Sejumlah Pasar Modern di Kalsel Sepi, Pasar Bauntung Banjarbaru Hanya Ramai Akhir Pekan
Irfani Rahman May 12, 2026 06:48 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARBARU - Sejumlah pasar tradisional modern di beberapa kabupaten kota di Kalimantan Selatan dalam kondisi menyedihkan. Pengunjungnya menyusut drastis hingga ditinggal pedagang.

Ini antara lain terjadi di ibu kota Kalsel, Banjarbaru. Kendati baru berusia enam tahun, pengunjung Pasar Bauntung Jalan RO Ulin tidak seramai dulu.

Pasar pindahan dari Jalan Lanan yang diresmikan pada 16 Februari 2021 tersebut juga ditinggalkan sejumlah pedagang. Banyak kios dan lapak kosong.

Pantauan Minggu (10/5), sejumlah kios di dalam pasar ditempeli surat tunggakan retribusi oleh pengelola. Keramaian pengunjung hanya terlihat pada barisan lapak yang menjual kebutuhan pokok seperti sembako, sayur dan ikan atau los basah. Sedangkan kios yang menjual pakaian tidak terlalu ramai.

Seorang pedagang, Maria, mengatakan pengunjung ramai hanya pada akhir pekan yaitu Sabtu dan Minggu, sedangkan hari lain sepi. Ia, yang sudah cukup lama berjualan di Pasar Bauntung, mengaku hanya bisa pasrah. “Kadang laku kadang tidak. Tapi terpaksa dijalani karena kerjaan sehari-hari,” ujarnya.

Belakangan banyak pedagang pindah berjualan dan memilih mengampar lapak di tempat lain seperti Jalan Jati dan Jalan Kemuning, yang berdekatan dengan lokasi lama pasar.

Di sana pedagang sayur hingga kebutuhan rumah tangga lainnya mengampar lapak di sisi kiri kanan jalan.

Hal serupa dialami pasar modern di Kota Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Sebagian bangunan digunakan untuk Mall Pelayanan Publik (MPP) dengan harapan mampu meningkatkan jumlah pengunjung. Namun tampaknya langkah ini belum berdampak signifikan.

Siti Rahmah, penjual makanan di Pasar Modern Amuntai, mengatakan sejak akhir 2025 setidaknya ada tiga pedagang yang tutup toko. “Dua toko tutup dan satu bergabung dengan yang lain. Pedagang aksesori dan pakaian yang tutup karena sudah banyak orang membeli melalui online,” ujarnya, Sabtu (9/5).

Menurut Rahmah, pasar hanya ramai pada hari tertentu seperti Minggu atau hari libur serta Kamis, yang merupakan hari pasar.  “Saat lebaran juga cukup ramai namun kurang ramainya jika dibandingkan lima tahun lalu.  Apalagi saat ini banyak toko yang tutup,” ujarnya.

Sebelumnya beberapa toko yang kosong direnovasi dan dimanfaatkan untuk MPP. Namun untuk di bagian sebelah kiri bangunan masih berupa toko kosong. Sedang lantai dua dimanfaatkan untuk pedagang pakaian, produk serbalima ribu serta permainan anak. Untuk tempat biliar sudah ditutup dan rencananya digunakan oleh kantor pemerintah kabupaten.

Hatriah, pengunjung, mengaku datang dari Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan. Dia datang bersama bersama rombongan ziarah.

“Beberapa barang pecah belah memang lebih murah. Sayangnya tangga berjalan tidak lagi berfungsi sehingga sulit bagi orang tua seperti kami,” ujarnya.

Tinggal hitungan hari, H Rasidah, pedagang di Pasar Paringin Balangan, akan menutup Toko Annisa Sport. Hal ini karena pasar di Jalan A Yani, Paringin, tersebut sepi pengunjung.

Penjualan perlengkapan olahraganya pun berkurang seiring maraknya jual beli online. Sedangkan Rasidah mengaku tidak memiliki kemampuan memasarkan produknya secara online.

Rasidah pun ingin menyewakan tokonya.

Sejak dibukanya Pasar Paringin pada 2002, Rasidah membuka toko di tempat tersebut. Ia menggunakan dua toko berdampingan dengan pembayaran retribusi secara rutin kepada pemerintah daerah melalui UPT Pasar Paringin.

Nominal retribusi yang dibayarkan dahulu  Rp 65.000 plus biaya kebersihan. Namun sekarang hanya Rp 30.000 khusus untuk retribusi Hak Guna Bangunan atau pemanfaatan toko.

Dulu, katanya, Pasar Paringin selalu ramai pembeli. Namun beberapa tahun belakangan, kondisi pasar mulai sepi. Ditambah lagi banyak toko yang sudah tutup dan tak ada pemiliknya.

“Kalau sekarang sudah tidak seramai dulu. Tapi alhamdulillah ada saja pembeli setiap hari,” katanya, Minggu.

Di usia senjanya, Rasidah memilih istirahat untuk berdagang, sehingga beberapa waktu lalu banyak barang yang ia jual murah.

Dari pantauan, memang banyak pertokoan yang sudah tutup atau tidak ada pedagangnya.  Pasar yang terdiri dari dua lantai ini, hampir separuh jumlah toko sudah tak dihuni. Bisa mencapai puluhan toko.

Pasar Paringin akan ramai saat jadwal pasar mingguan yakni Senin. Namun toko-toko yang tutup di hari biasa kebanyakan juga tetap kosong, tak ada yang mengisi.

Kendati mulai sepi, pedagang tetap memilih buka di Pasar Paringin setiap harinya, terutama mereka yang bisa memanfaatkan penjualan sistem online dan yang sudah memiliki pelanggan tetap.

Sebagaimana disampaikan Shelin, pedagang baju. Ia memilih berjualan di toko dan melalui daring. Sepinya pasar, menurutnya, dimulai sejak pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. (riz/nia/ell)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.