KKMD Bangka Belitung Berperan Pastikan Kelestarian Mangrove Untuk Masa Depan
Fitriadi May 13, 2026 10:03 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi mangrove existing selusas 66.841 hektare, membuat mangrove mampu jadi potensi yang besar untuk masa depan daerah.

"potensi mangrove existing selusas 66.841 hektare, 97 persennya adalah mangrove dengan kondisi kerapatan yang lebat. Kita juga punya potensi untuk rehabilitasi mangrove di angka 9.550 hektare, dengan panjang garis pantai lebih dari 1.200 kilometer," kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bangka Belitung, Bambang Trisula saat podcast di Ruang Berdaya Bangka Pos, Rabu (29/4/2026).

Podcast bertema "Mangrove untuk Masa Depan: Strategi dan Peran KKMD Babel" juga menghadirkan narasumber Ketua Harian Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Bangka Belitung, Elly Rebuin dan pegiat mangrove Bangka Belitung, Yasir.

Dari data DLHK Provinsi Bangka Belitung, mangrove di Bangka Belitung yang paling luas ada di Kabupaten Bangka Barat, yaitu kurang lebih 20.500 hektare. 

Lalu ada di Kabupaten Belitung kurang lebih 10.972 hektare, kemudian di Kabupaten Bangka sekitar 10.600 hektare, dan di Bangka Tengah luasannya di angka 6.670 hektare.

"Mangrove adalah ekosistem di pesisir, mangrove ini dianggap hanya bakau padahal jenis mangrove itu beragam. Bakau itu hanya salah satu jenis mangrove, ada nipah juga termasuk jenis mangrove," jelas Bambang Trisula. 

Bambang mengatakan ada beberapa skema yang bisa dimanfaatkan masyarakat, dalam pengelolaan mangrove seperti kelompok hutan Kemasyarakatan. 

"Salah satu pola perhutanan sosial di mana masyarakat diberikan akses pengelolaan, terhadap mangrove untuk tujuan wisata. Inilah peluang dari perhutanan sosial, yaitu akses kelola oleh masyarakat," kata Bambang.

Bambang mengatakan, pemanfaatan kawasan hutan lindung hanya untuk jasa lingkungan seperti wisata, maupun pengembangan hasil hutan bukan kayu.

"Harapannya ke depan, dengan masyarakat mengambil peran dalam pengelolaan hutan, dapat meminimalisir kegiatan-kegiatan ilegal di dalam kawasan hutan," kata Bambang.

Ketua KKMD Provinsi Bangka Belitung, Elly Rebuin mengatakan KKMD berperan dalam memastikan kelestarian alam termasuk di kawasan mangrove. 

"Aksi kita yaitu Manggruf Go to School, memang sudah mengagendakan kunjungan-kunjungan ke sekolah mulai dari SD sampai SMA hingga mahasiswa," kaya Elly Rebuin.

Melalui program tersebut, terdapat berbagai kegiatan yang merupakan aksi nyata sebagai bentuk kepedulian mangrove sebagai potensi di masa depan.

"Ada pelatihan termasuk pelatihan jurnalis lingkungan, kita bekerja sama dengan BPDAS dan KKMD untuk menciptakan adik-adik ini berani bersuara dalam bentuk jurnalis yang benar-benar sudah memahami. Artinya mereka paham itu manggruf itu apa sebenarnya, jadi produk yang mereka hasilkan ini adalah tentang mangrove," jelas Elly Rebuin.

Sementara itu pegiat mangrove asal Bangka Belitung, Yasir mengungkapkan pihaknya telah melakukan berbagai upaya termasuk pengembangan percontohan kegiatan di daerah payau. 

"Kegiatan budidaya itu harus dengan kondisi anggaran yang besar, uang yang besar, ternyata tidak. Jadi kita di daerah pesisir, suka tidak suka kita kepulauan, kita punya potensi air payau yang kuat, yang besar. Ada beberapa budidaya salah satunya kakap putih, kerapu, kepiting, udang, dan kami sudah buka juga khusus untuk percontohan," kata Yasir.

(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.