Alasan Satpam Bunuh Satpam di Surabaya Gara-gara Pinjol, Keluarga Korban dan Tersangka Beda Cerita
Musahadah May 12, 2026 09:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Alasan OA (inisial) (26) , satpam perumahan kawasan Jalan Sukomanunggal Jaya, Kota Surabaya, nekat menghabisi rekan kerjanya, DM (48) akhirnya terungkap.

Ternyata aksi nekat Satpam bertubuh gempal yang tinggal di daerah Sememi, Benowo, Surabaya ini dipicu pinjaman online. 

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto, pelaku diduga sengaja menghabisi korban karena merasa tersinggung dengan ucapan korban perihal pinjaman online. 

Sebelumnya, tersangka OA sempat terlibat permasalahan pinjaman online (pinjol) dengan korban hingga cek-cok 

"Motif dari pada pembunuhan itu sendiri diawali dengan permasalahan pinjol. Dimana tersangka pinjam pinjol menurut pengakuannya uang pinjaman pinjol itu digunakan berdua antara tersangka dan korban," ujarnya di Mapolrestabes Surabaya, pada Selasa (12/5/2026). 

Baca juga: Sosok Terduga Pembunuh Satpam Perumahan di Surabaya, Terkuak Gelagat Korban Sebelum Tewas Ditusuk

Mereka berdebat mengenai siapa pihak yang bertanggungjawab untuk pembayaran pinjol tersebut 

Akhirnya, pelaku dan korban terlibat percekcokan di dekat lokasi kejadian, pada Minggu (10/5/2026).

Pelaku nekat menusuk korban menusuk beberapa bagian vital pada tubuh korban menggunakan pisau. 

Tusukan tersebut mengenai bagian leher serta dada korban hingga banyak kehilangan darah dan korban meninggal dunia. 

"Ada ketersinggungan berkaitan mungkin masalah pertanggungjawaban dengan pembayaran pinjol itu. Adanya percekcokan itulah akhirnya tersangka melakukan pembunuhan korban dengan cara menusuk leher dan dada. Sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia," pungkasnya. 

Pelaku OA akhirnya ditangkap oleh Anggota Tim Jatanras Polrestabes Surabaya, di kosannya, sekitar pukul 17.00 WIB, pada Senin (11/5/2026).

Kemudian, ia digelandang ke Ruang Penyidik Gedung Satreskrim Mapolrestabes Surabaya. 

Pengakuan Keluarga Korban Berbeda

Adik kandung korban Adi Deden Februadi (35) mengatakan, beberapa bulan lalu, korban sempat bercerita kepada istrinya tentang pinjaman online melalui aplikasi platform belanja.

Korban mengeluhkan bahwa akun pinjol miliknya dipinjam oleh teman sesama satpam. 

Namun, ujung cerita yang diketahui Adi, korban berusaha menenangkan istrinya kalau urusan penjol tersebut sudah diselesaikan oleh temannya; si peminjam. 

"Jadi korban mengeluh akun Shopee pay later-nya dipinjam temannya itu. Ngomongnya istrinya itu beberapa bulan yang lalu (ceritanya),"  ujarnya saat ditemui di RS Bhayangkara, pada Senin (11/5/2026). 

Bahkan, korban juga sempat berkonsultasi dengan dirinya. Adi mengungkapkan, sang kakak seperti bermaksud menonaktifkan akun pinjol tersebut. Namun, Adi tidak mengetahui caranya. 

"Cuma telepon saya kayak gitu aja sih. Cara untuk menonaktifkan (akun pinjol) itu. Menstop gitu ya. Kayak mau ditarik. Tapi kakak saya ragu soalnya totalnya banyak. Jadi enggak usahlah," katanya. 

"Saya bilang juga; misalnya enggak mau bayar hati-hati loh. Saya bilang gitu. Terus; enggak usah, dia bilangnya gitu. Terakhir itu telepon saya itu. Konsultasi soal tunggakan spay later," tambahnya. 

Adi menduga kakaknya dihabisi oleh seseorang karena permasalahan hutang piutang yang belum terselesaikan sehingga memicu kesalahpahaman yang berujung fatal. 

"Ya kalau analisis pribadi ya dari kalau dari Kakak Ipar saya bilang seperti itu ya paling utang-piutang. Utang-piutang dendam gitu ya. Iya, utang-piutang. Mungkin Kakak saya nggak mau membayar atau kayak gimana kan. Saya kurang tahu juga," duga Adi. 

Lalu, mengenai sosok keseharian sang kakak. Menurut Adi Deden, sang kakak merupakan pribadi yang pendiam, tidak neko-neko, dan penyayang keluarga. 

Setelah pulang dari bekerja sebagai satpam. Kakaknya lebih memilih beristirahat; tidur, dan membantu istri berbelanja kebutuhan barang toko kelontong. 

Akibat insiden tersebut, sang kakak meninggalkan dua orang anak perempuan yang masih bersekolah. 

"Artinya sosoknya enggak neko-neko, kakak saya dari zaman remajanya sudah enggak enggak pernah neko-neko. Enggak pernah berselisih paham sama orang pun enggak pernah," pungkasnya.

Korban Ditemukan Tewas di Pos Jaga 

KORBAN - Saat petugas Polisi dan BPBD evakuasi jenazah DM (48) satpam perumahan ditemukan tewas dengan 6 luka tusuk di sebuah rumah kosong dekat pos tempatnya berjaga kawasan Jalan Sukomanunggal Jaya, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (11/5/2026). Lalu jenazah diangkut ambulan untuk dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya
KORBAN - Saat petugas Polisi dan BPBD evakuasi jenazah DM (48) satpam perumahan ditemukan tewas dengan 6 luka tusuk di sebuah rumah kosong dekat pos tempatnya berjaga kawasan Jalan Sukomanunggal Jaya, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (11/5/2026). Lalu jenazah diangkut ambulan untuk dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya (istimewa)

Korban masih memakai pakaian seragam satpam berwarna kuning muda, bercelana cokelat dan bersepatu hitam. 

Menurut Kapolsek Sukomanunggal Polrestabes Surabaya Kompol M. Akhyar, korban pertama kali ditemukan oleh teman sesama satpam di perumahan tersebut. 

Saksi teman sesama satpam hendak berganti sif kerja menjaga kompleks perumahan tersebut. 

Namun, saksi mendapati keanehan karena kondisi penerangan lampu di gerbang depan dan pos satpam masih menyala, padahal fajar sudah menyingsing, pukul 05.00 WIB. 

"Dan barang yang diambil, hanya handphone saja. handphone pribadi korban. Sedangkan sepeda motornya itu bagus, enggak diambil sama kunci kontaknya itu," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com pada Senin (11/5/2026). 

Saksi sempat mencari keberadaan korban di area musala yang lampu penerangannya juga masih menyala. Ternyata, tidak ada. 

Kemudian, lanjut Akhyar, saksi mulai mencari keberadaan korban di dalam pos satpam. Ternyata, korban sudah terkapar dengan penuh luka dan tak sadarkan diri. 

"Nah, (temannya) dicek lah ke tempat salat itu, musala kecil di situ karena korban ini memang taat sama agama. Dicek enggak ada, kemudian beralih ke pos security. Lah kok di depannya itu ada bercadak darah. kemudian tidak dilihat ke dalamnya tergeletak korban itu. Baru lapor ke Polisi," katanya. 

Berdasarkan hasil visum luar terhadap tubuh korban. Akhyar mengungkapkan, korban mengalami luka tusuk pada leher, dada, perut, lengan tangan, dan siku tangan. 

"Leher sebelah kanan. Punggung sebelah kiri. Lengan sebelah kiri belakang. Sikut sebelah kiri. Heem. Dada sebelah kanan. Dan perut sebelah kiri. Itu saja," ungkapnya. 

Kemudian, saat melakukan olah TKP menyeluruh, Akhyar mengatakan, ponsel pribadi korban tidak ditemukan di lokasi. Ataupun di dalam saku pakaian korban. 

Namun, anehnya, dompet berisi uang serta kendaraan motor korban lengkap beserta surat menyuratnya, masih berada di lokasi. Atau tidak terkonfirmasi hilang. 

"Dan barang yang diambil, hanya handphone saja. handphone pribadi korban. Sedangkan sepeda motornya itu bagus, enggak diambil sama kunci kontaknya itu," jelasnya. 

Akhyar tak menampik, bahwa korban sempat melakukan perlawanan terhadap pelaku dalam pergulatan yang terjadi pada pagi hari tadi. 

"Kalau dari lihat dari luka korban kelihatannya ada perlawanan, karena nangkis, nah iya (nangkis pakai siku atau lengan). Kami belum temukan info tersebut (soal korban pernah cekcok dengan orang lain)," ungkapnya. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.