POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di sebuah rumah di Dusun Semalar, Desa Dendang, duduk santai seorang remaja bernama Riski (13), Senin (11/5/2026). Tubuhnya mungil untuk ukuran anak seusianya, dengan berat hanya 27,8 kilogram.
Riski baru saja menyelesaikan rutinitas bulanannya, yaitu transfusi darah. Rumah sakit telah menjadi tempat yang wajib ia datangi untuk mempertahankan hidup.
Sejak usianya baru menginjak tujuh bulan, hidupnya sudah berkaitan erat dengan dunia medis. Thalasemia, penyakit genetik yang diwarisinya, membuat sumsum tulangnya gagal memproduksi sel darah merah dalam jumlah cukup.
Sang ibu, Hanafiah (50), masih ingat betul bagaimana trauma masa lalu menghantamnya saat dokter mendiagnosis Riski.
Hal itu karena jauh sebelum Riski lahir, Hanafiah telah kehilangan seorang anak di usia sembilan tahun akibat penyakit yang sama.
"Jatuh air mata Ibu, kasihan sama anak aku. Lagi-lagi kena," ujar Hanafiah.
Bagi Riski, menjadi penyintas thalasemia berarti harus berdamai dengan rasa pusing yang tiba-tiba datang saat ia sedang asyik bermain.
Ketika jadwal transfusi mendekat, tubuh Riski akan memberi sinyal. Kepalanya mulai pusing, langkahnya melambat, dan semangat sekolahnya perlahan memudar.
"Kalau sudah dekat waktu transfusi, aku lapor ke mak kalau agak pusing. Jadi biasanya tidak sekolah," ucap Riski.
Meski begitu, Riski tidak merasa terbebani secara berlebihan dalam menjalani hidup seperti sekarang. Di depan teman-temannya, ia tetaplah Riski yang gemar memancing dan rajin pergi ke masjid untuk beribadah.
Riski tidak ingin penyakit ini membatasinya, meski sang ibu sering kali merasa cemas jika ia pergi terlalu jauh.
Namun, tersimpan luka batin yang sesekali keluar dari mulut Riski, terutama saat emosinya sedang tidak terkendali.
"Kadang kalau aku marah atau sedih, aku tanya ke mak kenapa aku dilahirkan dalam keadaan sakit. Apa mak kesal punya anak seperti aku yang nambah darah terus," ungkapnya.
Mendengar itu, Hanafiah hanya bisa memeluk erat putranya. Ia selalu meyakinkan Riski bahwa kehadirannya bukanlah beban bagi keluarga.
"Tidak, Mak tidak pernah kesal. Jangan bicara begitu, enggak baik tahu," ujar Hanafiah.
Dari perbincangan diketahui sang ayah juga mengidap penyakit yang sama dan harus rutin menjalani transfusi setiap dua atau tiga bulan sekali. Hal itu semakin menguatkan bahwa thalasemia merupakan penyakit genetik.
Setiap bulan, perjalanan panjang dari Dendang menuju Manggar harus mereka tempuh. Dengan menaiki bus Damri dan biaya Rp40 ribu per orang, Riski dan keluarganya setia mengunjungi RSUD Muhammad Zein Manggar.
Di sana, Riski sudah dikenal baik oleh petugas medis. Ia bahkan sudah tidak lagi menangis saat jarum menembus kulitnya. Ketabahan itu ternyata melahirkan sebuah cita-cita unik di benak Riski.
Saat ditanya tentang impiannya di masa depan, Riski sempat malu-malu. Namun tak lama kemudian ia menjawab sambil tersenyum.
"Ingin jadi perawat, Pak. Biar bisa gantian nyuntik orang," candanya.
Meskipun pertumbuhan Riski terbilang lambat dengan tinggi badan hanya 130 sentimeter dan berat 27,5 kilogram, semangat hidupnya sangat besar.
Adapun setelah menjalani transfusi darah, Riski mengaku tubuhnya kembali segar seperti terlahir kembali.
"Kalau sudah transfusi, jadi bagus lagi, sekolah lagi," ungkapnya.
Di sisi lain, Hanafiah sebagai ibu tentu tidak pernah lepas dari rasa takut. Trauma kehilangan anak pertama selalu membayangi setiap kali Riski masuk ke ruang perawatan.
Akan tetapi, Hanafiah memilih berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Ibu pasrahkan saja. Yang penting Ibu sudah cukup berusaha sejauh ini. Rasa takut itu ada, tapi Ibu tetap jalan demi anak," ujarnya.
Wawancara pun berakhir ditandai Riski yang berlari menuju dapur, kembali ke dunianya sebagai anak kecil yang ingin bebas bermain. Di balik keceriaan itu, Riski tetaplah seorang pejuang yang terus mengejar masa depannya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)