POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Tak disangka, penyakit genetik thalasemia ternyata menjadi perhatian serius dalam kesehatan anak di Belitung Timur, Senin (11/5/2026).
Hingga saat ini, tercatat ada delapan pasien anak yang secara rutin menjalani perawatan dan transfusi darah di RSUD Muhammad Zein, Manggar setiap bulannya.
Dokter Spesialis Anak RSUD Muhammad Zein, Yohannes Adinatha menjelaskan bahwa kedelapan pasien tersebut terdiri atas tujuh anak berusia di bawah 18 tahun, sedangkan satu lainnya telah berusia di atas 18 tahun. Bahkan, pasien termuda yang ditangani saat ini baru menginjak usia dua tahun.
"Ada delapan anak yang rutin tiap bulan datang kontrol untuk mendapatkan transfusi darah. Usianya bervariasi, ada yang paling kecil dua tahun, ada yang sudah sekolah kelas 6 SD hingga SMA," ujar dr. Yohannes saat ditemui di Manggar, Senin (11/5/2026).
dr. Yohannes juga mengatakan, untuk satu pasien yang sudah melewati usia 18 tahun tidak lagi diarahkan ke spesialis anak, melainkan ke spesialis penyakit dalam.
Menurut dr. Yohannes, penanganan thalasemia pada anak memerlukan kedisiplinan tinggi dari orang tua. Pasalnya, penderita penyakit ini mengalami kelainan pada sel darah merah yang menyebabkan kadar hemoglobin (HB) terus menurun secara tidak wajar.
dr. Yohannes menjelaskan bahwa gejala thalasemia pada anak sebenarnya cukup klasik dan bisa dikenali orang tua sejak dini. Biasanya, gejala mulai tampak saat anak memasuki fase aktif, seperti merangkak, duduk, atau berjalan.
"Gejala utamanya adalah anak tampak pucat karena kadar HB yang rendah. Selain itu, anak akan terlihat lemah, letih, dan lesu, berbeda dengan kondisi anak-anak pada umumnya," ucapnya.
Jika kondisi ini tidak segera ditangani dan tubuh tidak mampu lagi mengompensasi kekurangan HB, akan muncul tanda-tanda fisik yang lebih spesifik. Salah satunya adalah facies cooley, yaitu kondisi penonjolan tulang-tulang pada area wajah.
Selain itu, dr. Yohannes juga menyebut thalasemia bisa memicu pembesaran organ dalam atau organomegali.
"Biasanya ketahuan liver (hati) atau limpanya membesar. Untuk memastikannya, tentu harus melalui pemeriksaan laboratorium darah," ungkapnya.
Dari tujuh pasien yang ada di Belitung Timur, tiga di antaranya telah ditangani secara intensif sejak awal oleh dr. Yohannes sejak dirinya bertugas di RSUD pada tahun 2020. Ia bersyukur karena sejauh ini para orang tua pasien memiliki kesadaran tinggi untuk melakukan kontrol rutin.
"Mereka sudah sadar, kalau badan anaknya sudah lemas dan pucat, mereka langsung datang. Rata-rata siklusnya empat minggu sekali," ujar dr. Yohannes.
dr. Yohannes juga mengimbau masyarakat Belitung Timur untuk tidak takut melakukan pemeriksaan dini. Deteksi awal sangat penting agar anak mendapatkan penanganan yang tepat sebelum terjadi komplikasi yang lebih berat.
Orang tua diharapkan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika menemukan gejala pucat yang tidak wajar, anak mudah lemas, atau muncul lebam pada tubuh tanpa sebab yang jelas.
"Ketika anemia itu muncul berulang, kita harus curiga. Minimal monitor dari darahnya dulu untuk melihat kondisinya. Intinya adalah pemantauan yang konsisten dari orang tua," tutupnya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)