Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy merespon tuntunan ratusan petani dari Kabupaten Pangandaran yang sawahnya kerap terdampak banjir.
Humas BBWS Citanduy, Rahmat, mengatakan pihaknya sejak awal sudah melakukan penanganan di wilayah Maruyungsari maupun Sungai Ciseel. Namun, upaya itu terkendala keterbatasan anggaran.
"Untuk penanganan di Maruyungsari ataupun Sungai Ciseel itu kami selalu ada aksi dengan keterbatasan anggaran. Cuma harapan masyarakat terhadap pekerjaan yang dilakukan memang belum sepenuhnya sesuai," ujar Rahmat kepada sejumlah wartawan di sekitar kantor BBWS Citanduy di Kota Banjar, Selasa (12/5/2026) siang.
Memang, masyarakat meminta agar sejumlah titik rawan banjir diprioritaskan untuk segera dilakukan normalisasi karena menyangkut sumber penghasilan utama warga di sektor pertanian.
"Karena, itu menyangkut sumber ekonomi masyarakat. Sebenarnya itu juga sejalan dengan kami. Hanya saja kami harus menyesuaikan dengan kondisi anggaran dan menentukan skala prioritas penanganan banjir," katanya.
Baca juga: Ratusan Petani Geruduk BBWS Citanduy, Protes Sawah Terendam Banjir dan Gagal Panen
Ia pun menegaskan BBWS Citanduy akan menindaklanjuti tuntutan warga Maruyungsari dan Kertajaya terkait normalisasi sungai dan penanganan banjir.
"Karena memang sudah sejalan dengan kami, tinggal aksinya. Kami juga akan segera bergerak mulai besok," ucap Rahmat.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap banjir yang terus merendam ratusan hektare lahan persawahan warga.
Para petani menilai kondisi banjir semakin parah setelah adanya proyek pembangunan yang dikerjakan BBWS Citanduy.
Dalam aksi itu, para petani membawa puluhan lembar kardus berisi tuntutan dan keluhan. Mereka juga bergantian melakukan orasi di depan kantor BBWS Citanduy.
Salah seorang orator mengungkapkan kekecewaan petani yang berkali-kali gagal panen akibat sawah terus terendam banjir.
“Beberapa kali kami tandur (tanam padi), beberapa kali kami kebanjiran, tidak pernah ada hasil panen,” ujar orator dalam aksi tersebut. (*)