Pemalsuan Tes DNA di Saga Jepang, Asosiasi Pengacara  Desak Polisi  Lakukan Investigasi Independen
Eko Sutriyanto May 12, 2026 06:20 AM

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Kasus pemalsuan hasil tes DNA yang melibatkan mantan pegawai Laboratorium Forensik Kepolisian Prefektur Saga Jepang kembali memicu sorotan publik di Jepang. Asosiasi Pengacara Prefektur Saga secara resmi mengajukan permintaan kepada Kepolisian Prefektur Saga agar dilakukan investigasi independen terhadap kasus tersebut.

Permintaan itu disampaikan pada 30 April 2026 dan merupakan pengajuan kedua setelah sebelumnya dilakukan pada Oktober tahun lalu. 

Selain kepada Kepolisian Prefektur Saga, dokumen permintaan yang sama juga dikirimkan kepada Badan Kepolisian Nasional Jepang.

"Dalam surat permohonan tersebut, asosiasi pengacara menilai laporan sementara hasil inspeksi khusus dari Badan Kepolisian Nasional masih belum memadai," ungkap sumber Tribunnews.com Selasa (12/5/2026).

Mereka menilai laporan itu belum menjelaskan secara rinci bagaimana proses kasus terjadi maupun bagaimana hasil tes DNA tersebut digunakan dalam proses penyelidikan kriminal.

Baca juga: Dari Jepang, Nyoman Popo Priyatna Danes  Mengangkat Filosofi Bali ke Panggung Arsitektur Dunia

Karena itu, asosiasi pengacara kembali mendesak pembentukan lembaga pihak ketiga independen untuk menyelidiki kasus tersebut secara menyeluruh.

Selain meminta investigasi independen, mereka juga meminta agar pihak asosiasi pengacara diberikan kesempatan untuk melakukan inspeksi langsung terhadap Laboratorium Forensik Kepolisian Saga serta ruang penyimpanan barang bukti dan dokumen hasil tes DNA.

Pada hari pengajuan tersebut, Ketua Asosiasi Pengacara Saga, Takenori Nagao bersama sekitar 10 anggota tim proyek khusus mendatangi markas Kepolisian Prefektur Saga.

Kepada media, Nagao menyatakan kekecewaannya karena permintaan sebelumnya tidak mendapatkan jawaban jelas dari pihak kepolisian.

“Kami mulai mempertanyakan apakah Kepolisian Prefektur Saga benar-benar serius menghadapi masalah ini. Diperlukan pemeriksaan fakta yang menyeluruh,” ujarnya.

Kasus ini menjadi perhatian besar karena tes DNA merupakan salah satu alat bukti paling penting dalam sistem peradilan pidana Jepang. 

"Jika terjadi manipulasi atau kesalahan dalam proses pemeriksaan, maka dapat memengaruhi hasil penyelidikan hingga putusan pengadilan," katanya.

Mantan pegawai Laboratorium Forensik Saga yang terlibat dalam kasus ini sebelumnya telah dijatuhi hukuman pemecatan disipliner oleh kepolisian. 

Namun hingga kini, detail lengkap mengenai jumlah kasus yang terdampak maupun kemungkinan salah vonis masih belum sepenuhnya terungkap.

Perkembangan kasus ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan publik dan komunitas hukum Jepang, terutama terkait transparansi investigasi serta kepercayaan masyarakat terhadap sistem penegakan hukum Jepang.
Yang didakwa tanpa penahanan atas tuduhan pembuatan dan penggunaan dokumen resmi palsu serta penghancuran barang bukti adalah mantan kepala seksi pertama bagian forensik Laboratorium Kriminal Kepolisian (Kasoken), Takehiro Tominaga (42 tahun).

Sejak 16 Oktober 2024 hingga mengambil cuti pada Maret 2025, ia tetap bekerja dan terlibat dalam tugas mengembalikan sisa sampel hasil pemeriksaan yang pernah ia tangani kepada kantor polisi peminta pemeriksaan.

Menurut surat dakwaan, dari empat kasus pemalsuan barang bukti, dua di antaranya dilakukan antara Januari 2025 hingga sekitar 7 Februari, saat Kepolisian Prefektur Saga menarik seluruh dokumen dan barang bukti untuk menyelidiki dugaan pelanggaran tersebut.

Diskusi  beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.