Ranking FIFA Timnas Futsal Indonesia Naik, Michael Sianipar Siapkan Strategi Baru Tembus 10 Besar
Budi Sam Law Malau May 13, 2026 02:35 AM

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Timnas Futsal Indonesia di panggung internasional.

Berdasarkan ranking terbaru FIFA, Indonesia kini resmi menempati posisi ke-14 dunia, sebuah capaian monumental yang menandai lonjakan besar perkembangan futsal nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum Asosiasi Futsal Indonesia (AFI), Michael Victor Sianipar, mengaku bangga atas pencapaian tersebut.

Namun di balik rasa bangga itu, Michael mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru baru dimulai.

Menurutnya, semakin tinggi posisi Indonesia di ranking FIFA, maka persaingan yang dihadapi juga akan semakin berat karena harus bersaing langsung dengan negara-negara elite dunia.

“Kita sangat bangga dengan pencapaian timnas mencapai peringkat 14 dunia. Tentu kita berharap dan optimistis bisa lebih tinggi lagi dengan kerja keras,” ujar Michael Sianipar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Mimpi Besar Menuju 10 Besar Dunia

Michael menegaskan, target membawa Indonesia masuk jajaran 10 besar dunia bukan perkara mudah.

Di level tersebut, Indonesia harus bersaing dengan kekuatan tradisional futsal seperti Brasil, Argentina, Portugal, Spanyol, hingga Prancis.

Ia menilai perbedaan kualitas di level elite global sangat tipis sehingga setiap kenaikan ranking membutuhkan perubahan strategi besar.

“Kalau sudah di 15 besar atau 20 besar dunia, menaikkan ranking itu makin susah karena persaingannya sudah level elite global,” jelasnya.

“Kalau kita mau masuk 10 besar dunia, kita harus geser negara seperti Prancis. Caranya? Kita harus serius berbenah,” sambung Michael.

Pernyataan itu memperlihatkan AFI mulai memandang futsal Indonesia dengan standar yang lebih tinggi.

Tidak sekadar menjadi kekuatan Asia Tenggara, tetapi juga mampu bersaing di level dunia.

Strategi Lama Tak Lagi Cukup

Michael mengakui perjalanan Timnas Futsal Indonesia sejauh ini sudah sangat luar biasa.

Dari posisi di kisaran 30 besar dunia, Indonesia berhasil menembus 20 besar hingga kini berada di peringkat ke-14 FIFA.

Namun menurutnya, strategi yang berhasil membawa Indonesia ke titik sekarang belum tentu cukup untuk membawa tim menembus level lebih tinggi.

“Dari ranking 30 ke 20 besar itu sudah loncatan besar. Dari 20 ke 14 dunia juga luar biasa. Tapi kalau mau naik lagi, strateginya harus berbeda. Tidak bisa dengan strategi yang sama,” tegasnya.

AFI kini mulai mempersiapkan pendekatan baru, termasuk memperkuat sistem pembinaan pemain muda dan membangun ekosistem futsal nasional yang lebih modern.

Belajar dari Portugal dan Spanyol

Sebagai bagian dari upaya pembenahan, Michael mengaku sempat belajar langsung ke Portugal dan Spanyol, dua negara dengan sistem futsal terbaik dunia.

Dari pengamatannya, keberhasilan negara-negara elite tidak terlepas dari integrasi kuat antara futsal dan sepak bola dalam pembinaan usia muda.

Anak-anak di Portugal dan Spanyol, kata Michael, sejak kecil sudah terbiasa bermain futsal sebelum akhirnya memilih fokus menjadi pemain futsal profesional atau pesepak bola saat memasuki usia remaja.

“Di sana, pembibitan usia muda itu terintegrasi. Database pemain, kompetisi, sampai pertukaran data antara futsal dan sepak bola berjalan bersama,” katanya.

Model seperti itu dinilai penting diterapkan di Indonesia jika ingin membangun kekuatan futsal jangka panjang.

Futsal dan Sepak Bola Harus Berjalan Bersama

Michael menilai salah satu kunci sukses negara-negara elite dunia adalah hubungan erat antara futsal dan sepak bola.

Brasil, Argentina, Portugal, hingga Spanyol memiliki fondasi yang sama: perkembangan futsal tumbuh seiring kemajuan sepak bola mereka.

Karena itu, AFI kini mulai mendorong sinergi lebih kuat dengan ekosistem sepak bola nasional agar pembinaan atlet bisa lebih maksimal.

“Kalau melihat negara elite global, futsal dan sepak bolanya maju bersama. Untuk bisa masuk level lima besar dunia, futsal harus erat dengan ekosistem sepak bola,” jelas Michael.

Ranking FIFA Bukan Target Utama

Meski ranking FIFA sering menjadi ukuran keberhasilan sebuah tim nasional, Michael menegaskan AFI tidak menjadikan angka ranking sebagai target utama.

Menurutnya, ranking hanyalah hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kompetisi berkualitas, jam terbang internasional, dan keberanian menghadapi lawan-lawan kuat dunia.

“Kami tidak pernah mematok target ranking tertentu. Ranking itu produk, bukan tujuan,” ujarnya.

AFI saat ini lebih fokus memperbanyak pertandingan internasional, memaksimalkan agenda FIFA Matchday, serta meningkatkan kualitas kompetisi futsal domestik.

Dengan fondasi itu, Michael optimistis Timnas Futsal Indonesia dapat terus berkembang dan perlahan menembus level elite dunia.

“Kami ingin timnas terbiasa melawan negara-negara kuat. Dari situ nanti hasilnya akan mengikuti,” pungkasnya.

Capaian peringkat 14 dunia kini menjadi simbol bahwa futsal Indonesia bukan lagi sekadar peserta di panggung internasional, melainkan mulai diperhitungkan sebagai kekuatan baru yang siap menantang raksasa dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.