BANJARMASINPOSRT.CO.ID, BANJARBARU - Pada ajang Women Ecopreneurs Market Day yang digelar Women’s Earth Alliance (WEA) bersama Pratisara Bumi Foundation (PBF), produk kain khas Banua dari SBK Sasirangan turut ambil bagian.
Kehadiran SBK Sasirangan dari Banjarbaru menjadi bagian dari puluhan pelaku usaha perempuan dari berbagai daerah di Indonesia yang menampilkan produk berbasis keberlanjutan dan pemberdayaan komunitas.
"Benar. Tim kami alhamdulillah lolos dan bisa tampil. Melalui agenda ini SBK Sasirangan tidak hanya memperkenalkan produk kain sasirangan, tetapi juga membawa semangat produksi ramah lingkungan dan penguatan ekonomi perempuan lokal," kata Miss Reni, fonder SBK Sasirangan, Kamis (14/5/2026).
Ajang Women Ecopreneurs Market Day sendiri digelar di Bali. Acara ini merupakan bagian dari program pendampingan bisnis Women Ecopreneurs Lab yang sejak 2025 mendampingi pelaku usaha perempuan dari berbagai provinsi, termasuk Kalimantan Selatan.
Pada kegiatan itu, para peserta mendapatkan pelatihan pengembangan produk, penguatan model bisnis hingga evaluasi praktik usaha berkelanjutan menggunakan WEA Eco-Entrepreneurship Toolkit.
Baca juga: Permintaan Maaf Ammar Zoni pada Aditya Zoni Sesaat Sebelum Balik Nusakambangan: Gagal Jadi Abang
Bagi SBK Sasirangan, keikutsertaan dalam market day menjadi kesempatan untuk memperluas pasar sekaligus mengenalkan sasirangan sebagai produk lokal yang memiliki nilai budaya dan kepedulian lingkungan.
Selain membuka stan produk, kegiatan juga diisi sesi presentasi bisnis, lokakarya pewarnaan tekstil alami, kerajinan berbasis limbah gedebog pisang, hingga forum jejaring antar pelaku usaha dan komunitas.
Berbagai produk yang dipamerkan dalam acara tersebut mengusung konsep keberlanjutan, mulai dari produk upcycle berbahan limbah, tekstil pewarna alami, pengolahan hasil pertanian lokal hingga kerajinan berbasis pemberdayaan perempuan.
Women’s Earth Alliance ingin membuka akses pasar yang lebih luas bagi perempuan akar rumput agar produk lokal mampu bersaing sekaligus mendorong praktik produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. (Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)