Dr Ryu Hasan: Jiwa dan Perasaan Adalah Hasil Kerja Otak, Sehingga Depresi Cara Otak Proses Kehidupan
Budi Sam Law Malau May 14, 2026 02:17 AM

WARTAKOTALIVE.COM -- Ahli bedah saraf sekaligus pakar neurosains, Dr Roslan Yusni Hasan yang lebih dikenal dengan nama dr Ryu Hasan, memantik diskusi publik soal kesehatan mental lewat pernyataannya yang tajam dan menggugah dalam podcast YouTube KESADARAN 33 yang tayang 12 Mei 2026.

Dalam perbincangan bertema “Depresi Itu Suicidal atau Produktif?”, Ryu Hasan membongkar cara kerja depresi dari sudut pandang neurosains.

Neurosains adalah bidang ilmu multidisiplin yang mempelajari sistem saraf, dengan fokus utama pada struktur, fungsi, perkembangan, genetika, dan patologi otak manusia.

EPRESI KERJ 93939
DEPRESI KERJA OTAK - Ahli bedah saraf sekaligus pakar neurosains, Dr Roslan Yusni Hasan yang lebih dikenal dengan nama dr Ryu Hasan, memantik diskusi publik soal kesehatan mental lewat pernyataannya yang tajam dan menggugah dalam podcast YouTube KESADARAN 33 yang tayang 12 Mei 2026, dalam perbincangan bertema “Depresi Itu Suicidal atau Produktif?”. Ryu Hasan membongkar cara kerja depresi dari sudut pandang neurosains, sehingga tidak sekadar membahas depresi sebagai gangguan psikologis, tetapi sebagai fenomena biologis yang berakar pada otak manusia yang juga katanya dimana jiwa itu berada.

Baca juga: Konsumsi Suplemen Harus Bijak, Ini yang Perlu Diperhatikan untuk Kesehatan

Ryu Hasan tidak sekadar membahas depresi sebagai gangguan psikologis, tetapi sebagai fenomena biologis yang berakar pada otak manusia.

Salah satu pernyataan paling kuat yang disampaikannya adalah bahwa 'jiwa' sejatinya tidak terpisah dari tubuh.

“Perasaan itu adalah karena otak kita. Bahwa yang namanya jiwa itu adalah bagian dari tubuh kita. Ini hasil kerja otak,” ujar Ryu Hasan.

Pernyataan tersebut menjadi inti dari penjelasannya mengenai bagaimana depresi terjadi, berkembang, hingga dapat mendorong seseorang pada produktivitas ekstrem atau bahkan bunuh diri.

Baca juga: Pulih Pasca-Lebaran: Sequis Life Ajak Reset Finansial dan Gaya Hidup demi Keluarga

Depresi Bukan Sekadar Sedih

Ryu Hasan menegaskan bahwa masyarakat selama ini sering salah memahami depresi.

Menurutnya, depresi tidak sama dengan rasa sedih mendalam biasa.

Ia menggambarkan depresi sebagai kondisi yang sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah mengalaminya.

“Sulit menjelaskan depresi kepada orang yang tidak pernah mengalami. Seperti menjelaskan rasa pedas kepada orang yang tidak pernah merasakan pedas,” katanya.

Dalam penjelasannya, depresi adalah gangguan pada sistem kerja otak yang memengaruhi cara manusia memandang realitas, merasakan emosi, hingga menilai keberadaan dirinya sendiri.

Ia bahkan menyebut dirinya telah hidup dengan depresi sejak muda.

“Saya depresi sejak tahun ’86 sampai sekarang,” ungkapnya.

Namun Ryu menekankan bahwa depresi bukan kelemahan moral ataupun kurang bersyukur. Depresi adalah kondisi biologis yang nyata, sebagaimana penyakit fisik lainnya.

“Depresi itu memang sakit seperti sakit yang lain,” ucapnya.

Otak Tidak Dirancang Mencari Kebenaran

Dalam penjelasan neurosainsnya, Ryu Hasan menerangkan bahwa otak manusia pada dasarnya dirancang untuk bertahan hidup, bukan untuk selalu menemukan kebenaran.

“Otak kita tidak dirancang membedakan benar atau salah. Otak dirancang supaya kita hidup lebih lama,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa emosi seperti cemas, takut, sedih, dan bahagia sebenarnya merupakan alat evolusi yang dimiliki manusia maupun hewan untuk bertahan hidup.

Ketika seekor cheetah melihat mangsa, misalnya, tubuh akan mengalami 'kaskade adrenalin': pupil mata melebar, jantung berdetak cepat, aliran darah mengarah ke otot, sementara sistem pencernaan ditekan sementara.

Respons biologis itu, menurut Ryu, juga terjadi pada manusia ketika menghadapi ancaman.

Bedanya, manusia modern tidak hanya takut pada predator atau kelaparan, tetapi juga pada 'realitas intersubjektif' seperti cicilan, kemacetan, pekerjaan, tekanan sosial, hingga ekspektasi hidup.

“Manusia menciptakan banyak kecemasan dari hal-hal yang sebenarnya tidak ada, lalu diada-adakan,” katanya.

Tumpukan kecemasan itulah yang kemudian dapat berkembang menjadi gangguan cemas maupun depresi.

Baca juga: Siloam Neuroscience Summit 2025: Forum Neurosains Terbesar di Indonesia Hadirkan Ratusan Pakar

Jiwa dan Tubuh Tidak Terpisah

Menurut Ryu Hasan, salah satu alasan depresi sulit dipahami adalah karena banyak orang masih menganggap jiwa dan tubuh sebagai dua entitas berbeda.

Padahal, dari sudut pandang neurosains, emosi, kesedihan, hingga dorongan bunuh diri semuanya berkaitan erat dengan aktivitas otak.

“Memahami bahwa depresi itu karena otak kita akan memudahkan seseorang menghadapi depresi,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai penggunaan obat antidepresan tidak perlu dianggap tabu.

Ia sendiri mengaku sudah menggunakan antidepresan sejak akhir 1980-an.

“Sekarang obat antidepresan sudah jauh lebih berkembang,” katanya.

Produktif Karena Depresi?

Dalam podcast tersebut, Ryu Hasan juga membahas pertanyaan kontroversial: apakah depresi membuat seseorang menjadi lebih produktif?

Ia menyebut banyak tokoh besar dunia yang diketahui mengalami depresi, mulai dari Abraham Lincoln, Winston Churchill, Robin Williams, Marilyn Monroe, Isaac Newton, Alan Turing, hingga Mozart.

Namun ia menolak anggapan bahwa mereka tetap hebat meskipun depresi.

Menurut Ryu, justru ada kemungkinan depresi menjadi bagian dari proses mental yang membentuk produktivitas mereka.

“Churchill dan Abraham Lincoln bisa seperti itu karena depresinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa depresi dapat membuat seseorang memiliki sensitivitas, kegelisahan, dan dorongan berpikir yang berbeda dibanding orang lain.

Namun di sisi lain, depresi juga sangat dekat dengan risiko bunuh diri.

“Depresi itu sangat produktif, tapi juga sangat cenderung suicidal,” katanya.

Bahaya Perasaan “Lebih Baik Saya Tidak Ada”

Dalam penjelasan yang emosional, Ryu Hasan mengingatkan publik agar tidak menganggap remeh kalimat-kalimat seperti:

  • “Dunia lebih baik tanpa saya.”
  • “Saya lebih baik mati saja.”
  • “Hidup sudah tidak ada gunanya.”

Menurutnya, pikiran semacam itu merupakan tanda serius depresi.

“Itu bertentangan dengan tujuan dasar otak untuk mempertahankan hidup,” jelasnya.

Ia menyebut sekitar 96 persen kasus bunuh diri berkaitan dengan depresi.

Karena itu, orang dengan depresi sangat membutuhkan dukungan sosial, meskipun sering terlihat ingin menyendiri.

“Penyandang depresi perlu teman, meskipun kelihatannya dia tidak perlu,” ujarnya.

Baca juga: Dokter Tifa Klaim Akun Fufufafa Milik Gibran Sesuai Analisis Neurosains, Sebut Terindikasi Insomnia

WHO Pernah Jadikan Depresi Agenda Global

Ryu Hasan juga menyinggung bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya telah menjadikan depresi sebagai agenda besar dunia pada 2020.

Namun agenda tersebut tenggelam akibat pandemi Covid-19.

Menurut data WHO yang dikutipnya, satu dari lima orang di dunia pernah mengalami depresi dalam hidupnya.

Fakta itu menunjukkan bahwa depresi bukan persoalan langka, melainkan masalah kesehatan global yang dapat dialami siapa saja tanpa memandang status sosial, pendidikan, maupun kesuksesan.

Banyak Orang Tidak Sadar Mengalami Depresi

Dalam podcast tersebut, dr Ryu mengatakan sebagian besar penderita depresi tidak menyadari kondisinya sendiri.

“Hampir semua orang yang depresi itu tidak menyadari dirinya depresi,” ujarnya.

Karena itu, banyak pasien baru datang ke psikiater setelah dipaksa keluarga atau teman dekat.

Ia menekankan pentingnya kehadiran orang lain bagi penderita depresi, meskipun mereka sering tampak menolak bantuan.

“Penyandang depresi itu perlu teman meskipun seolah-olah dia enggak perlu,” katanya.

Pengalaman Pribadi dan Peran Buku

dr Ryu mengaku dirinya pernah berada dalam situasi depresi, bahkan sampai kini dalam intensitas tertentu.

Ia mengaku terbantu memahami kondisi depresi melalui buku dan ilmu kedokteran.

Ia banyak membaca kisah tokoh-tokoh besar yang juga hidup dengan depresi.

Salah satu buku yang ia rekomendasikan adalah Reasons to Stay Alive karya Matt Haig.

Menurutnya, memahami bahwa depresi merupakan bagian dari kerja otak membantu seseorang lebih mudah menerima kondisi tersebut tanpa merasa dirinya rusak atau gagal.

Ia juga mengaku telah menggunakan obat antidepresan sejak akhir 1980-an

Pentingnya Memahami Depresi Secara Ilmiah

Di akhir pembahasannya, Ryu Hasan menekankan pentingnya memahami depresi secara ilmiah agar masyarakat tidak lagi memandangnya sebagai kelemahan karakter atau persoalan spiritual semata.

Ia mengingatkan bahwa depresi sering tersembunyi di balik wajah ceria, prestasi besar, bahkan kehidupan yang terlihat sempurna.

“Banyak orang depresi tidak sadar dirinya depresi,” katanya.

Karena itu, ia mendorong siapa pun yang memiliki dorongan untuk mengakhiri hidup, kehilangan makna hidup, atau merasa dunia lebih baik tanpa dirinya untuk segera mencari bantuan profesional maupun dukungan dari orang terdekat.

“Merasa sendirian itu musuh utama penyandang depresi,” ujar Ryu Hasan.

“Kalau ada pikiran bahwa mati lebih cepat itu lebih bagus, waspadai. Itu depresi,” tegasnya.

Ia menilai banyak orang menyamarkan gejala depresi dengan narasi spiritual atau sikap pasrah, sehingga kondisi tersebut semakin sulit dikenali.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mulai melihat depresi sebagai kondisi medis yang nyata dan membutuhkan pertolongan profesional.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional berat, pikiran menyakiti diri sendiri, atau dorongan bunuh diri, segera cari bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, layanan kesehatan terdekat, atau orang yang dipercaya.
 
Catatan: Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/saya-ingin-bunuh-diri/

Juga bisa menghubungi Yayasan Pulih (021) 78842580 atau email lewat pulihfoundation@gmail.com.

Atau Call Center Halo Kemenkes 1500-567.

Selain itu, Kemenkes juga menyediakan Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567. Anda bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.