Nafsu Israel di Konflik Iran Vs Amerika, Saat Xi Jinping dan Trump Sepakat Soal Selat Hormuz
Nia Kurniawan May 14, 2026 10:51 PM

TRIBUNKALTENG.COM - Update Perang Iran vs Amerika, Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengisyaratkan kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran dalam waktu dekat. Saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat soal Selat Hormuz harus tetap terbuka.

Situasi terkini, pada pidatonya pada upacara pergantian komandan Angkatan Udara Israel, Katz mengatakan bahwa Iran telah mengalami “pukulan sangat berat” selama setahun terakhir yang membuat negara itu mundur bertahun-tahun di berbagai bidang.

Baca juga: Live TVRI Jadwal Pesta Bola Dunia 2026, Timnas Iran Latihan di Turki Jelang Gabung Grup G

"Iran telah menderita pukulan yang sangat berat dalam setahun terakhir, pukulan yang telah membuatnya mundur bertahun-tahun di semua bidang," katanya, Kamis (14/5/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa “misi Israel belum berakhir” dan negaranya siap kembali bertindak jika diperlukan untuk memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel maupun kawasan.

Yisrael Katz juga menyebut bahwa Israel, bersama Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, terus berkoordinasi untuk menyelesaikan tujuan operasi terhadap Iran.

"Presiden AS Trump, berkoordinasi dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memimpin upaya untuk menyelesaikan tujuan kampanye dengan cara yang akan memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi keberadaan Israel dan AS serta dunia bebas untuk generasi mendatang," kata Yisrael Katz.

"Kami mendukung upaya tersebut dan memberikan dukungan yang diperlukan, tetapi kami mungkin akan segera diminta untuk bertindak lagi guna memastikan terwujudnya tujuan tersebut," ujarnya.

“Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran,” katanya dalam wawancara untuk acara “60 Minutes” di CBS yang ditayangkan Minggu (10/5/2026) malam.

“Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi... masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," katanya.

Ketika didesak tentang bagaimana AS dan Israel akan menyingkirkan material nuklir tersebut, Netanyahu menjawab, “Kalian masuk, dan kalian mengambilnya keluar.”

Di saat yang sama, media Israel melaporkan adanya penyusunan rencana serangan baru serta pengiriman ribuan persenjataan ke Israel.

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Israel tengah mempersiapkan kemungkinan eskalasi konflik baru dengan Teheran.

Selain menyinggung Iran, Yisrael Katz juga menegaskan operasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon masih terus berlangsung.

Ia mengatakan berbagai infrastruktur yang disebut digunakan untuk aktivitas militer Hezbollah di wilayah perbatasan sedang dihancurkan. 

Menurutnya, Israel ingin memastikan wilayah utara negara itu bebas dari ancaman serangan drone maupun roket dari Lebanon.

Menlu Iran: Kami Tak akan Menyerah pada Tekanan Militer
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan ataupun ancaman militer.

Dalam pertemuan BRICS, Araghchi mengatakan persoalan terkait Iran tidak dapat diselesaikan melalui perang dan menekankan bahwa rakyat Iran tetap menginginkan perdamaian.

"Iran siap berjuang dengan segenap kekuatannya untuk membela kebebasan dan wilayahnya, sekaligus terus mendukung dan mengikuti jalur diplomatik," kata Abbas Araghchi.

Meski demikian, ia memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons “menghancurkan” jika terjadi serangan terhadap negaranya.

Araghchi juga menepis kekhawatiran mengenai penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Ia memastikan selat tersebut tetap terbuka bagi kapal komersial internasional selama ada koordinasi keamanan dengan Angkatan Laut Iran.

Kesepakatan Donald Trump dan Xi Jinping

Ini disampaikan oleh Gedung Putih pada Kamis (14/5/2026), setelah pertemuan puncak AS-Tiongkok di Beijing.

Gedung Putih membagikan pernyataan tentang pembicaraan Trump-Xi, tanpa menyebutkan isu Taiwan, dan secara panjang lebar merujuk pada perang Iran dan Selat Hormuz.

“Kedua pihak membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua negara kita, termasuk memperluas akses pasar bagi bisnis Amerika ke Tiongkok dan meningkatkan investasi Tiongkok ke industri kita."

"Para pemimpin dari banyak perusahaan terbesar Amerika Serikat turut hadir dalam sebagian pertemuan tersebut,” demikian pernyataan itu.

(Tribunkalteng/Tribunnews)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.