Konflik Adonara NTT: Wabup Flores Timur Pertemukan 2 Kades, Jangan Lagi Konflik, Ini Memalukan
Gordy Donovan May 12, 2026 09:44 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto

TRIBUNFLORES.COM, ADONARA – Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, mempertemukan dua kepala desa yang terlibat konflik, yakni Kepala Desa Waiburak dan Kepala Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Senin (11/5/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Kantor Camat Adonara Timur tersebut dihadiri Ketua DPRD Flores Timur, KBO Polres Flores Timur, Danki Brimob Polda NTT, perwakilan Kodim Flores Timur, dan Kasat Intel Polres Flores Timur.

Dalam pertemuan itu, Wakil Bupati Flores Timur menegaskan kepada kedua kepala desa agar mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak lagi terlibat konflik. 

Menurut Ignasius, perang tidak menghasilkan kemenangan, melainkan hanya membawa kehancuran dan dendam berkepanjangan.

Baca juga: Konflik di Adonara NTT, Rm Aloysius Dore Ajak Warga Jadikan Kearifan lokal "Tobo Rebung" Cari Solusi

Tahan Diri

“Masing-masing harus menahan diri. Jangan lagi ada konflik, titik. Tidak boleh ada lagi. Perang itu tidak menghasilkan kemenangan, yang ada hanya kehancuran dan dendam darah,” tegasnya.

Ia juga menegaskan, apabila terdapat oknum yang melakukan provokasi, kedua kepala desa diminta segera melapor kepada aparat keamanan agar dapat segera diambil tindakan.

“Kalau ada pihak tertentu yang berupaya melakukan provokasi, segera laporkan. Jangan sembunyi-sembunyi. Ini tanggung jawab moral kita bersama,”ujarnya.

Menurut dia, konflik sosial yang terus terjadi secara berulang merupakan hal yang memalukan. Karena itu, ia berharap tidak ada lagi konflik lanjutan di wilayah tersebut.

Kepada kedua kepala desa, Wakil Bupati Flores Timur juga meminta agar menyiapkan sejarah hak ulayat atas tanah yang diklaim masing-masing pihak, sehingga dapat dipertanggungjawabkan dalam proses penyelesaian nantinya.

“Siapkan sejarah masing-masing, baik sejarah mengenai klaim hak ulayat Bele maupun klaim hak ulayat Lewonara. Pada waktunya nanti, kita akan menentukan jumlah perwakilan yang hadir untuk bertemu dan menyelesaikan persoalan ini,” jelasnya.

Hingga saat ini, pengamanan masih terus dilakukan dengan melibatkan 157 personel gabungan yang terdiri atas BKO Brimob Ende, BKO Brimob Kupang, BKO Jibom Brimob, personel Polres Flores Timur, personel Polsek jajaran, serta personel Koramil 1624-02 Adonara.

12 Bangunan Ludes

Sebelumnya, konflik antarwarga kembali terjadi di Dusun Bele, Desa Waiburak dan Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (9/5/2026)sore.

Akibat insiden tersebut, lima orang dilaporkan terluka dan 12 bangunan ludes terbakar.

Para korban luka telah dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.

Sebanyak 12 bangunan mengalami kerusakan berat akibat konflik tersebut, terdiri atas 10 rumah warga, satu apotek, dan satu kios.

Kapolres Flores Timur, Adhitya Octorio Putra melalui Kasi Humas Eliezer A. Kalelado menyampaikan pihak kepolisian bersama unsur TNI terus melakukan langkah pengamanan, pendekatan persuasif, serta koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait guna memastikan situasi tetap aman, damai, dan kondusif.

Jaga Keamanan

“Hingga saat ini, pengamanan terus dilakukan dengan melibatkan 157 personel gabungan yang terdiri atas BKO Brimob Ende, BKO Brimob Kupang, BKO Jibom Brimob, personel Polres Flores Timur, personel polsek jajaran, serta personel Koramil 1624-02 Adonara,”ujar Eliezer, Minggu sore.

Pihak kepolisian juga mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta seluruh elemen masyarakat untuk menjadi penyejuk dan penguat persaudaraan di tengah situasi yang berkembang.

Dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan budaya musyawarah yang telah lama hidup di tanah Adonara, diharapkan setiap persoalan dapat diselesaikan secara damai dan bermartabat, serta tetap menjaga persatuan demi terciptanya stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat yang berkelanjutan di wilayah Kabupaten Flores Timur.

Kronologi Kejadian

Sebelumnya, warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, kembali terlibat konflik.

Konflik susulan itu terjadi. Sabtu (9/5/2026) sekitar pukul 16.30 Wita.

TRIBUNFLORES.COM memperoleh kronologi kejadian dari sumber terpercaya Sabtu malam.

Sebelum terjadi bentrokan sekitar pukul 12.10 Wita, terdengar tiga kali ledakan di belakang Pos Lewonara, tepatnya di area tempat anggota melaksanakan pengamanan.

Ledakan itu diduga kaut merupakan bom rakitan. 

Pasca ledakan itu terjadi, sejumlah warga Lewonara melakukan provokasi dengan menuduh aparat yang bertugas membiarkan warga Dusun Bele menyembunyikan bom rakitan di belakang pos pengamanan.

Massa dari Lewonara juga sempat melontarkan kata-kata bernada emosi dan memarahi anggota yang bertugas di pos. 

Mereka meminta aparat menghentikan penjagaan di lokasi tersebut serta mempertanyakan tugas aparat di lapangan. 

Namun demikian, personel yang bertugas tidak terpancing provokasi dan tetap melaksanakan patroli serta penjagaan sesuai SOP pengamanan.

Sekitar pukul 16.15 Wita, aparat keamanan memperoleh informasi mengenai konsentrasi massa dari Desa Narasaosina yang mulai berkumpul di sekitar gapura desa dengan jumlah sekitar 100 orang.

Massa kemudian bergerak menuju Jalan Trans Adonara sambil membawa berbagai alat, seperti senjata rakitan, senjata tajam, anak panah, serta beberapa bom rakitan.

Setibanya di lokasi perbatasan, kelompok massa dari Desa Narasaosina melakukan penyerangan terhadap warga Dusun Bele, Desa Waiburak. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh warga setempat sehingga terjadi aksi saling serang antara kedua kelompok.

Situasi konflik semakin meluas di sepanjang Jalan Trans Adonara dan menyebabkan masyarakat sekitar panik serta meninggalkan lokasi untuk menyelamatkan diri.

Personel gabungan dari Polres Flores Timur, Polsek Adonara Timur, Brimob, dan TNI yang sedang melaksanakan pengamanan segera bergerak melakukan pengendalian massa serta upaya pemisahan terhadap kedua kelompok warga yang bertikai.

Dalam insiden tersebut, massa dari Desa Narasaosina diduga membakar sembilan unit rumah milik warga Dusun Bele, Desa Waiburak, yang mengakibatkan kerugian material cukup besar.

Aparat gabungan kemudian melakukan penyekatan dan penghalauan terhadap kedua kelompok massa hingga situasi perlahan dapat dikendalikan dan kembali kondusif.

Saat bentrokan berlangsung, personel gabungan yang melakukan pengamanan menemukan satu buah bom rakitan di sekitar lokasi konflik. Bom tersebut langsung diamankan guna mencegah ledakan dan jatuhnya korban jiwa.

Hingga saat ini, situasi mulai kondusif. Kedua kelompok warga berhasil dihalau dan dipukul mundur oleh personel gabungan yang bertugas di lapangan.

Kondisi kampung dan jalan yang gelap akibat minimnya penerangan listrik turut menyulitkan proses pemantauan dan pengamanan oleh aparat.

Dari pihak kepolisian tidak terdapat korban jiwa. Sementara itu, korban jiwa dari kedua kelompok warga hingga kini belum dapat diidentifikasi secara pasti.

Pada pukul 19.00 WITA, bertempat di halaman Biara DST, dilaksanakan apel konsolidasi yang dipimpin Kabag Ops Polres Flores Timur, AKP Eduardus Nuru, S.H., didampingi para pejabat utama Polres Flores Timur serta Wadanki 1 Yon B Pelopor Maumere. Apel tersebut bertujuan untuk melakukan pengecekan personel dan evaluasi situasi kamtibmas pascakonflik.

Hingga kini, personel gabungan Polres Flores Timur, Brimob, dan TNI masih disiagakan di wilayah perbatasan, tepatnya di Biara Susteran DST Santa Theresia Sahabat Anak-anak Yesus, guna mengantisipasi konflik lanjutan maupun aksi balasan dari kedua kelompok warga. (awk) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.