TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Di tengah deretan rumah permanen di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah rumah kecil yang kondisinya memprihatinkan.
Dindingnya terbuat dari bilik bambu dan kain yang sudah robek, lantainya masih berupa tanah, sementara atapnya bocor di banyak bagian.
Rumah itu dihuni Dianah (38) bersama suami dan dua anaknya selama empat tahun terakhir.
Meski kondisi rumah nyaris roboh, keluarga tersebut tetap bertahan karena penghasilan sang suami sebagai buruh bangunan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Pantauan di lokasi, rumah berukuran kecil itu tampak miring dan ditopang kayu seadanya.
Beberapa bagian dinding bahkan ditutup terpal plastik untuk menghalau angin dan air hujan yang kerap masuk ke dalam rumah.
Baca juga: Tradisi Gentong Haji di Cirebon: Sedekah Air Sejuk Demi Kelancaran Ibadah Keluarga di Tanah Suci
Saat masuk ke dalam rumah, kondisi lebih memprihatinkan terlihat jelas.
Cahaya matahari menembus sela-sela dinding dan atap yang berlubang.
Di ruangan sempit itu hanya terdapat satu kasur tipis, lemari kayu tua dan beberapa perabot sederhana.
Dianah mengaku, selalu khawatir saat hujan turun karena rumahnya rawan roboh.
“Ya kehujanan, terus bocor. Terus takut roboh, kan rumahnya sudah kayak gini,” ujar Dianah saat ditemui di rumahnya, Rabu (13/5/2026).
Ia mengatakan, dirinya bersama anak-anak terpaksa tidur di lantai tanah karena belum memiliki lantai permanen di dalam rumah.
“Tidurnya di atas tanah, keadaan masih tanah, belum ada lantai,” ucapnya.
Dianah mengaku, sudah empat tahun tinggal di rumah tersebut bersama keluarganya.
Selama itu pula, mereka belum mampu memperbaiki rumah karena keterbatasan ekonomi.
“Penghasilan suami cuma cukup buat makan saja,” jelas dia, lirih.
Jika hujan deras disertai angin kencang datang, Dianah bersama kedua anaknya memilih mengungsi ke rumah saudara karena takut bangunan rumah ambruk sewaktu-waktu.
Selain hidup dalam keterbatasan ekonomi, keluarga ini juga harus merawat anak pertamanya, Aji (16), yang mengalami gangguan mental dan sering melamun.
“Aji tadinya normal, sekarang sering melamun terus,” kata Dianah.
Sementara itu, Perangkat Desa Beringin, Supriyadi mengaku, pihak desa sudah mengusulkan rumah keluarga tersebut untuk mendapatkan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
“Kami dari pemerintah desa sudah pernah mendata ke dinas terkait untuk program Rutilahu. Cuma sampai saat ini belum ada kabar lebih konkretnya terkait itu,” ujar Supriyadi.
Menurutnya, bantuan dari warga sekitar sejauh ini baru sebatas kebutuhan makanan sehari-hari.
Sedangkan bantuan material untuk memperbaiki rumah belum ada.
“Kalau dari tetangga lebih ke bantuan kemanusiaan untuk makan sehari-hari. Tetapi untuk perubahan rumah atau material, belum sama sekali,” ucapnya.
Pihak desa berharap keluarga Dianah bisa menjadi prioritas penerima bantuan rumah layak huni dari pemerintah daerah.
“Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan ini, semoga menjadi prioritas bersama agar dinas terkait bisa segera melihat kondisi warga Desa Beringin,” jelas dia.