TRIBUNBATAM.id, KARIMUN - Tengku Iskandi, nelayan asal Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih mengingat dengan jelas bagaimana ia bertahan hidup 4 hari di tengah laut hingga perairan perairan Batu Pahat, Johor, Malaysia.
Pria 35 tahun yang sudah melaut sejak SMP itu tak sendirian.
Terdapat Haidir, awak kapal lainnya yang terbawa arus hingga perairan Malaysia, karena kapal yang mereka gunakan melaut mengalami rusak mesin.
Kepada TribunBatam.id, Iskandi yang lebih kurang 20 tahun melaut ini mengaku baru pertama kali mengalami hal itu.
Semua nampak normal saja ketika ia berangkat melaut menjaring ikan pada Kamis (7/5/2026) sekira pukul 17.00 WIB.
Sampai mereka tiba di tempat biasa mereka menjaring ikan sekira pukul 11.00 WIB.
Tengku Iskandi mulai curiga dengan kondisi mesin yang membutuhkan waktu lama untuk hidup.
"Hanya 15 menit kemudian mati lagi. Terus kami coba hidupkan, coba perbaiki mesin tapi tak bisa juga. Lalu kami putuskan untuk turunkan jangkar, tapi jangkar kami tak sampai dasar pula. Sampai akhirnya kami hanyut," ceritanya saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/5/2025).
Situasi makin pelik karena diantara mereka tidak membawa ponsel.
Apalagi kondisi angin kencang dan hujan deras sempat mereka alami di perairan yang banyak dilintasi kapal tanker itu.
Sebisa mungkin mereka berusaha meminta pertolongan jika melihat ada kapal yang melintas.
Sementara perbekalan yang mereka bawa, hanya cukup untuk mereka melaut hari ini saja.
"Kami berlabuh tu pagi, kami lihat air sudah tinggal sedikit, cuma bisa sekali masak nasi aja. Sesudah itu sudah tidak ada air lagi. Kami sudah mencoba melambai, meminta tolong ke orang, tapi tak ada juga yang membantu saat itu," ungkapnya.
Waktu terus bergulir hingga memasuki hari keempat. Mereka sama sekali tak memiliki makan dan minum.
Upaya untuk meminta tolong terus mereka lakukan, meski hasilnya masih nihil.
Iskandi bahkan sempat mengonsumsi air laut karena tak tahan lagi dengan haus dahaga yang menderanya.
"Sempat satu kali saya minum air asin, tak tahan lagi (karena) haus, tapi sudah minum air asin itu (malah) tambah haus lagi jadinya, tenggorokan tambah kering, jadi tak bisa minum air asin," sebutnya.
Hingga secercah harapan datang. Satu unit kapal nelayan Malaysia akhirnya menolong mereka.
Posisi mereka ketika itu sudah berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia.
"Masih di perairan nasional, cuma sudah jauh ke bawah gitu di perairan Malaysia," bebernya.
Tengku Iskandi memberanikan diri untuk meminta air kepada orang di dalam kapal Malaysia itu.
Iskandi pun mengaku jika orang dalam kapal nelayan Malaysia itu iba setelah apa yang mereka alami.
"Mereka kaget karena kami empat hari tak makan dan minum. Mereka kemudian memberi kami air minum dan roti. Di situ kesempatan saya memberi nomor Abang saya. Minta tolong berikan informasi bahwa kami masih selamat. Kami juga meminta tolong sampaikan agar menjemput kami di lokasi ini," sebut nelayan Karimun itu.
Minggu, 10 Mei 2025 sekira pukul 5 sore waktu setempat, orang yang menolong Iskandi dan Haidir kemudian menghubungi Abang Tengku Iskandi.
Hingga dini hari Abang Tengku Iskandi menjemput mereka berdua.
Perasaan cemas selama empat hari itu berakhir sudah setelah Tengku Iskandi melihat langsung Sang kakak hingga tiba di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.
"Setelah dijemput, posisi sudah setengah jalan, sudah empat jam perjalanan kami lihat cuaca tak bagus. Kondisi saya masih lemah, saya disuruh pulang dulu lebih awal. Sementara Abang saya jaga pompong yang rusak ini sambil menunggu jemputan berikutnya," cerita Iskandi.
Hingga pukul 3 dini hari, ia diantar Babinsa setempat sampai ke Kabupaten Karimun.
Ia tak langsung dibawa ke rumah, melainkan dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis.
Iskandar mengaku kondisinya saat itu benar-benar lemah.
Ia bahkan mengaku sudah tidak mampu berdiri lagi.
Namun tekadnya yang kuat untuk terus bertahan hidup dan pulang, memberinya kekuatan. (TribunBatam.id/Fairoz Zamani)