Kain Jumputan Lintang Kejora Eksis Terbang ke Belgia, Menolak Gaptek Kunci Sukses UMKM
Sri Juliati May 13, 2026 02:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Dua jam sebelum menuju siang, empat emak-emak tampak sibuk mengecek detail kecil ratusan kantong hingga dompet berwarna-warni.

Barang-barang itu harus siap sempurna, bahasa kerennya telah melewati Quality Control mengantisipasi cacat fisik untuk dikirim di berbagai penjuru tanah air.

Dua orang mendapat bagian meneliti bagian luar produk, memastikan resleting dapat dibuka tutup dan tak ada serabut benang keluar dari jalur.

Sementara dua lainnya bertugas memberi label dan mengemas produk.

“Saya bagian terakhir, menata dan memilah barang-barang tersebut ke dalam karung sesuai tujuan masing-masing,” kata Rini Sulistyaningsih, pemilik UMKM kain jumputan Lintang Kejora, Jumat (8/5/2026).

Dari bagian teras rumahnya yang disulap sebagai tempat display itu, Rina dan tim memproduksi aneka produk berbahan kain jumputan. Seperti tas jinjing, dompet, kantong belanja dan pernak-pernik yang biasa untuk hadiah atau souvenir.

Memang tempatnya tak besar, hanya berukuran sekitar tiga meter kali empat meter, tapi di ruang itu tercipta barang-barang bernilai mahal. Bukan harganya tapi nilainya, sudah melalang sampai Belgia.

Perjuangan Rina tak mudah. Ia memulai usaha dari nol.

Pernah berkali-kali Rina ingin menyerah dan berhenti berkarya. Bagaimana tidak, penjual mana yang tak sedih ketika dagangannya ditawar dengan harga di bawah biaya modal.

Baca juga: Likuiditas Perbankan Masih Kuat, Tapi Kredit Konsumsi dan UMKM Melambat

"Kadang ada yang menawar sampai di bawah modal. Rasanya pingin menyerah, tapi saya pikir, kalau bukan saya yang percaya, siapa lagi?" kenangnya.

Tahun 2015 menjadi titik awal, saat dompet kecil dari potongan kain perca keluar dari tangan-tangan kreatifnya.

Pegawai UMKM Lintang Kejora tengah mengemas produk kain jumputan
Pegawai UMKM Lintang Kejora tengah mengemas produk kain jumputan (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

Butuh bertahun-tahun menjual produknya dari pameran ke pameran, dari pasar kecil hingga bazar kampung, hanya untuk membuat orang percaya bahwa karya tangannya layak dihargai.

Saat badai pandemi Covid-19 datang menerpa, kejamnya dunia wirausaha terasa, begitu pula saat hasil penjualannya nyaris taka da peminat.

Namun justru di tengah kekalutan itu, Rina menemukan secercah cahaya. Ia memberanikan diri melangkah ke dunia digital, belajar memasarkan produk lewat media sosial.

Rumah BUMN Solo, pusat pembinaan UMKM milik BRI, menjadi rumah keduanya dalam bertumbuh.

Di sana, ia belajar dari dasar, yakni bagaimana membuat katalog digital, memotret produk dengan baik, hingga mengelola keuangan usaha.

"Saya dulu gaptek (gagap teknologi) banget. Pegang handphone buat jualan aja bingung. Di Rumah BUMN, saya benar-benar diajari dari nol," ungkapnya.

Tak hanya belajar, Rina membuktikan diri.

Ia menjuarai kompetisi BRILianpreneur 2021 untuk kategori media sosial, dan membawa pulang Juara 1 dalam even Startup4Industry 2021 yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian.

"Itu pertama kalinya saya merasa bahwa usaha kecil saya ternyata bisa bersuara di antara ratusan UMKM hebat," ucap Rina dengan mata berkaca-kaca.

Selain BRILianpreneur, pada 2023 Rina berkesempatan mengkuti program BRI lainnya bernama BRIncubator.

Rina merasa terbantu mengikuti program tersebut. Selain memperluas jaringan, produk jualannya pun dipromosikan oleh BRI. 

"Sangat bermanfaat dan membantu, terutama untuk persiapan ekspor. Di BRIncubator ada pembinaan khusus ekspor, jadi saya tahu langkah-langkah dan apa saja yang harus dipersiapkan untuk menembus pasar internasional," tegas perempuan berusia 51 tahun ini.

Keaktifan Rina belum berhenti, ia merupakan UMKM binaan Dinkop UMKM Kota Solo dan aktif mengikuti pameran di level kota, provinsi hingga nasional. Tentu dengan melalui proses kurasi yang ketat demi kualitas UMKM.

Bekal-bekal itulah yang mengantar produk Lintang Kejora bisa menjelajah ke Bali, Kalimantan Selatan,Singapura dan Belgia.

"Ekspor Insya Allah ada tambahan. Tahun ini kami masih eksis mengirim ke Belgia. Itu konsumen lama sejak tahun 2024. Kemarin kami kirim dua bal lewat udara dan laut, tergantung permintaan pelanggan," tukasnya.

Namun bagi Rina, bukan ekspor atau omzet Rp 12 juta per bulan yang membuatnya bangga.

Kebahagiaannya sederhana, yakni bisa melihat produknya dipakai orang lain, termasuk di Belgia.

Adapun adanya pelanggan ekspor membuat Rina belajar dan terus meningkatkan kualitas diri. Misalnya modifikasi produk yang dikirim ke Belgia. Corak yang diminta adalah corak batik, yang tidak ditemui di sana.

Rina kemudian menambah variasi produk Lintang Kejora dengan produk sling bag, ransel dan aneka tas lainnya.

Harganya bervariasi mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 500.000.

Dalam proses produksi, kain jumputan dikombinasikan dengan bahan lainnya seperti kain goni.

"Jadi tidak ada kata berhenti belajar, terus dan selalu semangat untuk memelajari keinginan pembeli demi kualitas dan pelayanan maksimal," imbuh dia.

Rumah BUMN Solo Energi Pelaku UMKM

Bagian depan Rumah BUMN Solo, rumah bagi para pelaku UMKM di Solo, Manahan, Banjarsari, Solo
Bagian depan Rumah BUMN Solo, rumah bagi para pelaku UMKM di Solo, Manahan, Banjarsari, Solo (Tribunews.com/Chrysnha Pradipha)

Kisah sukses Rina dengan Lintang Kejora tak luput dari peran Rumah BUMN Solo yang menjadi rumah kedua para pelaku UMKM binaan di Kota Bengawan.

Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, menyatakan bahwa pihaknya menjadi wadah agar UMKM bisa berkembang dan naik kelas.

“Kami memberikan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Condro pada Minggu (10/5/2026).

Program yang ditawarkan mencakup berbagai pelatihan tematik, termasuk pelatihan berbasis momen seperti workshop takjil saat bulan Ramadan.

Contoh produk yang dibuat dalam workshop tersebut antara lain es kuwut, mochi, dan kue bawang dengan modal kurang dari Rp50.000.

Seluruh program pelatihan di Rumah BUMN Solo disediakan secara gratis bagi para peserta.

Hingga kini terdapat sekitar 85.157  UMKM yang terdaftar pada rumahbumn.id.

Dari jumlah tersebut, sekitar 300 UMKM aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya.

Jumlah mitra terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat menurun saat pandemi COVID-19.

Pasca pandemi, muncul banyak UMKM baru dari kalangan produktif, seperti mahasiswa dan lulusan baru.

Kriteria utama untuk menjadi mitra adalah memiliki semangat wirausaha, baik yang sudah punya usaha maupun yang baru ingin memulai.

Rumah BUMN Solo juga berperan dalam peningkatan daya saing dan akses pasar bagi UMKM.

Mereka menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk mendukung pemasaran daring.

Pelatihan yang diberikan mencakup public speaking, konten digital, dan editing video untuk menunjang promosi.

“Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro.

Produk mitra binaan juga sering diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk saat ada kunjungan direksi BRI atau pejabat kementerian.

Beberapa produk unggulan bahkan sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Kanada.

Kolaborasi menjadi prinsip utama dalam kerja Rumah BUMN Solo, sesuai arahan Kementerian BUMN.

Selain itu, Rumah BUMN Solo juga mendukung program tahunan BRI seperti BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dan calon buyer dari luar negeri.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun kesadaran UMKM tentang pentingnya peningkatan keterampilan usaha.

Condro menilai, pelatihan harus dikemas menarik agar UMKM tertarik belajar dan meningkatkan kapasitas mereka.

“Kami tidak ingin usaha mereka sekadar untung sesaat, tapi bisa bertahan bahkan sampai ke generasi berikutnya,” tambahnya.

Ke depan, Rumah BUMN Solo berkomitmen untuk terus memberikan dukungan berupa ilmu, keterampilan, dan akses jejaring bisnis bagi para UMKM.

Keberadaan Rumah BUMN Solo membawa manfaat bagi ribuan UMKM, juga menjadi rumah kedua para pelaku usahanya.

Di antaranya yang berhasil mengembangkan sayap adalah UMKM Lintang Kejora milik Rina Sulistyaningsih asar Kampung Baru hingga Sangkar Burung Eank Solo milik Eko Allif Muryanto asal Mojosongo yang telah mengirim produknya hingga ke Belgia.

Masih banyak lagi UMKM binaan Rumah BUMN Solo yang telah mandiri dan menjadi inspirasi UMKM lainnya di Solo Raya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.