TRIBUNNEWS.COM - Habib Rizieq Shihab menyinggung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya saat acara Halal Bihalal dan Temu Kangen DPD, DPW, DPC serta Sayap Juang FPI se-Jawa Barat pada 10 Mei 2026.
Dalam tayangan yang dikutip dari kanal YouTube Refly Harun, Rizieq beberapa kali menyinggung pidato Presiden Prabowo, lingkar penasihat pemerintahan, hingga kebijakan luar negeri Indonesia terkait Palestina dan Iran.
Meski menyatakan masih menaruh harapan kepada Prabowo, Rizieq mengkritik keras sejumlah pernyataan presiden yang dianggap bernada merendahkan kelompok tertentu, terutama soal ucapan “kabur ke Yaman” terhadap pihak yang mengkritik kondisi Indonesia.
“Alhamdulillah satu tahun setengah mimpin, presiden yang baru ini enggak pernah mengucapkan itu,” kata Rizieq.
Namun, ia menilai perubahan sikap tersebut terjadi setelah Presiden Prabowo bertemu tokoh-tokoh lama di sekitar kekuasaan.
“Minggu kemarin dia ketemu tuh sama menteri segala urusan zaman dulu. Habis dapat nasihat si pemimpin langsung ngomong, ‘Kalau enggak suka Indonesia, kabur saja ke Yaman.’”
Rizieq tidak menyebut nama secara langsung, namun istilah “menteri segala urusan” selama ini kerap diarahkan kepada mantan pejabat era Presiden Jokowi yang dikenal aktif mengomentari berbagai isu politik dan keamanan.
Menurut Rizieq, ucapan tersebut mencerminkan pengaruh buruk dari lingkungan sekitar presiden.
“Punya teman jelek, Saudara. Ngobrolnya sama provokator.”
Ia juga menyinggung sosok yang disebutnya sebagai “Jenderal Baliho” yang menurutnya kembali dipanggil ke lingkungan istana dan dijadikan penasihat presiden bidang pertahanan nasional.
Baca juga: Habib Rizieq Aktifkan Kembali Pengajian Petamburan dan Megamendung, Pengurus FPI Wajib Ikut
Dalam pidato itu, Rizieq mengaitkan figur tersebut dengan tragedi KM50 dan isu “begal nasab”, meski tidak menyebut identitas spesifik.
“Kenapa yang begini diangkat jadi penasihat presiden?”
Kritik soal Pemilihan Menteri
Rizieq lalu mengembangkan kritiknya dengan membahas pentingnya pemimpin memilih menteri dan penasihat yang baik.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang pemimpin yang akan mendapatkan menteri baik jika menghendaki kebaikan.
“Kalau mau jadi pemimpin yang baik, cari menteri yang baik.”
Menurut dia, menteri yang baik seharusnya mengingatkan pemimpin ketika salah dan membantu menjalankan program yang baik, bukan justru memprovokasi atau memanfaatkan kelemahan pemimpin.
Rizieq juga mengingatkan agar pemimpin tidak anti kritik dan tidak berpihak kepada oligarki.
“Pemimpin yang enggak suka bohong, pemimpin yang tidak korup, pemimpin yang tidak anti kritik.”
Ia bahkan menyinggung praktik politik uang dalam pemilu.
“Jangan milih karena dibayar Rp50.000.”
Soroti Sikap Pemerintah terhadap Palestina dan Iran
Selain soal politik domestik, Rizieq juga mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahan Prabowo yang dinilai kurang tegas terhadap Israel dan Amerika Serikat.
Ia secara khusus menyoroti keterlibatan Indonesia dalam forum yang disebutnya “Board of Peace”. Menurutnya, forum itu membuat Indonesia terlalu dekat dengan Amerika Serikat sehingga tidak berani mengecam agresi terhadap Palestina maupun Iran.
“Board of Peace itu belenggu.”
Rizieq menilai pemerintah tidak cukup keras mengecam serangan Israel terhadap Iran, termasuk saat pejabat tinggi Iran dan warga sipil tewas akibat serangan militer.
“Begitu Iran diserang secara brutal oleh Israel dan Amerika, presiden kita enggak berani mengecam.”
Ia juga menyinggung kematian empat prajurit TNI di Lebanon yang menurutnya tidak direspons secara tegas oleh pemerintah Indonesia terhadap Israel.
“Mestinya presiden bicara, ‘Hei Israel, kurang ajar kalian. Kalian membunuh tentara kami.’”
Dalam pidato itu, Rizieq mengungkapkan kekecewaannya terkait dugaan penolakan masuk tokoh Palestina, Dr. Basim Naim, ke Indonesia.
Menurutnya, tokoh Palestina tersebut berencana bertemu dengan sejumlah organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan FPI, tetapi tidak diizinkan masuk.
“Sedih nangis saya, Pak. Ada apa?”
Ia mengaku telah mencoba menghubungi sejumlah pejabat untuk membantu proses tersebut, namun tidak berhasil.
Rizieq meminta pemerintah menjelaskan pihak yang bertanggung jawab atas pelarangan tersebut, apakah berasal dari imigrasi, aparat keamanan, atau institusi lain.
Meski melontarkan kritik keras, Rizieq tetap menyatakan berharap Presiden Prabowo berubah dan mendengar kritik masyarakat.
“Kalau dikritik jawab dengan karya, jawab dengan kerja, jawab dengan kebijakan yang bagus. Itu pemimpin.”
Ia juga meminta pemerintah lebih berhati-hati dalam memilih penasihat dan lingkar kekuasaan agar tidak memperkeruh situasi politik maupun hubungan sosial di masyarakat.
(*)