TRIBUNSTYLE.COM - Dunia pelayaran internasional tengah diguncang oleh kabar duka dari kapal pesiar MV Hondius. Perjalanan yang seharusnya menjadi momen relaksasi justru berubah mencekam setelah wabah Andes hantavirus sebuah strain langka yang bisa menular antarmanusia merenggut tiga nyawa penumpang dan menginfeksi sejumlah orang lainnya.
Hingga Jumat (9/5/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus suspek. Kapal yang membawa 147 jiwa dari 24 negara ini kini telah berlabuh di perairan dekat Tenerife, Kepulauan Canary, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Kisah pilu ini bermula dari seorang pria asal Belanda berusia 70 tahun. Pada 6 April 2026, ia mulai merasakan tubuhnya tidak nyaman. Gejalanya tampak seperti sakit biasa, demam tinggi, sakit kepala, nyeri perut, hingga diare.
Namun, hanya dalam waktu lima hari, kondisi fisiknya merosot tajam. Ia mengalami gangguan pernapasan hebat sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir di atas kapal pada 11 April.
Tragedi ini ternyata menular ke lingkaran terdekatnya. Sang istri, yang berusia 69 tahun, menyusul jatuh sakit. Sempat turun di Pulau Saint Helena karena masalah lambung, ia pingsan dalam perjalanan menuju Belanda dan meninggal di rumah sakit Johannesburg pada 26 April. Tes molekuler mengonfirmasi, ia positif terinfeksi hantavirus.
Korban ketiga adalah seorang perempuan asal Jerman. Penyakitnya bermula dari demam ringan dan rasa tidak enak badan pada 28 April, yang kemudian dengan cepat berkembang menjadi pneumonia akut hingga ia meninggal dunia di atas kapal pada 2 Mei.
Baca juga: Perbedaan Wabah Hantavirus dengan Pandemi Covid-19, WHO: Ini Bukan Influenza, Penyebarannya Berbeda
Wabah ini tidak hanya menyerang penumpang lansia. WHO mencatat penyebaran yang mencakup berbagai peran di kapal:
Hantavirus umumnya dikenal sebagai virus yang ditularkan melalui hewan pengerat (tikus) dan menyerang sistem pernapasan manusia atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Penyakit ini sangat serius dengan tingkat kematian yang mencapai 38 persen bagi pasien yang mengalami gejala pernapasan berat.
Masa inkubasinya cukup panjang, berkisar antara satu hingga enam minggu. Hal inilah yang membuat WHO meminta seluruh penumpang memantau kesehatan mereka selama 45 hari ke depan.
Baca juga: Situasi Darurat di Atas Kapal Pesiar MV Hondius, 146 Orang Terjebak Wabah Hantavirus, 3 Orang Tewas
Yang membuat kasus MV Hondius ini begitu disorot adalah jenis virusnya: Andes hantavirus. Ini adalah satu-satunya strain hantavirus yang diketahui mampu berpindah dari satu manusia ke manusia lainnya melalui kontak dekat.
Meski terdengar menakutkan, Direktur Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, memberikan penegasan penting untuk meredam kepanikan:
“Virus ini tidak menyebar seperti flu atau Covid-19,” tegas Maria.
Penularan biasanya hanya terjadi pada kontak yang sangat dekat dan berkepanjangan, seperti pasangan suami istri atau orang yang berbagi ruang kabin yang sama dalam waktu lama.
Saat ini, proses pelacakan terhadap mantan penumpang terus dilakukan secara ketat. Bagi mereka yang berada di ruang tertutup kapal pesiar, kewaspadaan adalah kunci utama. Gejala awal yang mirip flu biasa seperti nyeri otot dan kelelahan tidak boleh lagi dianggap remeh demi memutus rantai penyebaran virus langka ini.