya.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com