Virus Hanta di Kapal Pesiar Bikin WHO Keluarkan Peringatan Pada 12 Negara 
Anita K Wardhani May 12, 2026 03:38 PM

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wabah virus Hanta di kapal pesiar yang melintasi Atlantik Selatan kini memicu pengawasan kesehatan lintas negara setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan kepada 12 negara.

Kasus ini menjadi perhatian karena melibatkan perjalanan internasional, evakuasi medis lintas negara hingga penumpang dari berbagai kewarganegaraan yang sempat berada dalam satu kapal tertutup selama perjalanan panjang.

Baca juga: Kemenkes: Hantavirus di Indonesia Sudah Ada Sejak 1991, Tapi Bukan Tipe Andes

Laporan menyebut wabah bermula dari beberapa penumpang yang mengalami demam dan gangguan pernapasan selama pelayaran.

Namun situasi berubah ketika sebagian pasien mengalami kondisi yang memburuk dengan cepat hingga menyebabkan kematian.

“Situasi kesehatan yang langka dan mengkhawatirkan telah terjadi di sebuah kapal pesiar yang berlayar melintasi Atlantik Selatan,” tulis laporan tersebut dilansir dari The Times of India, Selasa (12/5/2026). 

WHO kini melibatkan sejumlah negara dalam proses pemantauan, pelacakan kontak dan koordinasi medis terkait wabah tersebut.

WHO Libatkan 12 Negara dalam Pengawasan

ilustrasi hantavirus
ilustrasi hantavirus (Learn Worthy)

Setidaknya terdapat 12 negara yang kini terhubung dengan respons wabah virus Hanta di kapal pesiar tersebut.

Negara-negara itu antara lain Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, Britania Raya dan Amerika Serikat.

Sebagian negara terlibat karena ada penumpang yang dievakuasi atau melakukan penerbangan lanjutan setelah turun dari kapal.

Sementara negara lain melakukan pemantauan terhadap warga negaranya yang sempat berada di kapal selama perjalanan.

WHO menilai risiko global masih rendah, namun keterlibatan banyak negara menunjukkan bagaimana penyakit di era perjalanan modern dapat dengan cepat melintasi batas negara.

Bermula dari Gejala Demam dan Gangguan Pernapasan di Kapal

Kapal pesiar tersebut diketahui berangkat dari Ushuaia pada awal April 2026 dan melewati wilayah terpencil seperti Antartika, Georgia Selatan dan sejumlah pulau di Atlantik Selatan.

Awalnya beberapa penumpang mengalami gejala seperti demam, kelelahan dan gangguan pencernaan yang dianggap sebagai penyakit biasa selama perjalanan.

Namun dalam waktu singkat, sebagian pasien mengalami gangguan pernapasan berat.

Tim medis kapal kemudian mulai mengisolasi penumpang yang menunjukkan gejala karena muncul kekhawatiran penyebaran di lingkungan kapal yang tertutup.

“Kecepatan memburuknya kondisi beberapa pasien telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan tim medis,” tulis laporan tersebut.

Para ahli menyebut pola penyakit yang muncul sesuai dengan sindrom paru hantavirus berat yang memang dikenal dapat berkembang cepat dan mengancam nyawa.

Virus Hanta Disebut Menular dari Paparan Hewan Pengerat

Hantavirus merupakan virus yang umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau menghirup debu yang mengandung urin, kotoran maupun air liurnya.

Penularan biasanya terjadi di ruang tertutup seperti kabin, tenda, ruang penyimpanan atau rumah pedesaan yang terkontaminasi.

“Infeksi hantavirus biasanya terjadi akibat kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau paparan urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang tersebar melalui udara,” tulis laporan tersebut.

Gejala awalnya mirip flu seperti demam, nyeri otot dan tubuh lemas.

Namun pada sebagian pasien, penyakit dapat berkembang menjadi komplikasi pernapasan berat hingga penumpukan cairan di paru-paru.

Hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk hantavirus.

Penanganan pasien umumnya dilakukan dengan perawatan suportif di rumah sakit, termasuk pemberian oksigen dan perawatan intensif.

Pelancong Diminta Waspadai Gejala hingga Beberapa Minggu

WHO menilai kasus ini penting bukan hanya karena virusnya, tetapi karena terjadi di kapal pesiar dengan penumpang internasional yang bergerak lintas negara.

Otoritas kesehatan kini masih berupaya menentukan sumber awal infeksi dan kemungkinan titik paparan virus.

Para penumpang yang sempat berada di kapal juga diminta memantau kondisi kesehatan selama beberapa minggu setelah perjalanan karena masa inkubasi virus bisa mencapai enam minggu.

“Pelancong yang menghabiskan waktu di luar ruangan, mendaki, berkemah, dan melakukan ekspedisi mungkin berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan wisatawan perkotaan,” tulis laporan tersebut.

Meski demikian, para ahli menegaskan infeksi hantavirus tetap tergolong jarang terjadi pada wisatawan umum.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.