Kapan Suporter Bersikap Dewasa?
Irfani Rahman May 12, 2026 06:48 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- LIGA 2 Championship 2025/2026 telah berakhir. PSS Sleman dan Garudayaksa FC melakoni laga partai puncak di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (9/5). Secara teknis Pegadaian Championship 2025/2026 sudah bisa dikatakan mencapai puncaknya dan sukses digelar.

Apalagi, sejak Garudayaksa FC keluar sebagai champions, kompetisi kasta kedua Tanah Air ini menelurkan kasta dan perubahan dalam kompesisi tim musim depan, 2026/2027.

PSS Sleman, Garudayaksa FC, dan Adhyaksa FC dipastikan promosi ke Liga 1 atau Super League 2026/2027. Adhyaksa menjadi tim terakhir yang mendapatkan tiket berharga tersebut setelah di partai play off menumbangkan Mutiara Hitam dari Timur, Persipura Jayapura.

Tim yang ditukangi Ade Suhendra mampu meraih kemenangan tipis 1-0 atas Persipura Jayapura. Padahal, Mutiara Hitam bermain di kandangnya sendiri, Stadion Papua Bangkit, Jayapura, Jumat (8/5).

Sungguh ironis, di tengah hiruk-pikuk suporter Persipura mendatangi Stadion Papua Bangkit guna merayakan kesuksesan tim kesayangannya mendapat tiket promosi Liga 1 musim depan.

Alih-alih merengkuh tiket promosi, Tinus Pae dan kawan-kawan justru terjungkal dan akhirnya kalah memalukan dari tamunya, Adhyaksa FC. 

Padahal, Persipura Jayapura digadang-gadang mendapat satu tiket tambahan itu dari tiga tiket yang diperebutkan ke Liga 1 2026/2027. Apalagi, bermain di hadapan publik sendiri, masyarakat Papua.

Kegagalan ini semakin menyakitkan tatkala di waktu yang bersamaan, klub asal Bumi Cenderawasih lainnya, PSBS Biak, harus terdegradasi ke Liga 2 musim depan. Dengan begitu, tak satu pun klub asal Papua bermain di Liga 1 musim depan.

Kekecewaan ini semakin memuncak tatkala ribuan suporter Persipura mengamuk dan sebagian berbuat anarkistis atas di Stadion Papua Bangkit. Kecewa yang tak terkendali hingga berbuat kerusuhan di sekitar stadion dan daerah lainnya.

Di Sleman Yogyakarta, tepatnya di Stadion Maguwoharjo, suporter PSS Sleman juga terjadi hampir sama. Setali tiga uang, suporter Super Elang Jawa kecewa tim kesayangannya gagal merengkuh gelar Juara Liga 2 2025/2025. Padahal, Super Elang Jawa bermain di hadapan publiknya sendiri.

Usai kalah adu penalti 2-3 (5-6) dari Garudayaksa, suporter PSS Sleman melampiaskannya dengan menyalakan flare.

Sikap suporter ini mencerminkan betapa tidak dewasanya naluri suporter untuk menikmati olahraga sepakbola. Kalah menang bukan lagi semboyan untuk menjunjung tinggi sportivitas.

Justru, kalah akan memantik emosi suporter untuk bersikap anarkitis. Sebaliknya, kemenangan harga mati harus diraih tiap tim kesayangannya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.