Tribunlampung.co.id, Jakarta - Ucapan MC final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, Shindy Lutfiana, justru memantik gelombang kritik baru.
Hal itu setelah dirinya dianggap membela dewan juri saat polemik jawaban peserta SMAN 1 Pontianak viral di media sosial.
Di tengah ramainya sorotan publik terhadap keputusan juri, Shindy bahkan disamakan dengan buzzer oleh politikus PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli atau Gun Romli.
Sorotan itu bermula dari ucapan Shindy kepada peserta Regu C, Josepha Alexandra alias Ocha, ketika memprotes keputusan juri yang mengurangi poin timnya.
“Baik adik-adik, mohon diterima keputusan dewan juri. Karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik,” ujar Shindy saat memandu acara, dilansir TribunnewsBogor.com.
Baca juga: Ternyata Ini Alasan 2 Juri LCC 4 Pilar MPR Tak Kunjung Minta Maaf ke Publik
Tak berhenti sampai di situ, Shindy juga sempat melontarkan kalimat yang kemudian viral dan menuai kecaman publik.
“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,” ucapnya.
Kalimat tersebut langsung memicu kemarahan warganet karena dinilai meremehkan protes peserta yang merasa dirugikan.
Apalagi, publik menilai jawaban Ocha sebenarnya sama persis dengan jawaban peserta lain dari SMAN 1 Sambas yang justru diberi poin penuh oleh juri.
Kritik keras kemudian datang dari Gun Romli.
Ia menilai sikap MC dalam polemik tersebut justru memperkeruh suasana dan terkesan membungkam kritik peserta.
“MC yang sibuk memanipulasi narasi, dengan membawa-bawa ‘perasaan’ berperan penting seperti buzzer-buzzer yang bertugas membungkam nalar kritis penonton yang protes mewakili rakyat yang suaranya sering dianggap angin lalu,” katanya melalui unggahan Instagram, Senin (11/5/2026).
Menurut Gun Romli, polemik LCC itu bukan sekadar soal lomba pelajar, melainkan cerminan perilaku elite yang enggan mengakui kesalahan.
Ia bahkan menyebut kecerdasan dan kejujuran dikalahkan oleh otoritas dan kekuasaan.
“Di sini kecerdasan dan kejujuran dikalahkan oleh otoritas kekuasaan, juri dan penyelenggara tidak hanya menunjukkan kebodohan intelektual tetapi juga kejahatan moral,” katanya.
Di tengah derasnya kritik, Shindy akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa (12/5/2026).
Ia mengaku khilaf dan menyadari ucapannya tidak pantas diucapkan dalam kapasitas sebagai pembawa acara.
“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu: ‘Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulisnya.
Shindy juga mengakui ucapannya telah menimbulkan kekecewaan bagi peserta lomba, guru pendamping, hingga masyarakat yang mengikuti polemik tersebut.
Ia berjanji menjadikan kejadian itu sebagai bahan evaluasi agar lebih berhati-hati dalam memilih kata di ruang publik.
“Besar harapan saya permohonan maaf saya ini dapat diterima dan saya berkomitmen untuk menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi terhadap diri saya, agar dapat bersikap lebih baik dan bijak ke depannya,” tutupnya.
Seiring viralnya insiden tersebut, warganet juga ramai menguliti sosok Shindy di media sosial.
Dua akun Instagram yang diduga miliknya, yakni @shindy_lutfiana.mc dan @shindy_mc_wedding, bahkan mendadak tidak bisa ditemukan.
Publik menduga akun tersebut hilang setelah Shindy menerima gelombang kritik dari warganet.
Polemik sendiri bermula saat Josepha Alexandra dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan tentang lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota BPK.
Jawaban Ocha dinilai salah dan membuat timnya mendapat pengurangan lima poin.
Namun saat pertanyaan dilempar ulang, peserta dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dianggap identik dan justru diberi nilai 10 oleh juri.
Situasi makin panas ketika Ocha meminta klarifikasi, tetapi juri tetap bersikeras bahwa jawaban Regu C tidak menyebut unsur DPD secara jelas.
Juri lain, Indri Wahyuni, juga menyinggung soal artikulasi peserta yang dianggap tidak terdengar dengan baik.