TRIBUN-MEDAN.COM - Polemik mengenai kematian Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Medan, Sumatera Utara, Reza Valentino Simamora (21), akhirnya menemukan titik terang setelah sempat viral dan menyedot perhatian publik.
Orang tua almarhum dikabarkan telah menerima pencairan asuransi kematian senilai sekitar Rp1,04 miliar pada 30 April 2026.
Reza Valentino meninggal dunia di Korea Selatan (Korsel) setelah diberangkatkan melalui skema Government to Government (G to G) usai mengikuti pelatihan di LPK Karanganyar pada Desember 2024.
Kasus ini sempat menjadi sorotan karena status hukum serta hak-hak almarhum dinilai belum jelas, termasuk persoalan gaji dan barang-barang pribadi yang dikirim ke keluarga dalam kondisi rusak.
Peran BP2MI dan SBMI
Direktur Pengaduan, Mediasi, dan Advokasi BP2MI, Mangiring Hasoloan Sinaga, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan keluarga almarhum dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) melalui rapat daring untuk memastikan hak-hak korban terpenuhi.
Ia menyebut perhatian khusus dari Menteri BP2MI Mukhtarudin menjadi bukti kehadiran negara dalam melindungi pekerja migran.
Selain pencairan asuransi, sisa gaji almarhum juga telah diserahkan kepada keluarga.
Namun, sempat terjadi perbedaan pemahaman mengenai nominal santunan.
Pihak keluarga berharap jumlahnya lebih besar, sementara BP2MI menegaskan bahwa nilai Rp1 miliar sudah sesuai regulasi untuk kasus kematian di luar negeri.
Apresiasi dari JAGA MARWAH
Ketua Umum Jaringan Pergerakan Masyarakat Bawah (JAGA MARWAH), Edison Tamba alias Edoy, menyampaikan bahwa pendampingan SBMI kepada keluarga sudah sesuai aturan hukum.
Ia menilai upaya BP2MI bersama SBMI patut diapresiasi karena telah menyelesaikan persoalan asuransi, gaji, hingga barang milik almarhum.
Edoy juga mengucapkan terima kasih kepada Menteri BP2MI, SBMI, media massa, media sosial, dan para influencer yang ikut mengawal kasus ini.
Menurutnya, perhatian publik berperan besar dalam memastikan hak-hak almarhum Reza Valentino dipenuhi.
Harapan untuk Keluarga
Meski hak-hak almarhum sudah diberikan, pihak keluarga belum memberikan pernyataan resmi.
Tribun Medan telah mengonfirmasi perkembangan kasus ini melalui WhatsApp kepada ayah almarhum, Saut Simamora, namun tidak mendapat tanggapan.
Terkait hal ini, Edoy berharap keluarga bisa speak-up agar publik mengetahui bahwa negara telah hadir dalam menyelesaikan masalah ini.
Menurut Edoy, keluarga sebaiknya tidak hanya menyampaikan kesedihan, tetapi juga mengapresiasi pihak-pihak yang telah membantu.
“Jika ada hal positif dalam perjuangan ini, itu juga harus disampaikan ke media,” ujarnya.
Edoy menegaskan, kasus Reza Valentino Simamora menjadi contoh nyata bagaimana perhatian publik, pendampingan organisasi buruh, serta komitmen pemerintah dapat memastikan hak-hak pekerja migran terpenuhi.
"Meski keluarga masih berduka, pencairan asuransi Rp1 miliar lebih dan sisa gaji almarhum menunjukkan bahwa negara hadir dalam melindungi warganya di luar negeri,"tutupnya.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Reza Valentino Simamora Meninggal di Korsel: Koper Rusak, Barang Hilang, Ini Reaksi Kementerian P2MI
Baca juga: Reza Valentino Simamora Tewas di Korea, Barang Dipulangkan ke Indonesia Koper Rusak, 2 Ponsel Hilang
Baca juga: Ayah Reza Valentino Simamora Lega Diterima Menteri P2MI, Muktharuddin Bentuk Tim Terpadu Khusus
Baca juga: NASIB PILU Reza Valentino Simamora: PMI Meninggal Dunia di Korea Selatan dan Hak-haknya Tidak Jelas