Negara Teluk Kini Lirik Turki, Urusan Pertahanan Emoh Bergantung ke AS
Willem Jonata May 11, 2026 11:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Seiring meningkatnya ketegangan regional akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, negara-negara Arab mulai mengambil langkah berbeda dari sebelumnya.

Mereka tak lagi sepenuhnya bergantung pada sistem pertahanan buatan Amerika Serikat.

Lambatnya pengiriman senjata dari AS, dipicu penumpukan pesanan yang mengular, membuat negara-negara seperti Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Arab Saudi mulai memalingkan pandangan ke Turki sebagai mitra pertahanan utama mereka.

Meskipun negara-negara Teluk memiliki sistem pertahanan udara yang canggih, mereka kini menghadapi tantangan serius dari serangan drone jarak jauh Iran yang mampu melumpuhkan sistem radar.

Baca juga: Indonesia dan Turki Sepakat Bangun Produksi Drone Tempur Siluman KIZILELMA

Di sisi lain, persediaan amunisi untuk sistem pertahanan buatan AS mulai menipis, sementara pengiriman stok baru dari Washington memakan waktu bertahun-tahun.

Kesenjangan waktu inilah yang dimanfaatkan Turki. Pada pameran pertahanan Saha Expo yang baru saja berakhir, negara-negara Teluk menunjukkan kehadiran dominan.

Mereka tidak sekadar melihat-lihat, tapi langsung memborong berbagai alutsista canggih.

Negara-negara Teluk borong teknologi pertahanan Turki 

Menteri Pertahanan Kuwait, Syekh Abdullah Ali Abdullah Al Sabah, secara resmi menandatangani protokol pembelian sistem militer dari raksasa pertahanan Turki seperti Aselsan, Havelsan, dan produsen drone ternama, Baykar.

Kuwait dilaporkan sangat tertarik pada drone Akinci dan sistem pertahanan udara Hisar yang dirancang untuk menangkal ancaman di ketinggian rendah dan menengah.

Sementara itu, Arab Saudi dan Qatar dikabarkan telah menandatangani kontrak untuk membeli sistem anti-drone Korkut 100/25 buatan Aselsan.

Sistem ini sangat efektif melawan drone kecil yang kini menjadi ancaman utama di medan perang modern.

Arab Saudi bahkan melirik teknologi terbaru berupa sistem anti-drone berbasis laser yang bisa dipasang di truk kecil.

Salah satu alasan utama mengapa senjata Turki semakin diminati adalah fleksibilitas dan kecepatan produksinya.

Berbeda dengan AS yang sering memberikan syarat ketat, Turki menawarkan opsi yang lebih "menggiurkan".

"Negara-negara Teluk menyadari bahwa mereka bisa mendapatkan sistem dari Turki dalam jangka waktu yang lebih cepat. Bahkan, ada opsi untuk lokalisasi produksi dan pengembangan bersama," ujar sumber dari industri pertahanan Turki, dikutip Middle East Eye.

Minat terhadap senjata Turki ini juga mulai merambah ke negara-negara yang secara tradisional bersifat netral seperti Oman, serta negara tetangga seperti Irak yang tengah memfinalisasi pembelian 20 sistem pertahanan udara.

Meskipun Turki masih membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 5 tahun lagi menyempurnakan sistem pencegat rudal balistik guna menyaingi kelas Patriot atau THAAD, kepercayaan negara-negara Arab terhadap teknologi Ankara telah membuktikan satu hal: dominasi tunggal Amerika Serikat di pasar senjata Timur Tengah mulai goyah.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.