EKSKLUSIF Tangis Santriwati di Ponpes Pati: Yatim Piatu, Takut Bicara, dan Terancam Putus Sekolah
Tribun-video May 12, 2026 04:42 PM

TRIBUN-VIDEO - Kasus kekerasan terhadap anak kembali memperlihatkan wajah paling gelap dari ruang-ruang yang seharusnya menjadi tempat aman.

Di Yogyakarta, dugaan kekerasan di daycare Little Aresha menyisakan trauma mendalam pada anak-anak usia balita.

Sementara di Pati, Jawa Tengah, dugaan kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren menyeret cerita pilu puluhan santriwati yang memilih diam selama bertahun-tahun.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, menyebut sebagian besar korban di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, merupakan anak yatim dan berasal dari keluarga tidak mampu.

“Anak-anak ini yatim dan duafa. Sebagian besar dari mereka tidak punya orang tua,” ujar Diyah dalam wawancara eksklusif di Studio Tribunnews, Jakarta, Senin (11/5/2026).

KPAI memperkirakan jumlah korban bukan hanya sekitar 50 anak. Angka itu diyakini dapat bertambah karena pola kekerasan diduga berlangsung lama, rapi, dan sistematis. Sejumlah korban bahkan disebut mengalami intimidasi hingga mencabut keterangan.

“Ada yang mendapatkan intimidasi. Korban takut speak up,” ujar Diyah.

Menurut dia, banyak korban baru berani berbicara setelah lulus dari pondok pesantren.

Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam kebingungan dan ketakutan.

“Apa yang terjadi dengan aku, kok aku tidak bisa melawan, kok aku bingung, aku mau ke mana,” katanya menirukan kegelisahan para korban.

KPAI menduga kekerasan tidak mungkin dilakukan seorang diri.

“Kalau sebanyak itu saya kira tidak satu polanya. Sangat rapi. Bertahun-tahun. Yang lain mungkin tahu dan hanya memilih diam,” ujarnya.

Di Yogyakarta, temuan KPAI di daycare Little Aresha juga memunculkan fakta yang tidak kalah memilukan.

KPAI menemukan 13 anak mengalami gizi buruk dan 16 anak terganggu tumbuh kembangnya.

Daycare tersebut tercatat menampung 106 anak dalam bangunan sekitar 200 meter persegi tanpa ventilasi memadai dan tanpa area bermain luar. Bahkan, orangtua disebut tidak diperbolehkan masuk ke area daycare.

“106 anak, gedung seadanya 200 meter. Tidak ada ventilasi udara. Tidak ada playground di luar. Bahkan ada kebijakan orangtua tidak boleh masuk,” kata Diyah.

Trauma anak-anak terlihat ketika sebagian korban dipindahkan ke daycare lain.

“Faktanya beberapa anak yang di daycare yang baru itu tiba-tiba setelah dimandiin minta tali, minta diiketin. Ada yang sampai seperti itu,” ungkapnya.

KPAI juga menemukan dugaan pengabaian terhadap kebutuhan dasar anak.

“Ada pengasuh yang mengumpulkan makanan anak-anak yang dibawa dari rumah kemudian dia konsumsi sendiri,” kata Diyah.

Saksikan Wawancara Eksklusif selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.