Badut Mojokerto Aniaya Istri dan Bunuh Mertua, Keluarga Ungkap Konflik Panjang, Cucu Diajak Ngamen
Talitha Daren May 11, 2026 08:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus pembunuhan yang menewaskan seorang perempuan paruh baya berinisial SA di Mojokerto terus menjadi perhatian publik.

Pihak keluarga korban kini angkat bicara membantah sejumlah pengakuan yang disampaikan tersangka S, yang merupakan menantu korban sendiri.

Sebelumnya, pelaku mengaku pernah diusir oleh mertuanya saat tinggal serumah, seolah menyiratkan adanya konflik berkepanjangan di dalam keluarga.

Namun, keluarga korban menilai pernyataan tersebut tidak disampaikan secara utuh dan justru memojokkan korban.

Adik ipar korban, yang juga berinisial SA, menjelaskan bahwa pengusiran itu dilakukan karena pihak keluarga mencurigai pelaku hendak melakukan tindakan tidak pantas terhadap istrinya sendiri, SW.

Ia menyebut masyarakat banyak yang belum mengetahui fakta sebenarnya sehingga muncul berbagai komentar negatif terhadap korban dan keluarganya.

Menurut keluarga, perselisihan antara korban dan pelaku juga dipicu persoalan perebutan cucu hingga dugaan memperalat anak untuk diajak mengamen.

Kasus tragis tersebut terjadi di sebuah rumah kontrakan di Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Mojokerto, pada Rabu (6/5/2026).

Dalam kejadian itu, tersangka S diduga membunuh mertuanya dan juga menganiaya sang istri.

Kini, keluarga korban berharap masyarakat tidak langsung mempercayai seluruh pengakuan pelaku sebelum proses hukum selesai dilakukan pihak kepolisian.

Baca juga: Kronologi Menantu Bunuh Ibu Mertua di Pekanbaru, Berawal dari Rencana Rampok Berujung Pembunuhan

Dianggap Memperalat Anak untuk Diajak Mengamen

SA melanjutkan, korban dan menantunya itu pernah terlibat perselisihan tentang pengusiran dan rebutan cucu.

Pihak keluarga merasa, tersangka S memperalat anaknya untuk kemudian diajak mengamen.

Sementara dari pengakuan S sebelumnya, ia membawa anaknya bekerja sebagai penjual balon dan mengamen dengan kostum badut lantaran sang istri menolak merawatnya.

"Pernah diusir dan rebutan anak, karena (korban/mertua) tidak memperbolehkan cucunya diajak ngamen (badut). Bawa anak, kerja keras siang dan malam memang benar. Tapi orang tahu kulitnya saja, tidak tahu dalamnya seperti apa," terangnya.

Baca juga: Cara Mantan Menantu Menghabisi Nenek di Pekanbaru, Jadi Otak Pembunuhan & Curi Hartanya untuk Pesta

KASUS BADUT MOJOKERTO - Kasus badut Mojokerto aniaya istri dan bunuh mertua (Via Kompas.com)

Kronologi Kejadian, Bermula dari Paket COD

Peristiwa bermula sekitar pukul 08.30 WIB. Menurut saksi mata, Nur Aida (32), korban Siti Arofah awalnya datang ke rumah kontrakan pelaku yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya untuk mengabarkan adanya paket COD.

"Ada paket COD buat Bu Yuni (istri pelaku). Mertuanya memanggil, tapi rumah dikunci. Digedor-gedor tidak menjawab, akhirnya korban masuk lewat pintu belakang," ujar Aida dilansir dari TribunJatim.

Nahas, saat masuk ke dalam rumah, korban mendapati tersangka tengah menganiaya istrinya.

Dalam kondisi panik karena aksinya ketahuan, tersangka yang sehari-hari bekerja sebagai penjual balon berkostum badut tersebut gelap mata.

Ia mengambil pisau dapur dan menusuk mertuanya di bagian leher serta perut hingga korban meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP).

Baca juga: Mantan Menantu Jadi Otak Kasus Pembunuhan Nenek di Pekanbaru, Dua Pelaku Lelaki Ditembak Polisi

Ilustrasi jenazah - Seorang pria tak percaya saat mendapat kabar kalau ayahnya meninggal dunia karena tertabrak kereta. Pasalnya ia mengaku melihat ayahnya pulang
KASUS BADUT MOJOKERTO - (Ilustrasi jenazah) Kasus badut Mojokerto aniaya istri dan bunuh mertua(TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma)

Motif, Panik dan Sakit Hati

Kapolres Mojokerto, AKBP Andi Yudha Pranata, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, motif utama pembunuhan ini adalah kepanikan tersangka saat melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

"Tersangka S dalam kondisi panik dan terdesak karena ketahuan ibu mertuanya melakukan KDRT. Begitu mertuanya masuk, dia langsung melakukan aksi penusukan tersebut secara spontan," kata AKBP Andi dalam konferensi pers di Mapolres Mojokerto, Kamis (7/5/2026).

Selain faktor kepanikan, terungkap pula adanya konflik terpendam. Tersangka mengaku menyimpan sakit hati terhadap korban karena merasa sering diperlakukan semena-mena.

"Hasil penyidikan mengungkap tersangka sakit hati dengan korban, merasa tidak dihargai sebagaimana mestinya seorang menantu," imbuh Andi.

(TribunTrends.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.