Hantavirus Gegerkan Publik, Kemenkes Tegaskan Kasus di Indonesia Berbeda dengan di Kapal MV Hondius
Eri Ariyanto May 12, 2026 06:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan terkait penyebaran virus tersebut di kapal pesiar MV Hondius yang sempat menghebohkan dunia internasional.

Kondisi itu memicu kekhawatiran masyarakat karena hantavirus dikenal sebagai penyakit yang dapat menular melalui paparan tikus atau kotorannya dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius.

Menanggapi keresahan yang berkembang, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni akhirnya buka suara untuk memberikan penjelasan resmi kepada masyarakat.

Kemenkes menegaskan bahwa kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia memiliki karakteristik berbeda dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.

Perbedaan tersebut disebut mencakup jenis virus, pola penularan, hingga kondisi epidemiologis yang ditemukan pada masing-masing kasus.

Pihak Kemenkes juga memastikan bahwa hingga saat ini situasi di Indonesia masih dalam pemantauan dan belum menunjukkan adanya kondisi darurat kesehatan seperti yang dikhawatirkan publik.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat liar.

Kemunculan kasus ini pun langsung ramai diperbincangkan di media sosial setelah banyak warga mempertanyakan potensi penyebaran hantavirus di Tanah Air.

Berikut penjelasan lengkap Kemenkes terkait perbedaan hantavirus di Indonesia dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.

Baca juga: Fakta Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Samudra Atlantik, WHO Pastikan Bukan Pandemi

Seperti diketahui, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengungkapkan bahwa Hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Andi menuturkan, Hantavirus di Indonesia berbeda tipe sehingga sampai saat ini belum ada bukti penularan Hantavirus tipe HPS.

"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," kata Andi dalam konferensi pers, Senin (11/5/2026).

Dia menyebut, kasus hantavirus secara global tersebar di Eropa, Amerika, dan Asia.

Sementara di Indonesia, sejak 2024-2026 tercatat 23 kasus HFRS, tanpa temuan tipe HPS.

"Virus Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS, sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius," imbuhnya.

WABAH PENYAKIT - Infografis terkait wabah Hanta Virus.
WABAH PENYAKIT - Infografis terkait wabah Hanta Virus. (Dok./puskesmasjagasatru.cirebonkota.go.id)

Andi menjelaskan, Hantavirus tipe HPS disebabkan strain Andes virus atau dalam penelitian dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Berbeda dengan tipe HFRS yang ada di Asia dan Indonesia, yang hingga kini belum ada bukti penularan antar-manusia.

"Saya sampaikan bahwa untuk tipe HRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," jelasnya.

Menurut Andi, faktor risiko penularan Hantavirus tipe HFRS ini karena kontak dengan tikus atau celurut melalui gigitan, urin, feses, maupun debu yang telah terkontaminasi.

"Ada gambarnya bagaimana pekerjaan (berisiko) yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, petani, juga dengan daerah yang tergenang banjir, aktivitas di area berisiko seperti ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," ucapnya.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.