TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Banjir di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) akhirnya surut, Kamis (14/5/2026).
Banjir itu disebabkan luapan Kali Wanggu setelah hujan berintensitas tinggi beberapa waktu lalu.
Kondisi ini dimulai sejak Jumat (8/5/2026), di mana air meluap hingga merendam puluhan rumah warga dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa.
Pantauan TribunnewsSultra.com di lokasi, genangan air telah surut sepenuhnya, tetapi menyisakan lumpur di dalam rumah hingga halaman permukiman warga.
Warga tampak membersihkan rumah menggunakan peralatan seadanya, seperti ember berisi air dan sapu.
Sejumlah relawan juga turun membantu membersihkan rumah dan perabot milik warga terdampak.
Meski kondisi mulai membaik, sebagian warga masih bertahan di tempat pengungsian di masjid.
Seorang warga, Nurjannah, mengatakan dirinya bersama warga lain mulai mengungsi di masjid sejak Sabtu (9/5/2026).
Baca juga: Bupati Konawe Yusran Temui Pengungsi, Para Korban Banjir Mulai Keluhkan Masalah Kesehatan
Total warga yang mengungsi sekitar 42 kepala keluarga dari RT 13 dan RT 14.
Namun, yang tinggal di masjid sekitar 25 KK karena kapasitasnya terbatas, sedangkan yang lainnya berada di tempat pengungsian darurat dan di rumah kerabat.
Kata dia, rumah mereka sebenarnya sudah dibersihkan.
Namun, bau lumpur yang menyengat membuat warga belum nyaman kembali menempati rumah.
“Kami sudah bersihkan rumah, tetapi bau lumpurnya masih kuat. Biasanya tidak seperti ini. Kemungkinan sekitar dua hari baru hilang, tergantung cuaca,” kata Nurjannah saat ditemui di lokasi pengungsian.
Ia menyampaikan kebutuhan makanan selama mengungsi di masjid tercukupi.
Namun, warga sempat kesulitan mendapatkan air bersih saat awal banjir karena listrik padam.
“Awalnya kami terkendala air bersih karena listrik mati, tapi akhirnya terbantu dengan genset. Listrik baru kembali menyala pada Rabu kemarin,” tuturnya.
Meski lelah menghadapi banjir yang terus berulang, Nurjannah mengaku ada hikmah di balik musibah tersebut.
Salah satunya bisa berkumpul bersama warga lainnya, dan saling membantu walaupun mengalami kesulitan yang sama.
“Kami berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul di sekitar permukiman agar banjir tidak terus terjadi setiap kali hujan deras turun,” jelansya.
Sementara itu, Lurah Lepo-Lepo, Ridlan, menyebut sebanyak 225 kepala keluarga atau sekitar 685 jiwa terdampak banjir di Lepo-Lepo.
Ratusan warga terdampak tersebar di delapan RT di Kelurahan Lepo-Lepo, tetapi terdampak banjir paling parah berada di RT 14, RT 12, dan RT 3.
“Sekitar 300 warga mengungsi di tenda darurat yang telah disediakan, dan sebagiannya lagi di Masjid,” pungkasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)