Waspada! Hantavirus Masuk Indonesia: Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya
Hironimus Rama May 11, 2026 11:35 PM

Laporan Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Ancaman kesehatan baru dari hewan pengerat kini tengah menjadi sorotan di wilayah Jabodetabek.

Setelah dunia internasional dihebohkan dengan kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi kini diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul temuan kasus di dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tercatat sebanyak 23 kasus Hantavirus di Indonesia sejak tahun 2024 hingga pertengahan Mei 2026, dengan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: UI - Shanghai Cangyou Jalin Kerja Sama, Kembangkan Industri Kreatif Digital dari Anime hingga Game 

Kondisi Terkini di Jakarta dan Depok

Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI mencatat adanya empat kasus sepanjang tahun 2026. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa mayoritas pasien telah pulih.

“Di 2026 yang ada di catatan kami sepanjang 2026, sampai sekarang ini ada 4 kasus yang sudah kita temukan, 3 orangnya sudah sembuh, bergejala ringan. Satu orangnya sekarang masih suspek, harus ditetapkan penegakan diagnosisnya melalui laboratorium,” ujar Ani di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (11/05/2026).

Ani menegaskan, temuan kasus di Jakarta tidak berasal dari penularan luar negeri maupun terkait evakuasi kapal pesiar yang ramai diperbincangkan di Inggris.

"Bukan (klaster kapal pesiar). Itu kasus yang kita monitor sepanjang tahun," ujar Ani saat ditemui di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (11/5/2026).

Cara Penularan: Waspadai Urine dan Kotoran Tikus

Berbeda dengan Hantavirus Andes (AND) di Amerika Selatan yang bisa menular antarmanusia, varian Hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini hanya menular dari hewan ke manusia. 

Penularan biasanya terjadi melalui kontak dengan sisa metabolisme tikus yang terinfeksi.

"Penularannya melalui tikus; air liur, air seni, kotoran tikus yang terkontaminasi ke manusia atau kemudian debunya terhirup oleh manusia," jelas Ani.

Ia menambahkan, sejauh ini, varian yang menular antarmanusia (Andes) belum ditemukan di Indonesia. 

Oleh karena itu, risiko utama tetap berasal dari lingkungan yang tidak higienis dan populasi tikus yang tidak terkendali.

Kondisi Pasien dan Prosedur Isolasi

Meskipun mayoritas pasien di Jakarta hanya mengalami gejala ringan, Dinkes DKI tetap menerapkan prosedur penanganan yang ketat. 

Pasien yang berstatus suspek tetap harus menjalani isolasi di ruangan khusus untuk mencegah potensi penularan lebih luas.

"Prinsipnya adalah isolasi untuk kehati-hatian sampai kemudian dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Dan sejauh ini semua kasus yang muncul di Jakarta gejalanya ringan, dan tiga itu sudah sembuh semua," tambahnya.

Langkah Pencegahan

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Devi Maryori, mengingatkan bahwa sanitasi buruk menjadi faktor utama penyebaran virus ini melalui tikus.

“Penularan hantavirus umumnya berasal dari urine, feses, atau air liur tikus yang mengontaminasi debu dan kemudian terhirup oleh manusia,” jelas Devi.

Untuk menekan risiko penyebaran, pihak kesehatan mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah-langkah konkret berikut:

Gunakan Masker saat Bersih-bersih: Waspadai debu di area gudang atau lokasi yang jarang terjamah.

Terapkan PHBS: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta menjaga sanitasi lingkungan rumah agar tidak menjadi sarang tikus.

Gunakan Alas Kaki: Selalu gunakan sandal atau sepatu saat beraktivitas di area yang berisiko terkontaminasi.

Pengendalian Tikus: Memutus rantai populasi tikus di sekitar pemukiman secara rutin.

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan risiko global masih rendah, penemuan kasus dengan gejala ringan di Jakarta tetap menuntut kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan.

Segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam setelah melakukan kontak dengan area yang dihuni tikus.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.