Pemkot Kendari Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir 14 Kelurahan dan 6 Kecamatan Mulai 11-17 Mei
Sitti Nurmalasari May 11, 2026 07:50 PM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama tujuh hari, mulai 11-17 Mei 2026.

Penetapan ini dilakukan melalui rapat pemerintah dengan berbagai pemangku kepentingan, Senin (11/5/2026).

Antara lain Forkopimda, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta pejabat teknis terkait.

Pertemuan tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Wali Kota, Lantai 2 Kantor Balai Kota, Jalan Abdullah Silondae, Kelurahan Mandonga, Kecamatan Mandonga.

Kepala BPBD Kendari, Cornelius Padang mengatakan, penetapan status tersebut bertujuan agar penanganan bencana dapat berjalan optimal dan terkoordinasi.

Baca juga: Banjir Lepo-Lepo Kendari Akibat Luapan Kali Wanggu Belum Surut, Warga Dapat 200 Paket Sembako

Menurutnya, penanganan tidak hanya difokuskan saat masa tanggap darurat tetapi juga pascabencana hingga pemulihan.

“Dengan status tanggap darurat ini, penanganan bisa dilakukan lebih maksimal karena melibatkan berbagai pihak," ujarnya.

"Mulai dari pemerintah provinsi, Kementerian PUPR melalui balai teknis, hingga BNPB,” sambung dia.

Hingga hari ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendari mencatat sebanyak 797 rumah atau kepala keluarga (KK) terendam banjir.

Dengan korban terdampak mencapai 3.517 jiwa yang tersebar di 14 kelurahan dan 6 kecamatan dari total 11 kecamatan berpenduduk 370.760 jiwa ini.

Baca juga: Daftar Daerah Terdampak Banjir di Sulawesi Tenggara, BPBD Sultra Masih Tunggu Laporan Kabupaten/Kota

"Ini data sementara, mulai 9 hingga 11 Mei 2026. Masih akan diperbarui sesuai hasil verifikasi di lapangan," katanya dalam keterangan resminya pukul 09.32 Wita.

Cornelius merincikan, ribuan korban ini tersebar di Kecamatan Baruga, Poasia, Kambu, Wua-Wua, Kadia, dan Abeli.

Sementara kelurahannya yaitu Lepo-Lepo, Baruga, Anduonohu, Kambu, Wua-Wua, Wowawanggu.

Lalu Bonggoeya, Wundudopi, Bende, Pondambea, Anaiwoi, Abeli, Anggalomelai, dan Lapulu.

Selain permukiman warga, sawah seluas 59 hektare dan ruas jalan sepanjang 3,5 kilometer juga terendam turut digenangi air.

Baca juga: Update Banjir Kendari Sulawesi Tenggara Rendam 797 Rumah, 3.517 Warga Terdampak, 1 Bocah Hanyut

Tak hanya itu, BPBD Kendari juga mencatat adanya bencana alam berupa tanah longsor di dua kelurahan.

Yaitu Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia tepatnya di Jalan Kedondong yang menimpa enam rumah.

Sedang satu rumah lainnya berada di RT 11 RW 4, Kelurahan Punggaloba, Kecamatan Kendari Barat.

Ada pula pohon tumbang menimpa satu rumah di Kelurahan Baruga.

Lalu satu pohon melintang di Jalan H Abdul Hamid Kelurahan Bende.

Baca juga: 657 Rumah 2.985 Orang Terdampak Banjir Kendari Sulawesi Tenggara di 13 Kelurahan 7 Kecamatan

Serta satu pohon tumbang lainnya mengenai fasilitas umum di Kelurahan Sodohoa.

Bocah Hanyut

Di sisi lain, berdasarkan data yang dihimpun TribunnewsSultra.com, seorang bocah berinisial RA (5) dilaporkan hanyut terseret arus Kali Teplan saat banjir melanda Kota Kendari, Minggu (10/5/2026).

Korban diketahui hanyut saat bermain hujan bersama kakaknya.

Saat itu, RA disebut mencoba mengambil sandal milik sang kakak yang terbawa arus.

Warga Jalan Manunggal II RT 11 RW 04, Kelurahan Punggaloba, Kecamatan Kendari Barat, tersebut kemudian ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Baca juga: 274 Rumah hingga 642 Hektare Sawah Terdampak Banjir di 8 Kecamatan Kolaka Timur Sulawesi Tenggara

Jenazah korban ditemukan di muara Kali Teplan atau saluran Benu-Benua, tepatnya di kawasan Teluk Kendari, Jalan Pembangunan.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kemaraya, Iptu Busran, mengatakan, korban terseret arus kali yang saat itu sangat deras.

Pihak keluarga bersama warga sebelumnya sempat melakukan pencarian di lokasi awal korban bermain hujan bersama kakaknya.

“Titik penemuan jenazah berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi korban pertama kali hanyut di Kali Teplan,” kata Busran.

Hal senada disampaikan Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) atau Basarnas Kendari dalam keterangan tertulisnya.

Baca juga: Cerita Warga Anduonohu Kendari, Hanya Sempat Selamatkan Berkas Penting saat Banjir Datang Mendadak

Dalam penanganan bencana banjir di Kendari, Basarnas menerjunkan lima Tim Rescue SAR dengan total 57 personel untuk melakukan evakuasi warga terdampak banjir.

“Lima SRU (Search and Rescue Unit) diturunkan untuk mengevakuasi sejumlah warga yang terjebak banjir, 18 warga di evakuasi selamat,” tulis KPP.

“Dan satu anak (5), warga Jalan Manunggal II Kelurahan Punggaloba Kota Kendari meninggal dunia (MD),” lanjutnya.

Kepala KPP Kendari, Amiruddin AS, mengatakan korban banjir yang dievakuasi tersebar di sejumlah titik banjir di Kota Kendari.

Sebanyak 12 warga di antaranya dievakuasi di kawasan Kali Wanggu, Kelurahan Lepo-lepo, serta Kelurahan Amohalo, Kecamatan Baruga. (*)

(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.