TRIBUNNEWS.COM - Mauricio Pochettino adalah pelatih asal Argentina yang bakal menangani Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026. Berikut profil lengkapnya.
Pochettino lahir di Murphy, Argentina, pada 2 Maret 1972. Saat ini usianya 54 tahun.
Sebelum menjadi pelatih, Pochettino memulai karier di dunia sepak bola sebagai pemain dengan posisi bek tengah.
Sejumlah klub pernah ia bela. Pochettino mencatatkan namanya sebagai pemain Newell’s Old Boys, Espanyol, Paris Saint-Germain, dan Bordeaux.
Selain itu, Pochettino pernah memperkuat Timnas Argentina di Piala Dunia 2002 yang digelar di Jepang dan Korea Selatan. Saat itu perjalanan skuad La Albiceleste harus terhenti di fase grup.
Lalu pada 2006, Pochettino memutuskan pensiun sebagai pemain sepak bola.
Baca juga: Iran menuntut jaminan FIFA dan tiga tuan rumah saat tampil di Piala Dunia 2026
Setelah pensiun, Pochettino memulai karier kepelatihan pada 2008 sebagai asisten pelatih Timnas Prancis putri.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai pelatih Espanyol, Southampton, hingga Tottenham Hotspur.
Pochettino mencapai puncak prestasi dengan membawa Tottenham Hotspur ke final Liga Champions 2018/2019. Sayangnya mereka hanya finis sebagai runner-up setelah kalah dari Liverpool dengan skor 2-0
Dari Tottenham Hotspur, Pochettino kemudian melatih Paris Saint-Germain, Chelsea, hingga akhirnya ditunjuk sebagai nahkoda utama Timnas Amerika Serikat menggantikan Gregg Berhalter pada September 2024.
Di bawah asuhan Pochettino, Timnas Amerika Serikat menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko yang akan bergulir pada 11 Juni hingga 19 Juli mendatang.
Baca juga: Profil Steve Clarke, Pelatih Timnas Skotlandia yang Bawa Harapan Baru di Piala Dunia 2026
Di Piala Dunia 2026, Timnas Amerika Serikat tergabung ke dalam Grup D bersama Paraguay, Australia, dan Turki.
Dikutip dari laman resmi FIFA, Pochettino mengaku optimis bisa membawa skuad The Stars and Stripes membuat kejutan di Piala Dunia 2026.
"Dengan bakat yang dimiliki saat ini, saya percaya tim ini punya kemampuan untuk bersaing dan melakukan hal-hal besar pada turnamen musim panas nanti. Namun, bakat saja tidak cukup jika tidak disertai komitmen, karena tanpa itu permainan akan cenderung menjadi individual dan sulit untuk meraih kemenangan."
"Kemenangan hanya bisa dicapai melalui kerja sama tim yang solid, dengan fondasi dan struktur yang kuat. Dengan begitu, ketika bakat para pemain muncul, tim dapat mendukungnya sehingga mereka bisa menjadi pembeda di pertandingan," kata Pochettino.
Lebih lanjut, Pochettino tidak menjadikan status tuan rumah sebagai beban, melainkan sebuah dorongan motivasi.
Ia berharap para pemainnya bisa memanfaatkan keuntungan tampil di rumah sendiri.
"Sebagai tuan rumah, tentu akan ada lebih banyak sorotan, tekanan, dan ekspektasi. Tugas saya adalah membantu para pemain mengelola semua itu agar tidak menjadi beban, tetapi justru berubah menjadi energi positif. Hal ini menjadi salah satu tantangan utama yang sedang kami persiapkan."
"Kami ingin seluruh tekanan dan tanggung jawab tersebut bisa dimanfaatkan sebagai dorongan untuk bekerja lebih keras, tidak mudah menyerah, dan selalu berusaha tampil lebih baik dari lawan. Itulah mentalitas yang ingin kami bangun dalam tim," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Isnaini)