TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Suasana haru masih menyelimuti rumah keluarga bocah laki-laki korban luka bakar di Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.
Anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu kini menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka bakar serius pada bagian wajah dan tubuhnya.
Peristiwa tersebut terjadi saat korban bermain bersama sejumlah temannya di area kandang burung merpati.
Korban diduga terkena api hingga mengalami luka bakar cukup parah dan harus mendapatkan penanganan medis intensif di rumah sakit.
Ayah korban, Sucipto (49), mengaku sangat terpukul saat menerima kabar kondisi anak bungsunya tersebut.
Saat kejadian berlangsung, dirinya sedang bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu perumahan.
“Saya tahunya pas dikabari rumah sakit sekitar jam 10 pagi. Waktu itu lagi kerja, langsung kaget terus ke rumah sakit,” kata Sucipto kepada Tribunjateng, Rabu (13/5/2026).
Sesampainya di rumah sakit, kondisi anaknya disebut sudah tidak sadarkan diri dan tengah menjalani penanganan medis.
Baca juga: "Kalau Tak Bayar, Kami Ambil Paksa" Cara Empat Debt Collector Pati Rampas Mobil Pakai Kekerasan
“Sudah diinfus, nggak sadar sama sekali,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, korban diduga terkena kobaran api saat bermain di sekitar kandang burung merpati bersama teman-temannya.
Korban disebut menjadi anak paling kecil dalam kelompok bermain tersebut.
“Katanya main-main api di tempat burung dara itu. Anak saya mungkin di belakang karena paling kecil,” jelasnya.
Keluarga berharap ada pihak yang bertanggung jawab terhadap proses pemulihan korban hingga benar-benar sembuh.
Mereka juga mengkhawatirkan dampak luka bakar terhadap kondisi fisik dan masa depan anak tersebut.
“Mintanya tanggung jawab sampai sehat dan ada kompensasi buat masa depan anak. Soalnya wajahnya sudah berubah,” ucapnya.
Kasus tersebut kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan ayah korban mengaku sudah dimintai keterangan oleh aparat terkait kejadian tersebut.
Di lingkungan tempat tinggalnya, korban dikenal sebagai anak pendiam dan jarang membuat masalah.
Sejak masih bayi, ia lebih banyak diasuh oleh nenek dan bibinya setelah kehilangan sosok ibu.
“Dari umur 40 hari sudah sama simbahnya,” ungkapnya.
Korban merupakan anak keempat dari empat bersaudara dan menjadi anak paling kecil di keluarganya.
Salah satu kakaknya telah menikah, satu bekerja, sementara lainnya masih bersekolah di tingkat SMK.
Menurut sang ayah, aktivitas sehari-hari korban hanya bermain ponsel dan memelihara burung merpati di sekitar rumah.
“Nggak neko-neko, nggak pernah merepotkan,” ungkapnya.
Ketua RT setempat, Sri Rahayu, menyebut korban merupakan anak yang ceria meski memiliki kondisi tubuh lebih kecil dibanding anak seusianya.
“Dia itu sebenarnya seperti anak-anak biasa, ceria. Tapi memang badannya kecil dan agak kurusan,” ucap Sri.
Dia menjelaskan korban memang lebih dekat dengan nenek dan bibinya karena sejak kecil ditinggal meninggal dunia oleh ibunya.
“Kasih sayangnya lebih banyak dari nenek sama buleknya,” ujarnya.
Menurut Sri, area kandang merpati memang kerap dijadikan tempat bermain anak-anak sekitar, terutama karena tren memelihara merpati sedang ramai di lingkungan tersebut.
“Anak-anak memang sering main di kolongan merpati itu,” jelasnya.
Selain itu, korban disebut sempat mengalami keterlambatan bicara sehingga lebih sering terlihat pendiam dibanding teman-temannya.
“Bicaranya mungkin ada keterlambatan sedikit,” tambahnya.
Pihak lingkungan menyebut kondisi ekonomi keluarga korban tergolong kurang mampu dan masuk kategori Desil 4 dalam data kesejahteraan pemerintah.
“Sering dapat bantuan pemerintah dan selalu tersampaikan,” kata Sri.
Rumah keluarga korban juga diketahui pernah mendapat bantuan program bedah rumah dari pemerintah.
Sementara itu, Kasitrantib Kelurahan Proyonanggan Selatan, Yuniarti, mengatakan pihak kelurahan langsung melakukan pendampingan setelah menerima laporan kejadian tersebut.
“Malam itu Pak Lurah bersama Babinkamtibmas dan Babinsa langsung ke lokasi.
Besok paginya kami ke rumah korban dan mengurus bantuan dari UPZ maupun Dinsos untuk pendampingan serta biaya pengobatan,” ungkap Yuniarti.
Pihak kelurahan juga telah menjenguk korban usai menjalani operasi di rumah sakit.
“Alhamdulillah operasinya sudah selesai. Tapi karena masih kecil dan mengalami luka bakar, kondisinya masih rewel,” ucapnya.
Yuniarti memastikan keluarga korban selama ini telah menerima berbagai bantuan sosial dari pemerintah.
“Rumahnya dulu ikut program bedah rumah. Bantuan sosial juga dapat, termasuk bantuan anak yatim piatu,” tutupnya. (ito)