Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari
TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Di ufuk Timur kompleks Wadio Atas, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, saat matahari belum sempat menyeka embun dari daun-daun singkong, Veronika Ugiba sudah terjaga.
Baginya, hidup adalah sebuah perlombaan panjang melawan rasa lelah yang tak kunjung usai.
Sebagai seorang ibu dua anak, dunianya berputar di antara peluh dan harapan kecil yang ia titipkan pada langit Papua Tengah.
Dahulu, hari-hari Veronika dihabiskan dengan mencangkul tanah yang keras di kebun.
Baca juga: Buntut Kericuhan di Dogiyai Papua Tengah, Empat Polisi Dipecat dan 8 Lainnya Demosi
Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, dia memeras keringat hanya untuk memastikan dapur di rumahnya tetap berasap.
Tak berhenti di situ, sore harinya dia menyambung nyawa dengan berjualan es sirup di halaman rumah.
Namun, penghasilan dari semua perjuangan berat itu, masih tak cukup untuk menjawab kebutuhan sehari-hari mereka, seperti makan dan lain sebagainya.
Perjuangan itu hanya menyisakan tanya di kepala.
Baca juga: Taspen Manokwari Berupaya Sulap Kampung Petrus Kafiar Jadi Kebun Buah Hidup
Namun nasib wanita asli Intan Jaya itu mulai berbisik lembut pada Desember 2025.
Sebuah harapan muncul melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka.
Ketika diminta mengumpulkan KTP sebagai syarat kerja, Veronika sempat dilanda ketakutan hebat.
Dengan penuh kecurigaan negatif, dia sempat berfikir dan bertanya dalam hati kecilnya, untuk apa KTPnya diambi.
Baca juga: Polinef Fakfak Buka Kursus Bahasa Inggris untuk SD Hingga Mahasiswa
Namun dibalik keraguan itu, seorang rekan sesama Mama Papua datang meyakinkannya dan mengajak dia untuk bekerja di Dapur SPP Gerbang Sadu.
Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan identitasnya sebagai tanda bahwa Veronika siap menuju babak baru sebagai juru peminda makanan di dapur di SPPG tersebut.
Dengan pekerjaan yang dimiliki maka, dia bukan lagi sekadar buruh kebun, tapi sebagai jantung dan harapan dari sebuah dapur besar yang memberi makan kepada ribuan anak-anak bangsa.
Namun, momen paling mengharukan terjadi saat dia menerima upah pertamanya.
Baca juga: 19 Peserta Meriahkan Lomba Pop Singer Lagu Ambon pada Momen Hari Pattimura di Biak
Veronika mengatakan, saat menerima gaji pertama, dia langsung membawa pulang lembaran rupiah itu kepada keluarga kecilnya.
Suaminya yang setia menjaga dua orang anak mereka, menyambutnya dengan senyum lega, karena upahnya dapat berubah menjadi makanan untuk mengisi piring-piring di rumah mereka.
Menurut Veronika kehadiran MBG sangat memberi manfaat kepada rakyat kecil.
"Dari MBG saya bisa bekerja dan mendapatkan gaji," kata Veronika kepada awak media, termasuk Tribun-Papua.com, Rabu, (13/5/2026).
Bagi dia, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan martabatnya karena dari MBG, ia dapat melihat masa depan yang lebih cerah untuk kedua anaknya.
Baca juga: Dosen Uncen Ajari Mama Nelayan Sarmi Jualan Ikan Lewat Konten Digital
Dia bilang, setiap uap yang mengepul dari panci besar di SPPG Gerbang Sadu merupakan doa yang terkabul.
"Untuk itu bagi saya, program MBG tidak boleh berhenti, sebab kalau berhenti, maka api di dapur kami akan padam, sebab di balik sepiring makanan, ada cinta seorang ibu yang tak terbatas," ujarnya.(*)