Gerakan Sekolah Menyenangkan: Pertumbuhan Sekolah Tak Seimbang dengan Kualitas Berpikir Siswa
Erik S May 12, 2026 05:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah arus besar transformasi digital, kecerdasan buatan, dan percepatan teknologi, dunia pendidikan Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar yakni apakah sekolah hari ini benar-benar membantu manusia berpikir dan memahami dirinya sendiri?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam forum Ngkaji Pendidikan bertajuk Membaca? See the Unseen yang digelar Gerakan Sekolah Menyenangkan di Yogyakarta belum lama ini.

Acara yang diikuti sekitar 500 guru dan pegiat pendidikan dari berbagai daerah, mulai dari Kalimantan Selatan, Bontang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, hingga Bali menghadirkan pembicara utama Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM sekaligus dosen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dalam paparannya, Muhammad Nur Rizal menyoroti ketimpangan antara ekspansi besar sistem pendidikan dan kualitas berpikir peserta didik.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan pendidikan yang sangat signifikan.

“Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah sekolah meningkat dari sekitar 100 ribu pada 1970 menjadi lebih dari 300 ribu pada 2020. Jumlah universitas naik dari puluhan kampus pada 1950-an menjadi lebih dari 4.000 pada 2022. Sementara jumlah mahasiswa mendekati 10 juta pada 2025,” kata Rizal, Selasa (12/5/2026).

Namun, peningkatan kuantitas tersebut tidak sejalan dengan kualitas berpikir.

Mengacu pada data  Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis  Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia masih tertinggal sekitar 100–120 poin dari rata-rata negara OECD dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Mayoritas siswa juga belum mencapai standar kompetensi minimum.

Temuan OECD melalui studi  Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC)  juga menunjukkan bahwa sebagian lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih memiliki kemampuan literasi setara lulusan sekolah menengah pertama di beberapa negara maju.

“Sekolah berkembang, tetapi kemampuan berpikir tidak tumbuh sebanding,” ujar Rizal.

Schooling Without Learning

Rizal juga menyoroti rapuhnya struktur mental peserta didik.

Data internasional menunjukkan tingkat perundungan di Indonesia lebih tinggi dibanding rata-rata negara lain, sementara kemampuan growth mindset relatif lebih rendah.

Kondisi tersebut ia rangkum dalam istilah yakni Schooling Without Learning, sekolah berjalan, tetapi proses belajar tidak benar-benar terjadi.

“Sistem pendidikan terlalu sering menghasilkan kepatuhan ketimbang kesadaran,” tegasnya.

Baca juga: Kemensos dan Kementerian PKP Renovasi 10.000 Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat

Pendidikan dan Konsep Entropi

Dalam pemaparannya, Rizal menggunakan pendekatan lintas disiplin, termasuk konsep fisika tentang entropi dalam hukum termodinamika.

Ia menjelaskan bahwa setiap sistem cenderung bergerak menuju ketidakteraturan jika tidak ada energi yang menjaga keseimbangannya.

Hal yang sama, menurutnya, dapat terjadi dalam dunia pendidikan.

Jika proses belajar berlangsung otomatis tanpa refleksi, sekolah akan berubah menjadi sistem yang hanya melatih pengulangan dan kepatuhan, bukan kesadaran.

Ia kemudian mengaitkannya dengan teori dua sistem berpikir dari Daniel Kahneman, yaitu Sistem 1 yang cepat dan otomatis, serta Sistem 2 yang lambat dan reflektif.

“Pendidikan hari ini terlalu banyak melatih Sistem 1: hafalan, jawaban cepat, dan kepatuhan,” ujarnya.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Rizal memperkenalkan konsep “Saklar Kognitif”, yakni kemampuan manusia untuk menyadari cara berpikirnya sendiri atau metakognisi.

Baca juga: Mendikdasmen Tegaskan Pendidikan Antikorupsi Tidak Jadi Mata Pelajaran Baru di Sekolah

Konsep ini dijelaskan dalam tiga tahap: Interrupt: menghentikan respons otomatis;  Observe: mengamati cara berpikir sendiri dan Reconstruct: membangun ulang pola pikir secara sadar.

“Ini bukan sekadar metode belajar, melainkan fondasi kesadaran manusia,” tegasnya.

Rizal menegaskan bahwa guru dan pendidik tidak cukup hanya menyimpan pengetahuan, tetapi harus meneruskannya agar tetap hidup dan berkembang.

“Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang mampu meninggalkan warisan,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.