TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kontroversi penilaian dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang melibatkan tim dari SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas masih menjadi topik terhangat nasional saat ini.
Di tengah ramainya komentar publik, perhatian kini juga tertuju pada dampak psikologis yang mungkin dialami para siswa yang terlibat.
Psikolog Klinis, Istiqomah menilai situasi seperti ini dapat memengaruhi cara pandang pelajar terhadap sistem kompetisi maupun figur orang dewasa yang seharusnya menjadi panutan.
“Kejadian ini bisa bikin kedua belah pihak dan siswa lainnya jadi skeptis sama sistem. Mereka belajar bahwa ‘orang dewasa’ atau ‘juri’ yang seharusnya jadi panutan ternyata bisa melakukan kesalahan fatal dan tidak profesional. Ini bisa memicu sifat sinis terhadap kompetisi ke depannya,” ujarnya kepada TribunPontianak.co.id, Selasa 12 Mei 2026.
Ia mengatakan, viralnya sebuah persoalan di media sosial juga dapat menjadi tekanan tersendiri bagi remaja terlebih ketika mereka menjadi sorotan publik dalam usia yang masih rentan secara emosional.
Menurutnya, kasus seperti ini benar-benar menguji ketahanan mental atau resilience para siswa sehingga pendampingan dari pihak sekolah maupun orang tua menjadi sangat penting.
Ia menekankan, fokus utama yang perlu diberikan kepada siswa bukan lagi mengenai menang atau kalah dalam perlombaan, melainkan memastikan kondisi emosional mereka tetap terjaga.
“Fokusnya jangan lagi soal siapa yang menang atau kalah, tapi memvalidasi perasaan mereka bahwa ‘apa yang kalian rasakan itu valid, dan kalian lebih berharga daripada sekadar skor lomba atau komentar netizen’,” lanjutnya.
• Menuju Jakarta Tindaklanjuti Polemik LCC, Peserta Smansa Pontianak Satu Pesawat dengan Istri Wapres
Istiqomah pun berharap para pelajar yang terlibat tetap semangat dan tidak kehilangan kepercayaan diri akibat polemik yang terjadi.
“Semoga para siswa dari kedua sekolah tetap semangat dan nggak patah arang karena kejadian ini ya,” tutupnya.
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengundang 10 peserta LCC SMAN 1 Pontianak ke Jakarta.
Kabar itu diungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal.
Syarif mengungkapkan bahwa dirinya dihubungi langsung oleh tim Wapres untuk menyampaikan undangan kepada peserta LCC 4 Pilar dari SMA Negeri 1 Pontianak.
“Awalnya hanya Josepha yang diundang ke Jakarta untuk bertemu Pak Wapres. Namun kemudian saya sampaikan bahwa teman-teman lainnya juga ingin ikut bertemu (Wapres) dan tidak mungkin Josepha berangkat sendiri akhirnya 3 guru berangkat dampingi ,” ujar Syarif.
• Psikolog Soroti Dampak Mental Pelajar di Balik Viral LCC 4 Pilar Kalbar
Ia menjelaskan, setelah dilakukan komunikasi dengan Tim Wakil Presiden, akhirnya disepakati sebanyak 10 peserta LCC SMA N 1 Pontianak turut diundang ke Jakarta.
Dalam rombongan tersebut juga ikut Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, serta guru pendamping.
“Setelah negosiasi dengan Tim Wapres, akhirnya seluruh peserta bisa ikut. Semua biaya keberangkatan dan akomodasi juga ditanggung oleh Tim Wapres,” katanya.
Syarif Faisal menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian Wakil Presiden RI terhadap para pelajar di Kalbar.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus tindak lanjut atas polemik yang sempat menjadi perhatian publik.
“Kita sangat mengapresiasi Pak Wapres. Ini memang salah satu tindak lanjut yang kita harapkan. MPR juga sudah memberikan klarifikasi terkait pelaksanaan lomba tersebut,” tutupnya.
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!