Bukan Sekadar Investasi, TCG Semarang Jadi Ruang Mencari Kawan dan Berburu Koleksi Kartu Langka
raka f pujangga May 11, 2026 06:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Di tengah ramainya tren kartu koleksi Pokemon dan trading card game (TCG) di media sosial, Jason Franklin justru melihat dunia kartu bukan pertama-tama soal investasi jutaan rupiah.

Bagi warga Brumbungan, Semarang itu, kartu adalah permainan, komunitas dan ruang mencari teman baru.

Jason mengenal dunia TCG sejak sekitar 2015 lewat permainan Yu-Gi-Oh! dan Vanguard. Saat itu, tren kartu koleksi belum seramai sekarang.

Baca juga: Kenalan Dengan TCG Pokemon di Semarang, Adu Strategi Hingga Satu Kartu Seharga Jutaan Rupiah

“Aku kenal dunia kartu itu dari tahun 2015-an. Yu-Gi-Oh sama Vanguard itu card game pertamaku,” ujarnya saat ditemui di Semarang TCG.

Menurutnya, komunitas TCG di Semarang sebenarnya sudah lama hidup meski dulu tidak terlalu terlihat di media sosial.

Ia mengatakan tiap permainan memiliki komunitas sendiri-sendiri, mulai dari Yu-Gi-Oh!, Vanguard hingga Pokemon.

“Komunitas Yu-Gi-Oh ada sendiri, Vanguard sendiri, Pokemon juga sendiri,” katanya.

Belakangan, Jason melihat tren TCG mulai melonjak drastis. Banyak orang baru masuk ke dunia kartu setelah konten koleksi Pokemon viral di media sosial.

Meski begitu, ia menilai masih banyak masyarakat yang salah paham dan menganggap semua kartu Pokemon bernilai fantastis.

Padahal menurutnya, kartu untuk kebutuhan bermain kompetitif umumnya masih berada di harga yang relatif terjangkau.

“Kalau buat main kompetitif itu paling kartu mahal di angka Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Itu pun cuma satu kartu,” ujarnya.

Jason menjelaskan harga mahal biasanya muncul pada kartu dengan rarity tinggi atau versi koleksi tertentu.

Misalnya, pemain yang ingin memakai karakter favorit seperti Charizard dalam versi eksklusif tentu harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar.

“Kalau mau pakai Charizard rarity tinggi ya beda lagi harganya,” katanya.

Ia menegaskan ada perbedaan besar antara pemain TCG dan kolektor.

Pemain lebih fokus menyusun strategi permainan menggunakan kartu tertentu, sedangkan kolektor mengejar nilai seni, kelangkaan hingga kondisi fisik kartu.

“Kalau sekadar buat main sebenarnya enggak harus mahal,” ujarnya.

Meski lebih aktif sebagai pemain, Jason mengaku tetap tertarik mengoleksi kartu.

Namun ia memilih memulainya perlahan dari kartu-kartu dengan harga terjangkau.

“Tertarik koleksi juga, tapi pelan-pelan dari yang murah-murah dulu,” katanya sambil tertawa.

Menurut Jason, tren TCG di Semarang kini juga mulai menjangkau berbagai usia. 

Baca juga: 199 Sekolah di Jepara Diusulkan Perbaikan Tahun Ini, Kartu Sarjana Diperluas

Tidak hanya remaja dan dewasa, anak-anak bahkan balita mulai ikut mengenal dunia kartu karena diajak orang tuanya.

“Pernah ada orang tua datang bawa anak-anaknya rame-rame ke toko,” ujarnya.

Sebab di atas meja permainan itu, orang-orang asing bisa mendadak akrab hanya karena satu kartu favorit yang sama. (Rad)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.