Geosite Kedung Lantung Disiapkan Jadi Destinasi Dunia, Harapan Baru Bojonegoro
Wiwit Purwanto May 12, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID BOJONEGORO - Pengembangan Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, menjadi harapan baru bagi masyarakat di wilayah selatan Bojonegoro.

Geosite Kedung Lantung kini dipersiapkan menjadi salah satu destinasi unggulan untuk mendukung target Pemkab Bojonegoro yang berambisi menjadikan kawasan ini sebagai salah satu objek UNESCO Global Geopark.

Harapan Baru Warga Desa Drenges, Bojonegoro

Harapan besar pun tumbuh di tengah masyarakat Desa Drenges. Kehadiran geosite tersebut, diyakini dapat menjadi pusat studi sekaligus pertumbuhan ekonomi baru dan membuka peluang usaha bagi warga sekitar.

Program pengembangan Geosite Kedung Lantung merupakan bagian dari kontribusi industri hulu migas melalui SKK Migas dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Baca juga: Tim Verifikasi Geopark Nasional Tinjau 16 Geosite Bojonegoro, Jadi Pusat Edukasi dan Konservasi

Dalam pelaksanaannya, EMCL menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) untuk mendampingi masyarakat mengelola potensi wisata secara mandiri dan berkelanjutan.

Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, mengatakan pihaknya sengaja melibatkan masyarakat secara langsung agar pembangunan wisata tersebut memiliki dampak jangka panjang bagi warga desa.

“Kami bermitra dengan LPPM Unigoro untuk mewujudkannya,” ujar Slamet Rijadi.

Riyadi melihat masyarakat begitu antusias dalam mendukung pengembangan kawasan wisata tersebut.

Hal ini, tercermin dari semangat warga saat tim dari EMCL dan Unigoro mengunjungi lokasi. Warga setempat bahkan telah membentuk panitia pelaksana pembangunan dan bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan di lokasi geosite.

Menurut Riyadi, keterlibatan aktif masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengembangan kawasan destinasi ini.

“Bantuan dari EMCL dikelola langsung oleh masyarakat dengan pendampingan tim Unigoro. Hal ini memperkuat rasa kepemilikan warga terhadap Geosite Kedung Lantung,” tambahnya.

Camat Sugihwaras, Supranata pun mengapresiasi semangat gotong royong warga Desa Drenges dalam mendukung pengembangan wisata tersebut.

Supranata berpesan masyarakat agar tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjaga kebersihan lingkungan, terutama kawasan sungai di sekitar lokasi wisata.

“Jangan lagi buang sampah di sungai. Kedung Lantung ini milik kita, harus dirawat dengan rasa gemati atau rasa sayang,” pesannya.

Sementara itu, Ketua LPPM Unigoro, Dr Laily Agustina Rahmawati, mengatakan pendampingan yang dilakukan tidak hanya menyasar pembangunan infrastruktur wisata, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia masyarakat setempat.

Ia menyebut sinergi antara masyarakat, akademisi dan dunia industri menjadi langkah penting untuk mengangkat nilai ilmiah Kedung Lantung hingga dikenal di tingkat internasional.

“Kami mendampingi dari sisi infrastruktur hingga kapasitas SDM. Semoga Drenges bukan hanya menjadi kota, tapi destinasi dunia,” ungkapnya.

Dilain sisi, Kepala Desa Drenges, Yaspingi, menyebut pengembangan Geosite Kedung Lantung menjadi harapan baru bagi masyarakat desa.

Kata Yaspingi pengembangan Geosite Kedung Lantung ini selaras dengan petuah para leluhur yang dikisahkan turun temurun yang menyebut suatu saat 'Drenges akan jadi kota'.

Menurutnya, petuah tersebut perlahan mulai menemukan jalannya melalui pengembangan sektor wisata berbasis potensi alam dan geologi desa.

"Saya ingat kata orang tua dulu, suatu saat Drenges bakal jadi kota, mungkin dengan adanya geosite Kedung lantung ini akan jadi nyata," ulas Yaspingi, selasa (12/5/2026).

Yaspingi berharap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dapat serius mengikuti proses pendampingan sehingga mampu mengelola kawasan wisata secara profesional ke depan.

Sebagai informasi objek Geosite Kedung Lantung merupakan objek geologi langka yang menampilkan rembesan minyak bumi alami dari sela bebatuan tebing sungai.

Tempat ini menyuguhkan pemandangan tebing kapur putih eksotis di tengah hutan. sebagai laboratorium alam yang kini tengah dikembangkan untuk menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.