Rieke Diah Pitaloka: Perpustakaan Masuk Rancangan Pembangunan Nasional sejak 1960-an
GH News May 12, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Anggota Komisi VIII DPR sekaligus penulis, Rieke Diah Pitaloka, menyoroti pentingnya peran perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan dan penjaga memori kolektif bangsa, di antaranya antaranya yakni buku dan arsip pembangunan nasional.

Rieke menuturkan, salah satu koleksi buku pribadinya memuat konsep Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB) dari era awal kemerdekaan. Dari buku tersebut dan arsip-arsip negara, diketahui bahwa konsep pembangunan nasional saat ini sejatinya sudah dirancang sejak dekade 1960-an.

Ia menambahkan, perpustakaan nasional sendiri masuk dalam rancangan pembangunan nasional sejak 1960-an. Dalam rancangan tersebut, perpustakaan nasional bahkan sudah dikenakan target pemenuhan kebutuhan rakyat terhadap buku dan bacaan.

"Perpustakaan nasional itu konsepnya adalah untuk pendidikan ahli perpustakaan. Bukan hanya untuk orang baca," ujarnya dalam Seminar Nasional "Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa" yang digelar Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, diakses via Zoom Meeting dan YouTube, Selasa (12/5/2026).

Perpustakaan Desa Sudah Dirancang sejak Dulu

Rieke memaparkan, konsep perpustakaan desa juga sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan pembangunan nasional sejak awal kemerdekaan.

Menurutnya, perpustakaan tidak hanya harus hadir di kota besar, tetapi juga hingga tingkat desa.

"Ada sekolah rakyat, lalu apa yang harus ada di tiap desa? Di sini disebutkan harus ada koperasi, lalu harus ada perpustakaan desa," ujarnya.

Perpustakaan Fisik Masih Penting

Ia menilai perpustakaan masih memiliki posisi penting dalam pembangunan Indonesia, termasuk di tengah perkembangan era digital.

"Perpustakaan itu masih gudangnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan itu masih menjadi bagian penting bagaimana bangsa ini bertumbuh menjadi bangsa yang betul-betul mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur," ujarnya.

Ia juga menilai perpustakaan tetap relevan di era digital karena menjadi ruang penyimpanan pengetahuan dan hasil riset bangsa. Menurutnya, perkembangan perpustakaan digital tidak seharusnya membuat buku-buku lama ditinggalkan.

"Sekarang pun sudah era digital, tetap saja ada perpustakaan digital. Tapi perpustakaan digital itu tidak bisa meninggalkan buku-buku yang lama," katanya.

Menjaga Koleksi Pustaka

Seminar nasional ini merupakan bagian dari peringatan Hari Buku Nasional 2026 sekaligus Hari Ulang Tahun ke-46 Perpusnas RI. Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas, Agus Sutoyo, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman sekaligus membangun kolaborasi lintas sektor dalam menjaga koleksi pustaka di Indonesia.

"Secara umum kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan membangun sinergi lintas sektor dalam merawat bahan pustaka yang ada di seluruh perpustakaan Indonesia," ujarnya.

Releksi Peran Perpustakaan

Kepala Perpusnas RI, E Aminudin Aziz, menyebut kegiatan ini menjadi momentum refleksi mengenai posisi perpustakaan di tengah perkembangan zaman. Ia juga menyoroti pertanyaan mengenai relevansi perpustakaan di era digital saat ini, termasuk apakah perpustakaan masih menjadi rujukan utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan masyarakat.

Dalam seminar tersebut, Perpusnas menghadirkan empat pembicara dari latar belakang berbeda, yakni Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Arys Hilman Nugraha; anggota DPR RI sekaligus penulis dan penyair Rieke Diah Pitaloka; Director of Indonesia Doctoral Training Partnership (IDTP), University of Nottingham Bagus Muljadi; serta Presiden ASEAN Public Libraries Network Chaerul Umam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.