Melihat Proses Pembuatan Papiong di Acara Rambu Solo Warga Enrekang
Imam Wahyudi May 11, 2026 07:08 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Aroma rempah menyengat dari dapur tradisional menyambut para tamu yang datang dalam prosesi adat Rambu Solo’ almarhum Petrus Ri’pi di Dusun Salubarani, Desa Pana, Kecamatan Alla’, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Senin (11/5/2026).

Dusun Salubarani yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja dikenal sebagai salah satu wilayah di Enrekang yang banyak dihuni masyarakat suku Toraja.

Mayoritas warganya memeluk agama Kristen, berbeda dengan penduduk Enrekang secara umum yang didominasi umat Islam.

Meski berbeda keyakinan, masyarakat di wilayah tersebut hidup berdampingan dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun adat.

Di sela rangkaian upacara adat kematian khas masyarakat Toraja tersebut, warga tampak sibuk menyiapkan pa’piong, kuliner tradisional yang menjadi sajian khas dalam acara adat.

Rambu Solo’ merupakan upacara adat kematian masyarakat Toraja sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal dunia. 

Tradisi ini tidak hanya menjadi prosesi pemakaman, tetapi juga sarat nilai budaya, kekeluargaan, dan gotong royong.

Pada pelaksanaan Rambu Solo’ kali ini, perhatian tamu tertuju pada proses pembuatan pa’piong daging kerbau yang dimasak menggunakan racikan rempah khas.

Berbeda dari pa’piong pada umumnya yang identik dengan campuran daun miyana, olahan kali ini menggunakan perpaduan serai, bawang merah, bawang putih, merica, cabai rawit, serta berbagai rempah aromatik lainnya tanpa tambahan daun miyana.

Bumbu tersebut kemudian dicampur bersama potongan daging kerbau sebelum dimasak hingga menghasilkan cita rasa gurih dan kaya rempah.

Sekilas tampilannya menyerupai masakan rica-rica, namun rasa yang dihasilkan lebih pekat dan mirip bumbu rendang.

Warga setempat menyebut olahan pa’piong kerbau seperti itu memang kerap disajikan dalam berbagai acara adat Rambu Solo’.

Pa’piong sendiri merupakan makanan tradisional khas Toraja yang biasanya dibuat dari daging babi, ayam, atau ikan yang dimasukkan ke dalam bambu muda bersama bumbu rempah dan daun miyana, lalu dibakar hingga matang.

Kuliner tersebut menjadi sajian yang hampir selalu hadir dalam pesta adat masyarakat Toraja, terutama pada acara Rambu Solo’.

Di lokasi kegiatan, suasana adat terlihat begitu kental.

Para tamu dan keluarga almarhum mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan sarung.

Sebelum ibadah dimulai, keluarga menyediakan kopi, teh, serta kue tori’ khas Toraja bagi para pelayat yang datang.

Setelah itu, keluarga dan kerabat secara bergantian menyampaikan ucapan belasungkawa sebelum ibadah dimulai.

Usai ibadah, jemaat gereja melanjutkan kegiatan dengan lelang daging kerbau, salah satu tradisi yang juga lazim dilakukan dalam Rambu Solo’.

Para tamu kemudian disuguhi nasi bungkus berisi pa’piong daging kerbau yang telah dimasak menggunakan racikan rempah khas tersebut.

Sementara pa’piong berbahan daging babi hanya disajikan kepada tamu tertentu yang dapat menikmatinya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.