Laporan Wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nasir I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky melepas keberangkatan Jamaah Haji Kloter 7 pada Senin (11/5/2026) sore, di Asrama Haji Embarkasi Aceh.
Jamaah Kloter 7 tersebut berasal dari Kabupaten Aceh Timur, Pidie, Aceh Utara, dan Kota Banda Aceh.
Kloter 7 masuk ke asrama pada Senin pagi dan dijadwalkan bertolak ke Tanah Suci pada Selasa (12/5/2026) siang pukul 11.40 WIB, dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.
Dalam sambutannya, Iskandar menyampaikan bahwa ibadah haji merupakan panggilan istimewa dari Allah SWT yang tidak semua orang bisa mendapatkannya, meski memiliki kekuatan, jabatan, ataupun harta berlimpah.
“Di luar sana banyak orang yang masih kuat, masih kokoh, punya jabatan dan perusahaan besar, tapi belum mendapat panggilan berhaji,” ujar Bupati Aceh Timur.
“Sementara bapak dan ibu yang mungkin sudah tidak sekuat dulu lagi, justru dipanggil menjadi tamu Allah di Baitullah,” kata Iskandar.
Baca juga: Tiap Orang Dapat Hingga Rp12,5 Juta, Jamaah Haji Aceh Kantongi Uang Jajan Terbanyak di Tanah Suci
Ia mengatakan, semua orang memiliki impian yang sama untuk melihat Kakbah secara langsung, namun tidak semua mendapat kesempatan tersebut.
“Semua orang punya impian yang sama, tapi bapak dan ibu mendapat kesempatan melihat Kakbah,” ujarnya.
Iskandar juga mengaku dirinya bersama keluarga sudah mendaftar haji.
Namun hingga kini belum mendapat panggilan keberangkatan karena antrean masih panjang.
Menurutnya, para jamaah nantinya akan bertemu umat Islam dari berbagai penjuru dunia dengan beragam bahasa, budaya, dan warna kulit.
Ia pun mendoakan seluruh jamaah agar diberikan kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Kami doakan berangkat dalam keadaan sehat dan selamat. Setiba di Mekkah dapat menjalankan ibadah tanpa kendala dan menjadi haji serta hajah yang mabrur,” ucapnya.
Baca juga: Hingga Minggu, 1.964 Jamaah Haji Aceh Sudah di Tanah Suci
Iskandar mengingatkan jamaah agar menjaga kesehatan, memperbanyak istirahat, serta rutin minum air putih mengingat suhu di Arab Saudi saat ini mencapai 40 hingga 42 derajat Celcius.
“Jaga kesehatan karena keluarga di kampung menanti kepulangan bapak dan ibu dengan selamat,” pesan dia.
“Nanti ada yang akan menyambut dengan tepung tawar, ada yang menyambut dengan shalawat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh jamaah menjaga kekompakan selama berada di Tanah Suci.
“Tidak ada lagi istilah Jamaah Aceh Timur atau daerah lain. Semua bersatu atas nama Jamaah Aceh. Harus saling membantu dan saling menjaga,” pesannya.
Di akhir sambutan, Iskandar meminta doa dari para jamaah untuk masyarakat dan Pemerintah Aceh Timur agar diberikan kekuatan dalam menjalankan amanah.
“Doakan Aceh dan khususnya Aceh Timur agar para pemimpinnya mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik, dijauhkan dari fitnah, termasuk fitnah di media sosial maupun fitnah berbasis AI yang bisa membunuh karakter seseorang,” katanya.
Baca juga: Rp 9,2 Juta per Jamaah Haji, Dana Wakaf Baitul Asyi Mulai Dibagikan
Ia juga mengingatkan jamaah untuk mempersiapkan kondisi fisik menjelang puncak ibadah haji di Muzdalifah dan Armuzna yang membutuhkan stamina prima.
Diketahui, Sebanyak 2.352 jamaah haji asal Aceh kini telah berada di Tanah Suci dari total 5.426 jamaah yang tergabung dalam 14 kelompok terbang (kloter).
Jamaah yang sudah diberangkatkan merupakan kloter 1 hingga kloter 6.
Ketua PPIH Embarkasi Banda Aceh, Arijal, Senin (11/5/2026), mengatakan, Kloter 1 yang masuk dalam gelombang pertama saat ini berada di Madinah.
Sementara jamaah Kloter 2 hingga Kloter 6 yang tergabung dalam gelombang kedua telah berada di Mekkah.
“Kloter 1 saat ini berada di Madinah, insya Allah kamis depan mereka akan berangkat menuju Mekkah Al Muakarramah,” ujar Arijal.
Arijal juga menyampaikan, hingga saat ini terdapat enam open seat atau calon jamaah haji yang batal berangkat ke Arab Saudi.
Penyebabnya beragam, mulai dari meninggal dunia, sakit parah, hingga ada jamaah yang batal berangkat karena suaminya meninggal dunia.
Karena batas akhir pembuatan visa sudah berakhir, kursi jamaah yang batal tersebut tidak bisa lagi digantikan oleh jamaah lain.(*)